Tampilkan postingan dengan label Nanggroe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nanggroe. Tampilkan semua postingan
Apaan itu coronavirus (COVID-19) dan bagaimana cara menghadapinya?

Apaan itu coronavirus (COVID-19) dan bagaimana cara menghadapinya?


Virus baru yang menyerang pernapasan bernama Novel Coronavirus 2019, atau COVID-19 menjadi berita utama seluruh dunia, virus ini menyebabkan wabah penyakit pernapasan di seluruh dunia. Wabah yang dimulai di Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat Cina (Tiongkok) sejak oktober-2019 dan dengan cepat menyebar secara internasional - termasuk ke Indonesia. Ratusan orang menjadi sakit dan pejabat kesehatan masyarakat terus memantau bagaimana virus itu menyebar.

Apa itu coronavirus?

Coronavirus adalah keluarga besar virus yang sebenarnya umum di seluruh dunia dan dapat menyebabkan penyakit pernapasan pada manusia dan hewan. Ada beberapa coronavirus yang diketahui menginfeksi orang dan biasanya hanya menyebabkan penyakit pernapasan ringan, seperti flu biasa. Namun, setidaknya dua koronavirus yang diidentifikasi sebelumnya telah menyebabkan penyakit parah - coronavirus Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) dan coronavirus Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

Apa perbedaan coronavirus (COVID-19)?

Saat coronavirus adalah penyakit umum, coronavirus (COVID-19) adalah jenis baru coronavirus yang sebelumnya tidak diidentifikasi pada manusia. Fitur utama dari COVID-19 adalah gejala pernapasan dengan demam dan batuk. Seperti semua infeksi baru, memahami COVID-19 adalah penting dan berubah dengan cepat. Kemkes secara proaktif memantau virus dan mengambil langkah-langkah seperti memberikan panduan bagi petugas kesehatan dan mengeluarkan rekomendasi perjalanan.

Bagaimana coronavirus menyebar?

Penyelidikan COVID-19 masih berlangsung tetapi virus korona manusia lainnya disebarkan melalui kontak orang-ke-orang. Mirip dengan pilek dan flu, seseorang menjadi sakit karena kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. Virus ini menyebar melalui tetesan pada pernapasan yang dihasilkan oleh orang yang terinfeksi melalui batuk dan bersin atau dengan menyentuh permukaan benda yang ada virus di atasnya.

Apa saja tanda dan gejala coronavirus?

Pada kasus infeksi COVID-19 yang dikonfirmasi, gejalanya meliputi demam, batuk, dan sesak napas dan tingkat keparahannya bervariasi dari yang ringan hingga yang sakit parah. Saat ini, jika Anda 
  • belum bepergian ke daerah yang terinfeksi sebagaimana ditentukan oleh Pemerintah
  • berada dalam kontak dekat dengan seseorang yang diketahui memiliki virus
maka risiko Anda sangat rendah untuk terjangkit virus.

Pada coronavirus lain, tanda-tanda umum infeksi meliputi:
  • hidung meler
  • sakit kepala
  • batuk
  • sakit tenggorokan
  • demam
  • merasa tidak enak badan
  • sesak nafas

Bagaimana saya bisa melindungi diri dari virus korona?

Cara terbaik untuk melindungi diri dari tertular virus korona adalah dengan melakukan kebiasaan sehari-hari yang membantu mencegah penyebaran banyak virus lainya, termasuk flu biasa dan batuk. Cara untuk membantu mencegah penyebaran penyakit, dengan selalu:
  • Hindari kontak dekat dengan orang yang sakit.
  • Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air. Cuci dengan sabun dan air hangat selama 15 detik. Jika sabun dan air tidak tersedia, gunakan antiseptik berbasis alkohol.
  • Jika anda keluar rumah, usahakan memakai masker
  • Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut Anda dengan tangan yang tidak dicuci.
  • Tetap di rumah saat Anda sakit (dan jauhkan anak-anak yang sakit di rumah dari sekolah).
  • Tutupi batuk atau bersin dengan tisu, lalu buang tisu ke tempat sampah dan cuci tangan. Jika Anda tidak memiliki tisu, batuk atau bersin ke lengan atas atau siku, jangan ke jari tangan Anda.
  • Bersihkan dan lakukan disinfektan pada benda dan permukaan yang sering disentuh.

Apa yang harus saya lakukan jika saya sakit dan mengira saya terpapar coronavirus (COVID-19)?

Penting untuk diingat jika Anda belum melakukan perjalanan ke wilayah yang terinfeksi sebagaimana ditentukan Pemerintah atau berada dalam kontak dekat dengan seseorang yang diketahui memiliki virus, maka risiko tertular COVID-19 sangat rendah. Namun, jika anda curiga jikalau anda terkena COVID-19. Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Protokol Kesehatan terkait pandemi virus corona atau COVID-19. Protokol ini dilaksanakan di seluruh Indonesia dengan dipandu secara terpusat oleh Kementerian Kesehatan.

