Tampilkan postingan dengan label Nanggroe-Aceh Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nanggroe-Aceh Utara. Tampilkan semua postingan
Banjir di Aceh Utara Surut, Ratusan Warga Desa Kumbang Syamtalira Aron Masih Mengungsi

Banjir di Aceh Utara Surut, Ratusan Warga Desa Kumbang Syamtalira Aron Masih Mengungsi


Lhoksukon - Banjir yang merendam ribuan rumah di tujuh kecamatan di Kabupaten Aceh Utara akibat meluap air sungai, mulai surut pada Minggu (18/11/2018) sore.

Kecamatan yang diterjang banjir luapan tersebut masing-masing Sawang, Geureudong Pase, Meurah Mulia, Samudera, Syamtalira Aron, Matangkuli dan Tanah Luas.

Namun, ratusan warga di Desa Kumbang, Kecamatan Syamtaliran Aron, Aceh Utara hingga Minggu (18/11) malam, mengungsi di tiga tenda darurat dan di balai pengajian desa setempat meskipun banjir sudah surut.

Banjir di Matangkuli Mulai Parah, Seribu Lebih Warga Sudah Mengungsi  

Sebagian warga mengungsi karena memang tidak berani pulang ke rumah sebelum tanggul sungai yang jebol tersebut diperbaiki.

Dari 7 Kecamatan di Aceh Utara Teredam Banjir, Matangkuli Terparah, Ini Lokasi Pengungsi

“Ada di 32 KK di Dusun Baro, warga tak berani pulang ke rumah. Sebab banjir bisa terjadi kapan saja jika tanggul belum diperbaiki,” ujar Keuchik Kumbang, Zulkarnaini. Jumlah warga yang mengungsi mencapai 400 lebih.(*)
Ini Identitas Empat Korban Ditabrak Mobil Yaris Setelah Terobos Razia di Lhoksukon

Ini Identitas Empat Korban Ditabrak Mobil Yaris Setelah Terobos Razia di Lhoksukon


Lhokseukon - Mobil Toyota Yaris BK 1208 IL yang disopiri Rahman (25) warga Desa Leles Kecamatan Serbajadi Aceh Timur, menghantam empat kenderaan di jalan nasional depan Pos Lantas Pantonlabu Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Kejadian itu setelah menerobos razia polisi di kawasan Lhoksukon, Selasa (24/9/2018) sekira pukul 15.40 WIB.

Empat kenderaan tersebut adalah mobil patroli Lalu lintas pikap jenis Isuzu Panther nomor polisi 164-42 yang disopiri syafi'i Lubis.

Lalu Mobil Honda CRV, BL 1173 RZ, yang disopiri Abdullah (39) pedagang asal Desa Bantayan Kecamatan Idi Rayek, Aceh Timur.

Kemudian dua sepeda motor (sepmor), yaitu sepmor Honda Supra X 125 BL 4593 QI yang dikenderai Abdul Samad Jalil (50) warga Desa Paya Naden Kecamatan Madat, Aceh Timur.

Satu lagi sepmor Honda Scoopy BL 4530 JS yang dikenderai Tarmizi (38) PNS asal Teupin Gajah Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Lantas Iptu Sandy Titah Nugraha kepada Serambinews, menyebutkan, setelah kejadian tersebut petugas langsung mengamankan sopir mobil yaris tersebut untuk dimintai keterangan terkait kasus tabrakan tersebut dan menerobos razia.

“Malam ini petugas akan memeriksa Rahman terkait kenapa dia menerobos razia dan menabrak mobil polisi dan tiga kenderaan lainnya,” ujar Kasat Lantas.
Tim Saber Pungli Aceh OTT Pejabat Disdikbud Aceh Utara

Tim Saber Pungli Aceh OTT Pejabat Disdikbud Aceh Utara


Lhoksukon - Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Aceh yang terdiri atas staf Kejati dan Polda Aceh pada Selasa (18/9) siang melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Utara.