Protokol Kesehatan ini juga berdasarkan Surat Edaran Menteri Kesehatan nomor HK.02.01/MENKES/199/2020 tentang Komunikasi Penanganan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Dikutip dari laman milik Kementerian Kesehatan, Sehat Negeriku pada Selasa (17/3/2020), berikut ini protokol kesehatan yang harus dilakukan masyarakat apabila mengalami gejala COVID-19:

1. Jika Anda merasa tidak sehat dengan kriteria:
  • Demam lebih dari 38°C; dan
  • Batuk/ pilek/nyeri tenggorokan,
Istirahatlah yang cukup di rumah, hindari bepergian dan minum air yang cukup. Bila tetap merasa tidak nyaman, keluhan berlanjut, atau disertai dengan kesulitan bernapas (sesak atau napas cepat), segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Pada saat berobat ke fasilitas layanan kesehatan, Anda harus lakukan tindakan berikut:
  • Gunakan masker.
  • Apabila tidak memiliki masker, ikuti etika batuk/bersin yang benar dengan cara menutup mulut dan hidung dengan tisu atau lengan atas bagian dalam.
  • Usahakan tidak menggunakan transportasi massal ketika bepergian.
2. Tenaga kesehatan (nakes) di fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) akan melakukan screening /skrining pasien dalam pengawasan COVID-19:
  • Jika memenuhi kriteria pasien dalam pengawasan COVID-19, maka Anda akan dirujuk ke salah satu rumah sakit (RS) rujukan.
  • Jika tidak memenuhi kriteria pasien dalam pengawasan COVID-19, maka Anda akan dirawat inap atau rawat jalan tergantung diagnosa dan keputusan dokter fasyankes.
3. Jika akan diantar ke RS rujukan menggunakan ambulans fasyankes, Anda akan didampingi oleh nakes yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

4. Di RS rujukan, bagi yang memenuhi kriteria pasien dalam pengawasan COVID-19 akan dilakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium dan dirawat di ruang isolasi.

5. Spesimen akan dikirim ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Jakarta. Hasil pemeriksaan pertama akan keluar dalam waktu 1 x 24 jam setelah spesimen diterima.

Jika hasilnya positif :
  • Maka Anda akan dinyatakan sebagai kasus konfirmasi COVID-19.
  • Sampel akan diambil setiap hari.
  • Anda akan dikeluarkan dari ruang isolasi jika pemeriksaan sampel 2 (dua) kali berturut-turut hasilnya negatif.
  • Jika hasilnya negatif, Anda akan dirawat sesuai dengan penyebab penyakit.
Jika Anda sehat, namun:
  • Ada riwayat perjalanan 14 hari yang lalu ke negara dengan transmisi lokal COVID-19, lakukan self monitoring melalui pemeriksaan suhu tubuh 2 kali. Jika muncul demam lebih dari 38°C atau gejala pernapasan seperti batuk/pilek/nyeri tenggorokan/sesak napas, segeralah periksakan diri Anda ke fasyankes.
  • Merasa pernah kontak dengan kasus konfirmasi COVID-19
segeralah melapor ke petugas kesehatan dan periksakan diri Anda ke fasyankes. Selanjutnya, Anda akan diperiksa spesimennya.

Sumber Informasi :
2. SehatNegriku (Kementrian Kesehatan RI)
Kisah Panglima GAM Ishak Daud, Pembunuhan Dayan Dawood, Hingga Suara Azan Hambali

Kisah Panglima GAM Ishak Daud, Pembunuhan Dayan Dawood, Hingga Suara Azan Hambali



BANDA ACEH - Kisah tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), alm Tengku Ishak Daud, Rektor Unsyiah alm Prof Dayan Dawood dan kisah tragis Hambali yang meninggal dalam kobaran api menjadi berita paling tinggi pembacanya di portal Serambinews.com.
Daftar berita tersebut berada pada urutan 5 berita populer Serambinews.com selama sepekan.
Tokoh GAM Ishak Daud menjadi fokus pembaca karena pada 8 September kemarin genap 15 tahun, Panglima GAM Wilayah Peureulak tersebut meninggal dalam kontak tembak dengan pasukan TNI di pedalaman Aceh Timur.
Kisah hidup di garis depan Sang Panglima seolah membawa kembali publik Aceh pada pengalaman kelam saat Aceh didera konflik bersenjata.
Linear dengan itu, kisah Rektor Unsyiah Prof Dayan Daud yang meninggal ditembak pada masa konflik Aceh juga banyak menuai empati pembaca dan netizen.
Kasus pembunuhan cendikiawan Aceh itu hingga kini tidak pernah terungkap, terutama aktor di balik peristiwa memilukan publik Aceh itu.
Dua berita lainnya yang juga mendulang banyak pembaca, yaitu soal massa di Subulussalam yang merusak mobil Isuzu MUX dan kisah pengabdian seorang dokter asal Aceh di pedalaman Papua.
Berikut ini redaksi Serambinews.com menyajikan kembali kelima berita yang populer di kanal Nanggroe Serambinews.com tersebut.
1. Kisah Syahidnya Panglima GAM Ishak Daud.
Almarhum Ishak Daud saat bersama masyarakat di Aceh Timur.
Almarhum Ishak Daud saat bersama masyarakat di Aceh Timur. (SERAMBINEWS.COM/Screen shot Youtube AchehNational)
Sejak diterbitkan pada Minggu, 8 September 2019, berita ini langsung melejit di Portal Serambinews.com.
Inilah kisah humanis Sang Panglima yang amat disegani dan dihormati di kalangan GAM.
Namun, takdir berkata lain, cita-cita perjuangan Ishak Daud harus terhenti di medan perang.
Ia syahid dalam pertempuran dengan pasukan TNI di pedalaman Aceh Timur.

Ikut juga istrinya Cut Rostina yang sedang hamil syahid di sisinya dalam pertempuran terakhir itu.
Baca Halaman Selengkapnya Ishak Daud Meninggal dalam Perang ...
2. Pembunuhan Rektor Unsyiah Prof Dayan Dawood.
Almarhum Dayan Dawood
Almarhum Dayan Dawood (Dokumen Unsyiah)
Kasus pembunuhan Prof Dayan Dawood mengemparkan publik Aceh.
Kasus ini terjadi di tengah konflik Aceh sedang mendidih.
Dayan Daud ditembak orang tidak dikenal sepulang dari bertugas di Kampus Unsyiah.
Hingga kini kasus meninggalnya Sang Rektor masih berbalut misteri.
Halaman Halaman Selengkapnya Dayan Dawood Meninggal Ditembak...
3. Hambali Kumandangkan Azan di Tengah Kobaran Api.
Kondisi rumah yang terbakar dan menyebabkan Hambali (19) warga Babah Buloh, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, meninggal saat api membakar rumah tersebut, Rabu (4/9/2019).
Kondisi rumah yang terbakar dan menyebabkan Hambali (19) warga Babah Buloh, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, meninggal saat api membakar rumah tersebut, Rabu (4/9/2019). (DOK POLSEK SAWANG DIKIRIM UNTUK SERAMBINEWS.COM)
Kisah amat memilukan terjadi pada sosok lelaki Hambali.
Insiden memilukan ini terjadi di Desa Babah Buloh, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Rabu (4/9/2019) pukul 04.00 WIB.
Satu sebuah rumah bantuan untuk Fauziah (37), janda anak enam terbakar.
Saat terjadinya kebakaran tersebut, ikut menghanguskan anak keduanya, Hambali (37) hingga meninggal dunia.
Baca Halaman Selengkapnya Azan Sebelum Maut Menjemput...
4. Massa Rusak Mobil Isuzu MUX di Dah Subulussalam.
Kondisi mobil milik pria berinisial BB yang mengaku pemilik tanah lokasi pembangunan jembatan Dah, Kecamatan Rundeng, Kota Subulusalam, setelah dirusak massa, Minggu (1/9/2019), saat diamankan di Mapolsek Rundeng.
Kondisi mobil milik pria berinisial BB yang mengaku pemilik tanah lokasi pembangunan jembatan Dah, Kecamatan Rundeng, Kota Subulusalam, setelah dirusak massa, Minggu (1/9/2019), saat diamankan di Mapolsek Rundeng. (FOR SERAMBINEWS.COM)
Berita ini juga cukup menyita perhatian pembaca.
Ceritanya berawal dari insiden keributan antara masyarakat dengan pria yang berujung pada pengrusakan satu mobil di Desa Dah, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Minggu (1/9/2019).
Pria tersebut mengaku sebagai pemilik tanah lokasi pembangunan jembatan di desa tersebut.
5.Kisah Dokter Asal Aceh di Papua.
Di Pedalaman Papua Dokter Fajri Nurjamil (33) memberi pelayanan kesehatan kepada salah satu warga di pedalaman Papua, Jumat (30/8/2019).
Di Pedalaman Papua Dokter Fajri Nurjamil (33) memberi pelayanan kesehatan kepada salah satu warga di pedalaman Papua, Jumat (30/8/2019). (IST)
Kisah humanis ini menjadi viral di media sosial.
Ada seorang dokter asal Aceh yang mengabiskan waktunya di pedalaman Papua untuk mengobati masyarakat.
"Apa yang saya alami selama 7 tahun bertugas untuk Tanah Papua, membuat saya berat untuk meninggalkan mereka," tuturnya.
Dokter itu bernama Fajri Nurjamil, pemuda kelahiran Beureunuen Kabupaten Pidie, yang juga jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama, Aceh Besar.
Sumur Tua, Jejak James Siegel di Aceh