Pejabat yang berkedudukan sebagai kepala bidang (kabid) di dinas itu berinisial H, seorang perempuan, berumur sekitar 40-an. Ia diduga melakukan pungli terhadap Kepala Pendidikan Anak Usia Dini dan Taman Kanak-Kanak (PAUD/TK) yang mengelola Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP PAUD) yang bersumber dari APBN.

Informasi yang diperoleh Serambi, Tim Saber Pungli Aceh mendapat informasi tentang adanya pungutan liar dari kepala PAUD/TK dalam jumlah bervariasi yang dilakukan H. Kemudian petugas langsung bergerak ke kantor H untuk melakukan OTT. Dari operasi itu berhasil diamankan barang bukti berupa uang. Namun, belum diketahui berapa jumlahnya, meski sebuah sumber menyebutkan totalnya Rp 7,5 juta.

Uang itu konon merupakan persentase dana BOS sebesar 10% yang dikutip atas perintah pejabat tertentu di Disdikbud Aceh Utara untuk disetorkan kepadanya. Versi lain menyebutkan uang itu juga diperuntukkan membeli buku paket PAUD yang diwajibkan oleh pihak dinas.

Uang itu berasal dari sejumlah bendahara PAUD di wilayah Aceh Utara. Dimasukkan dalam amplop kuning dan diserahkan kepada H. Versi lain menyebutkan, perempuan itu bukan berinisial H, melainkan Was (28). Setelah terkumpul, uang itu diserahkan oleh Jun, bendahara salah satu PAUD di Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Saat transaksi berlangsung, tim saber pungli pun masuk dan memergoki pelaku, baik yang menerima maupun yang menyerahkan uang tersebut.

Petugas langsung melakukan pemeriksaan sejak siang kemarin terhadap Kabid dan Kasi PAUD Disdikbud Aceh Utara, bersama staf di bidang PAUD. Bahkan hingga pukul 22.00 WIB tadi malam tim saber masih memeriksa pejabat tersebut di Kantor Disdikbud Aceh Utara. Beberapa petugas dari tim saber yang ditanyai Serambinews tidak memberikan jawaban terkait pemeriksaan yang sedang mereka lakukan.

Sejumlah wartawan dari media cetak dan online hingga pukul 23.00 WIB masih menunggu di Kantor Disdikbud Aceh Utara. Pemeriksaan terhadap pejabat tersebut dilakukan dalam ruangan berbeda di kantor tersebut. Bahkan saat magrib, pejabat yang diperiksa juga tidak ke luar ruangan.

Beberapa staf di Kantor Disdikbud tersebut masih menunggu di sejumlah ruangan.

“Ya benar, ada OTT Tim Saber Pungli dari Polda Aceh dan Kejati Aceh. Yang terkena OTT seorang ibu-ibu yang menjabat kabid, terkait dana Bantuan Operasional PAUD,” ujar Kasi Penkum Kejati Aceh, H Munawal SH kepada Serambinews.

Disebutkan, pemeriksaan oleh petugas juga dilakukan di kantor disdikbud setempat. “Benar, tim masih ada di kantor tersebut sedang memeriksa pejabat,” ujar Munawal.

Ditanya berapa jumlah uang yang berhasil diamankan, Munawal pihaknya belum bisa memastikan karena petugas sedang melakukan pemeriksaan.

Sementara itu, Ketua Pokja Pencegahan Tim Saber Pungli Aceh, Dr Taqwaddin MH mengatakan, piahknya sudah berulang-ulang mengingatkan pejabat publik dan aparatur negara lainnya agar jangan melakukan pungli. Apalagi Saber Pungli Aceh sudah mendeteksi dan menginvcntarisasi pos-pos yang selama ini sering terjadi aksi pungli.