Sumur Tua, Jejak James Siegel di Aceh



ZULKIFLI, M.Kom, Akademisi  Umuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Beureunuen , Pidie
PROFESOR James Siegel, kelahiran Amerika Serikat 10 Februari 1937, merupakan Guru Besar Antropologi dan Studi Asia di Cornell University. Ia dikenal sangat dekat dengan tokoh sentral DI/TII dan Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo  (1945-1953), yakni Tgk Daud Beureueh.
Jebolan Universitas California ini bersama istrinya, Sandra, wanita berkebangsaan Prancis, tahun 1962-1964 pernah  tinggal di Aceh, menetap di rumah almarhum Abdurrahman Basyah (Armas) di Gampong Lada, Kecamatan Mutiara Timur (Beureunuen), Kabupaten Pidie.
Minggu lalu saya bersilaturahmi dengan pemilik rumah, Hj Mariah binti Pardan (84). Walau sudah uzur, nenek yang punya 28 cucu ini masih kuat ingatannya. Dengan penuh semangat ia bercerita tentang kisah kehidupan James Siegel selama menetap di rumahnya.
Didampingi putra bungsunya, Amir Armas, Hj Mariah menceritakan  kisah James Siegel  tinggal  di rumah Aceh miliknya. Rumah tersebut mempunyai 12 tiang (tameh). Menurut Hj Mariah, rumahnya ditunjuk sebagai tempat tinggal Siegel atas arahan Abu Daud Buereueh, tokoh utama dalam pemberontakan DI/TII Aceh yang menjadi objek penelitian Siegel.
Saat menetap di Gampong Lada, Siegel didampingi (alm) Prof Dr Amin Aziz yang bertindak sebagai penerjemah, karena saat itu Siegel  masih kurang lancar bahasa Acehnya. Amin Azis  merupakan putra Aceh pakar ekonomi syariah yang sukses di Jakarta.
Rumah Abu Daud Buereueh lebih kurang hanya 1 kilometer dari rumah Siegel menumpang. Menurut Amir Armas yang saat itu masih kelas 5 SD, jejak keberadaan Siegel di rumah orang tuanya berupa sebuah sumur tua. Sumur itu digali khusus saat Siegel menetap bersama istrinya. “Sumur itu keluarga kami yang bangun. Tapi saat pembangunan Siegel ikut membantu tukang mengangkat batu bata,” ungkap Amir Armas.
Sumur itu berukuran 4x3 meter, tinggi dinding betonnya 1,80 m, kedalamannya 7 cincin. Di dinding dalam sumur itu ada tertera tulisan James & Sandra Siegel, Nov, 24,1963 dan alamat Siegel di Amerika.
Sumur itu kini berdiri kokoh di sudut kiri halaman rumah  Hj Mariah di Desa Gampong Lada, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie.
 Anak kedua dari pemilik rumah itu, yakni Ir Hasbi Armas (61), mantan sekretaris Partai Demokrat Aceh juga menambahkan kisah tentang Siegel. Menurutnya, masyarakat memanggil James Siegel dengan“Teungku Puteh”, di samping ada juga menyapanya Teungku Jiem. “Ini bagian dari adat dan cara orang Aceh menghormati dan memuliakan tamu,” jelas Hasbi Armas.
Saat tinggal di Gampong Lada,  Siegel dekat dan pandai bergaul dan mengambil hati masyarakat. Ia terbiasa menyapa warga kampung dengan sapaan yang khas, seperti: Utoh Samad, Geuchik Rasyid, Imum Sabi, Chiek Mud, Toke Usuh, Mat Sehak, Polem Husen, Apa Kaoy, Apa Don, Cupo Mariah, Cupo Bungsu, Cupo Minah, Cupo Baren, dan Mawa Sani. Tiap kali berjumpa orang kampung, dengan fasih ia sapa nama dan panggilan mereka.
Bukti lain Siegel pernah tinggal di desa tersebut juga dapat disimak dalam buku karangannya berjudul The Rope of God (Berpegang pada Tali Allah). Buku  ini menceritakan kehidupannya selama tinggal di Gampong Lada Beureunuen dan Aceh secara umum. Juga berisi  informasi pemikirannya tentang sejarah, politik, kehidupan keagamaan, adat istiadat masyarakat Aceh serta pandangannya sebagai seorang warga asing. Buku itu juga berisi kekagumannya pada sosok Daud Beureueh yang memimpin pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Aceh.
Warga desa generasi kelahiran ‘50-an ke bawah masih sangat kental ingatan dan kenangannya terhadap James Siegel. Asal disingung soal Siegel mereka langsung terbayang kenangan masa lalu, sambil bercerita tentang sumur tua tersebut.  Apayeuk Don, warga setempat, bercerita kepada saya tentang pribadi Siegel, "Jiem sangat  dekat dan berbaur dengan masyarakat kampung, baik kerja udep dan kerja matee di gampong dia selalu hadir."
Siegel juga ikut bersama masyarakat menghadiri kanduri maulid di meunasah desa tetangga. Begitu juga kalau ada orang meninggal, Tgk Puteh bersama masyarakat ikut melayat. Bahkan kalau ada gotong royong di sawah dan kanduri dia juga hadir berbaur dengan masyarakat.
Siegel juga pandai bergaul dengan anak muda. Pernah pada suatu pagi dia pergi ke meunasah melihat anak muda tidur di meunasah. Siegel menjumpai anak muda yang baru bangun tidur, lalu ia bertanya,  “Peu na lumpou buklam? (Ada mimpi apa tadi malam)?”
Siapa yang menjawab ada mimpi dan menceritakan mimpinya, Siegel langsung memberikan  uang sekadar minum kopi dan sarapan pagi. Tidak ada yang tahu tabir mimpi tersebut, sehingga Siegel membernya uang.  Besoknya,  semua  yang tidur di meunasah merekayasa dan melaporkan mimpinya kepa Siegel dengan tujuan agar mendapat uang kopi pagi, seperti diceritakan Rahmad Rasyid bersama Amir Armas yang kebetulan pernah juga keciprat “uang mimpi” dari Siegel.
Siegel pernah  cukup lama meninggalkan Aceh. Tapi  pascatsunami 2004 Siegel kembali mengunjungi rumah tersebut sambil melihat sumur yang telah menjadi bagian dari sejarah kehidupannya bersama sang istri. Semua ini membuktikan kecintaannya terhadap masyarakat Aceh. “Kalaulah Siegel masih ada, saya ingin mengunjunginya, sekadar menyambung silaturahmi sambil memberikan bungong jaroe ala kadarnya, seperti kebiasaan orang Aceh mengunjungi orang tua atau pun orang sakit,” ujar Rosda Armas, anak Hj Mariah yang menetap di Medan.
APBA; Masalah Kemiskinan Aceh

APBA; Masalah Kemiskinan Aceh



Taufiq Abdul Rahim
Ketua LP4M Unmuha dan Pengajar FISIP Unsyiah
Kehidupan masyarakat Aceh jika dikaitkan dengan analisis kebijakan publik (public policy analysis), ini tidak terlepas dari isu kemiskinan, yang seringkali dikaitkan sebagai salah satu makna dalam terminologi "isu", bukanlah seperti apa yang umumnya dipahami masyarakat awam dalam perbincangan sehari-hari. Dalam pebincangan di tengah kehidupan masyarakat, seringkali salah kaprah dalam menerjemahkan isu bernilai negatif serta mengada-ada (hoax).
Sebagai suatu istilah biasanya diartikan dengan "kabar burung", namun demikian ada juga yang menyatakan, hal ini jangan dipercaya, itu cuma isu. Namun pada realitas kehidupan, kemiskinan itu bukan isu, tetapi ini realitas kehidupan yang dihadapi masyarakat serta harus diakui dalam konteks kebijakan publik.
Hal ini menurut Anderson (1975; 1990) disebut sebagai policy problem (masalah kebijakan), yaitu; suatu kondisi atau situasi yang menimbulkan ketidakpuasan di kalangan rakyat sehingga memerlukan solusi segera. Oleh karena itu, masalah kemiskinan di Aceh sebesar 16,79 persen dari sekitar 5 juta penduduk, jika dinilai rata-rata persentase kemiskinan seluruh Indonesia sebesar 9,79 persen. Selanjutnya jumlah pengangguran di Aceh sekitar 880 ribu lebih, terutama tenaga kerja terampil dan vokasional yang mendominasi tenaga kerja lulusan sekolah menengah kejuruan. Hal ini bukan isu, tetapi permasalahan yang berlaku serta harus diselesaikan secara baik, konsisten serta bertanggung jawab. Dalam analisis kebijakan publik, hal ini menduduki posisi sentral serta krusial yakni adanya kesadaran akan masalah tertentu. Namun demikian, pada situasi lainnya, awal dimulainya proses pembuatan kebijakan publik juga berlangsung karena adanya masalah tertentu yang sudah lama dipersepsikan sebagai "belum pernah tersentuh" ataupun ditanggulangi melalui kebijakan pemerintah. Sehingga diperlukan perhatian serius untuk membangkitkan semangat menyelesaikan permasalahan kebijakan publik yang dapat menyelesaikan masalah yang sekadar dianggap isu tadi.
Isu kebijakan publik berhubungan dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA), ini bukan hanya sekedar menyelesaikan isu, namun lazimnya merupakan produk politik dan kebijakan menyelesaikan atau berfungsi dari adanya perdebatan. Dunn (1990) menyatakan, kebijakan fungsi dari perdebatan, baik tentang rumusan, rincian, penjelasan, maupun penilaian atas sesuatu masalah tertentu. Pada sisi lain kebijakan berkaitan dengan isu, yaitu bukan hanya mengandung makna adanya masalah atau ancaman, tetapi juga peluang-peluang bagi tindakan positif tertentu dan kecenderungan-kecenderungan yang dipersepsikan sebagai nilai potensial yang signifikan (Hogwood dan Gunn, 1986). Sehingga ini menjadi kebijakan alternatif (alternative policies) sebagai suatu proses untuk menciptakan kebijakan yang baru, atau kesadaran suatu kelompok mengenai kebijakan-kebijakan tertentu yang dianggap bermanfaat (Alford dan Friendland, 1990).
Karena itu, timbul isu kebijakan publik terutama karena telah terjadi konflik atau perbedaan persepsional di antara para aktor politik, baik eksekutif (gubernur), legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat (di Aceh DPRA), dan para birokrasi Kementrian/Dinas (Satuan Kerja Pemerintah Aceh/SKPA) yang terkait, atas suatu situasi problematik yang dihadapi dengan pemanfaatan dana APBA yang diperuntukkan serta dihadapi untuk kepentingan masyarakat.
Dalam hal ini, masalah kemiskinan sebagai nilai (value) terhadap kebijakan merupakan diskursus bagi analisis kebijakan publik, sehingga esensi kebijakan secara umum akan menyentuh aspek metapolicy, karena menyangkut hakikat atau substansi kehidupan masyarakat yang kerap diperbincangkan. Di samping itu perspektif, sikap dan perilaku aktor politik yang bersembunyi di balik kepentingannya masing-masing, ataupun secara terbuka dari para aktor yang bertanggung jawab dalam perumusan atau pembuatan kebijakan publik (Hodgkinson, 1978). Oleh karena itu sebaiknya yang berkaitan dengan perumusan, penetapan serta keputusan memanfaatkan dana anggaran belanja publik dari APBA, ini merupakan metapolicy menjadi sangat penting untuk diselesaikan, terutama dapat menyelesaikan serta mengentaskan kemiskinan, meskipun pengaruh aktivitas ekonomi serta permasalahan penyelesaian masyarakat tidak terlalu besar signifikansinya.
Namun demikian, minimal ikut mendorong menyelesaikan permasalahan kemiskinan melalui pemanfaatan anggaran belanja publik APBA yang sering sekali menjadi rebutan baik eksekutif (Gubernur), legislatif (DPRA) dan juga para pemangku pelaksana proyek serta program kebijakan dari pada Dinas atau SKPA di Aceh. Ini terlepas dari "kerakusan" ingin menguasai anggaran belanja publik yang semestinya mengatasi persoalan masyarakat serta perebutan bahkan penguasaan dana anggaran belanja APBA yang berlaku secara kasat mata, atau mempertahankan "egosentris" sebagai penguasa yang mampu menentukan penggunaan anggaran tersebut dicairkan ataupun ditahan, karena kepentingan politik dan kekuasaan masing-masing. Sehingga nilai (value) etika, moral serta perilaku aktor politik semakin terlihat dalam pandangan serta perspektif masyarakat siapa yang ingin menguasai anggaran serta "unjuk gigi" kekuasaan politik yamg sangat menentukan terhadap penggunaan anggaran publik tersebut.
Anggaran belanja APBA yang selama ini menjadi perhatian publik serta menjadi polemik adalah berkenaan dengan dana hibah serta sosial sebesar 1,8 triliun rupiah, dari APBA Rp 17,1 triliun, ini sudah disahkan pada APBA 2019 pada Desember 2018. Namun sampai saat ini belum bisa dicairkan dengan berbagai alasan, baik logis, politis maupun alasan ketidaklengkapan persyaratan terhadap berbagai program dan proyek sebagiannya adalah dana aspirasi (pokok pikiran/pokir) DPRA.
Sebagian besar dana anggaran belanja ini adalah untuk pembangunan perbaikan mushalla, masjid, infrastruktur desa (jalan, jembatan, riol, pagar) serta belanja lainnya di pedesaan. Alasan masing-masing pihak baik logis, politis dan berhubungan langsung dengan masyarakat desa, pinggiran dan marginal, dapat saja diasumsikan akan membantu aktivitas perekonomian serta kehidupan masyarakat desa ataupun sedikit mendorong aktivitas sektor penggunaan tenaga kerja di pedesaan serta sektor ril sebagai pendukung.
Namun, cerita anggaran belanja APBA 2019 ini semakin rumit sehingga memicu konflik dan perseteruan serta berpotensi menciptakan "disharmonisasi" antara eksekutif, legislatif dan para kepala dinas atau SKPA, juga berbagai pihak yang berkepentingan dengan anggaran dana tersebut. Seolah-olah ada yang disembunyikan terhadap dana anggaran belanja APBA ini, juga misteri atau sangat sulit diungkapkan siapa yang menguasai dan menentukan agar dana publik itu dapat dicairkan.
Jika dilihat kondisi ekonomi Aceh saat ini apakah ada pengaruh penggunaan anggaran belanja ataupun tidak, karena masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari bersifat "subsistences" dalam menyelesaikan serta mengatasi kehidupan ekonominya. Jika dilihat gambaran pertumbuhan ekonomi Aceh saat ini sekitar 4,19 persen, sementara itu inflasi yang berlaku di Aceh sekitar 4,9 persen lebih, hal ini secara rasional dan ekonomis kehidupan masyarakat dapat dikatakan merugi. Ini juga menunjukkan bahwa daya beli (purchasing power parity) sangat lemah serta rendah, sehingga sangat tidak mampu melakukan secara stimulus pertumbuhan serta perkembangan ekonomi yang lebih baik.
Apabila kehidupan, pertumbuhan serta kehidupan ekonomi masyarakat Aceh berdasarkan dari anggaran belanja APBA, selanjutnya juga ada Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) sekitar Rp 45 triliun semestinya beredar di Aceh 2019, maka menjadi masalah "uang bocor", kemiskinan yang masih tinggi di Aceh. Ini erat kaitannya dengan kebijakan publik yang masih tidak efektif sehingga permasalahan tidak terselesaikan, tidak teratasi serta tidak terentaskan.
Pisang Rakit, Makanan Ringan yang Melejit

Pisang Rakit, Makanan Ringan yang Melejit



Disebut pisang rakit, karena makanan ringan ini terbuat dari pisang jenis wak yang diiris tipis-tipis. Kemudian irisan pisang dilengketkan, sehingga bentuknya menjadi lebar ibarat rakit (perahu).
Makanan ringan yang memiliki cita rasa lezat, enak, gurih, dan rapuh berasal dari Lamno, Aceh Jaya. Setelah irisan pisang dilengketkan, selanjutnya dijemur. Setelah kering baru digoreng dengan dibalur tepung terigu. Meski terkesan mudah cara membuat pisang rakit ini, namun tidak semua orang mampu membuat pisang rakit tersebut.
Adalah Asri Dahlia (43), Ketua Perajin Usaha Pisang Rakit di Kompleks Perumahan Indrapatra, Gampong Ladong, Aceh Besar, yang tergolong mahir membuat pisang rakit. Pengungsi korban tsunami asal Lamno, Aceh Jaya, ini kepada Serambi menjelaskan, ide pembuatan makanan tringan ini ini terinspirasi dari rakit yang ada di Lambeuso, Lamno.
Sebelum USAID membangun jembatan rangka baja Lambeuso pada tahun 2008 pascatsunami, kendaraan maupun warga yang hendak berpergian ke Meulaboh harus naik rakit untuk menyeberang sungai di Lambeuso.
Lebar sungainya sekitar 100 meter, namun arusnya tergolong deras karena langsung bermuara ke Lautan Hindia. Penyeberangan pun harus menggunakan rakit yang digerakkan oleh mesin boat tempel berkekuatan 25 PK.
Sebelum nama pisang rakit terkenal, kata Asri Dahlia, makanan ringan itu dikenal dengan gorengan pisang wak. Karena banyak warga yang menjual pisang itu di rakit, maka makanan camilan itu diberi nama pisang rakit. Namun tersebut menjadi populer hingga kini.
Setiap menjelang Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, permintaan pisang rakit bisa naik 10 kali lipat dari biasanya. Kendati permintaan meningkat, tapi harga jual pisang rakit untuk dijual ke pengumpul dan pengecer, hanya Rp 1.500/keping.
Di Kompleks Perumahan Indrapatra, Gampong Ladong, Aceh Besar ini, kata Asrida, pisang rakit di produksi oleh empat kelompok dari 100 KK yang bermukim di perumahan pengungsi tsunami. Ini artinya, tidak semua ibu-ibu di kompleks mampu membuat pisang rakit. Pisang rakit ini harus dikerjakan dengan sabar, teliti dan tekun.
Bahan baku pisang rakit yaitu pisang wak. Pisang jenis ini tidak begitu sulit didapatkan. Di seluruh pasar, seperti Pasar Lambaro, Ulee Kareng dan Peunayong pisang ini mudah didapatkan dan harganya juga tidak terlalu mahal. Seperti dikatakan Asrida, untuk bahan baku senilai Rp 1 juta, bisa menghasilkan omset penjualan Rp 3 juta.
Dikurangi ongkos kerja dan bahan, keuntungannya mencapai Rp 750.000 untuk satu kali penggorengan. Bahan baku senilai Rp 1 juta itu dikerjakan oleh 4-5 orang dalam tiga hari. Ini artinya dalam satu bulan bisa delapan kali beli pisang wak untuk bahan baku pisang rakit.
Meilani, perajin pisang rakit menambahkan, produksi pisang rakit dari Ladong meningkat setelah pihak Bank Aceh Syariah memberikan pinjaman bunga lunak Rp 10 juta/kelompok. Pinjaman lunak itu sebagian digunakan untuk beli bahan baku, dan sebagian lagi digunakan untuk biaya sekolah dan kuliah anak.
"Dari penjulan pisang rakit kami bisa menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi. Bahkan sudah ada yang selesai S-1 dan melanjutkan pendidikan ke luar negeri seperti ke Australia," tutur Asri Dahlia.
Kesuksesan para perajin pisang rakit itu juga disampaikan Kabag Pembiayaan dan Komersil Bank Aceh Syariah, Ilham Novizal dan Account Officer Mikro, Yudi Julian. Keduanya mengaku senang bisa bermitra dengan para perajin pisang rakit Ladong, karena selalu tepat waktu menyetor cicilan pinjaman.
"Kita terus akan membina dan memberikan bantuan kredit lunak IKM kepada perajin pisang rakit Ladong, sesuai dengan perkembangan omset penjualan produk yang sudah meluas ke luar Aceh," pungkas Yudi.(her)
Kisah Pilu Cut Nyak Dien, Pahlawan yang Makamnya Ditemukan 50 Tahun Setelah Gugur

Kisah Pilu Cut Nyak Dien, Pahlawan yang Makamnya Ditemukan 50 Tahun Setelah Gugur



Cut Nyak Dhien, merupakan salah satu pahlawan yang berasal dari tanah rencong.
Ia dikenal gigih dalam melawan penjajah Belanda, hingga akhirnya ia diasingkan ke luar Aceh.
Walaupun berasal dari keluarga bangsawan tidak membuat Cut Nyak Dien memilih hidup nyaman.
Ia adalah sosok yang peka terhadap pederitaan rakyat Aceh akibat penjajahan Belanda. Dan karena itulah ia memutuskan mengangkat senjata.
Cut Nyak Dien lahir pada 1848 dan berasal dari keluarga bangsawan yang sangat taat beragama.
Ayahnya Teuku Nanta Seutia, seorang ulebalang (panglima perang) VI Mukin.
Ia juga diketahui sebagai keturunan langsung Sultan Aceh—jika dilihat dari garis ayahnya.
Lukisan
Perang Aceh
.
Cut Nyak Dien menikah pada usia masih belia pada tahun 1862, dengan Teuku Ibrahim Lamnga dan memiliki seorang anak laki-laki.
Ketika Perang Aceh meletus pada 1873, Cut Nyak Dien memimpin perang di garis depan melawan pasukan Belanda yang bersejata lebih lengkap.
Cut Nyak Dien dikenal sebagai panglima perang yang tangguh di wilayah VI Mukin.
Setelah bertahun-tahun bertempur, pasukan yang dipimpin Cut Nyak Dien makin terdesak.
Demi menghindari kejaran pasukan Belanda, keluarga Cut Nyak Dien lalu memutuskan mengungsi ke daerah yang makin terpencil dan terus mengobarkan semangat pertempuran.
Tapi dalam pertempuran sengit di kawasan Sela Glee Tarun, Teuku Ibrahim gugur.
Kendati suaminya gugur, Cut Nyak Dien bertekad untuk terus melanjutkan perjuangannya melawan kolonial Belanda dengan semangat yang makin berapi-api.
Kebetulan sewaktu menyelenggarakan upacara penguburan Teuku Ibrahim, Cut Nyak Dien bertemu dengan Teuku Umar yang kemudian menjadi suami sekaligus rekan seperjuangan.
Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dien berhasil membangun kekuatan kembali dan mampu menghancurkan markas Belanda di sejumlah tempat.
Namun, berkat taktik liciknya, Belanda kembali mendesak pasukan Cut Nyak Dien dan Teuku Umar.
Makam Cut Nyak Dien di Sumedang.
Di tengah perang yang berkecamuk, pasangan Cut Nyak Dien dan Teuku Umar mempunyai seorag putri Cut Gambang yang ketika dewasa dinikahkan dengan Teuku Di Buket, putra Teuku Cik Di Tiro yang juga pejuang dan pahlawan Aceh.
Dalam perjalanan hidup mereka, anak dan menantu Cut Nyak Dien itu akhirnya juga gugur di medan perang.
Ujian berat kembali dialami Cut Nyak Dien ketika pada 11 Februari 1899 Teuku Umar gugur.
Tapi semangat tempurnya tetap menyala-nyala dan ia bertekad berjuang sampai titik darah penghabisan.
Sementara itu Belanda yang mengetahui kekuatan pasukan Cut Nyak Dien kian melemah dan hanya bisa menghindar dari hutan-hutan terus melancarkan tekanan.
Akibatnya kondisi fisik dan kesehatan Cut Nyak Dien makin melemah namun ia tetap melanjutkan pertempuran.
Melihat kondisinya seperti itu, panglima perang Cut Nyak Dien, Pang Laot Ali, menawarkan menyerahkan diri ke Belanda.
Tapi Cut Nyak Dien justru marah sekali dan menegaskan untuk terus bertempur.
Akhirnya Cut Nyak Dien berhasil ditangkap oleh pasukan khusus Belanda yag dipimpin oleh Letnan van Vurren.
Seperti biasa setelah ditangkap, dan untuk menghindarkan pengaruhnya terhadap masyarakat Aceh, Cut Nyak Dien diasingkan ke Pulau Jawa, tepatnya ke daerah Sumedang, Jawa Barat.
Di tempat pengasingannya, Cut Nyak Dien yang sudah renta dan mengalami gangguan penglihatan itu lebih banyak mengajar agama.
Ia tetap merahasiakan jati diri yang sebenarnya sampai akhir hayatnya.
Cut Nyak Dien wafat pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Sumedang.
Makam Cut Nyak Dien baru diketahui secara pasti pada 1960 atau sekitar 50 tahun setelah kematiannya. Waktu itu, Pemda Aceh memang sengaja menelusuri kuburannya.
Perjuangan Cut Nyak Dien bahkan membuat seorang penulis  dan sejahrawan Belanda, Ny Szekly Lulof kagum dan menggelarinya Ratu Aceh.