“Pokja Intelijen sesuai fungsinya terus melakukan aksi senyap dan penyamaran untuk menemukan bukti-bukti terjadinya kejahatan pungli di berbagai tempat di Aceh. Oleh karenanya, saya ingatkan kembali setiap aparatur negara jangan lagi melakukan pungli. Mudah sekali ketahuan. Kalau sudah terkena OTT begini kan keluarga ikut menanggung malu,” ungkap Taqwaddin.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh itu menilai, pungli yang dilakukan pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) seperti terungkap di Aceh Utara itu sama saja dengan menularkan virus kerusakan moral kepada balita dan gurunya. “Sepertinya aparatur sipil negara di Aceh harus disuntik virus akhlak yang benar agar pungli benar-benar dianggap haram, dosa, dan kejahatan dalam jabatan, sehingga konsekuensi hukumnya mencakup dunia-akhirat,” ujar Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh ini.

Sumber : SerambiNews
Dua Hari Setelah Suami Dibunuh, Istri Bripka Faisal Melahirkan Bayi Laki-Laki, Banjir Do'a Netizen

Dua Hari Setelah Suami Dibunuh, Istri Bripka Faisal Melahirkan Bayi Laki-Laki, Banjir Do'a Netizen


Lhoksukon - Bripka Anumerta Faisal telah pergi untuk selamanya meninggalkan Siti Nur Rahmi (27), sang istri tercinta.

Bripka Anumerta Faisal gugur ketika terlibat baku hantam dengan kelompok kriminal bersenjata di kawasan Pantai Bantayan, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, Minggu (26/8) lalu sekitar pukul 01.00 WIB.

Faisal, meninggal dunia setelah ditikam kelompok yang diduga sindikat narkoba, di kawasan Pantai Bantayan, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara.

Dia menemui ajal setelah mengalami sejumlah luka tusuk di wajah dan tubuhnya.

Brigadir Faisal gugur saat menjalankan tugas kesatuan, yakni menyergap komplotan yang diduga mendaratkan narkoba dengan perahu motor di lokasi tersebut.

Namun tak disangka, dua hari setelah Faisal meninggal, sang istri Rahmi yang sedang hamil besar melahirkan bayi yang ia kandung.

Bayi mungil itu dilahirkan di rumah orangtua Siti di Gampong Dayah Tuha, Mukim Beuracan, Pidie Jaya.

Bayi mungil tersebut lahir lebih cepat ketimbang prediksi dokter.

Sebelumnya, Rahmi yang tengah hamil delapan bulan diperkirakan akan melahirkan pada September 2018.

Menurut informasi yang beredar, satu di antaranya diunggah pengguna akun Facebook Dedi Suheri, buah cinta Rahmi dengan Faisal tersebut berjenis kelamin laki-laki.

Informasi itu diposting Dedi Suheri di grup Komunitas Cinta Polri.

Siti Nur Rahmi melahirkan seorang bayi laki-laki, Selasa (28/8/2018) pukul 11.00 WIB.

"Alhamdulillah pada Tanggal 28_08_2018. Telah lahir anak Almarhum dari Bripka Faisal yang gugur dalam tugas.

Semoga anaknya menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan negara. Semoga dapat melanjutkan perjuangan sang ayah suatu hari nanti," tulisnya.

Postingan tersebut hingga pukul 18.30 WIB telah dibagikan ratusan kali.

Bahkan banyak komentar netizen yang mengucapkan selamat dan do'a kepada Siti Nur Rahmi dan bayinya yang baru dilahirkan dalam kondisi yatim karena ditinggal pergi sang ayah untuk selamanya.

Warganet juga mendoakan agar sang ibu tabah dan kuat menjalani semua cobaan ini.

Berikut sejumlah komentar netizen yang dikutip Serambinews:

Maya Sarie: Ya Allah... Sabar ya adek bayi n mmhnya

Ine Yanti: Wajahnya wajah almarhum ayahnyaa

Deena Lovelytwin: Aaaminn YRA mirip banget kya Ayahny

Lukman Arif: Lanjutkan perjuangan ayahmu nak.

Rizal Ratta: Aamiin yra semoga menjadi anak yg sholeh

Sebelumnya diberitakan, Siti Nur Rahmi (27) tak kuasa menahan tangis ketika jenazah suaminya, Bripka Anumerta Faisal tiba di rumah di Desa Rambong, Kemukiman Beuracan, Kecamatan Meurudue, Kabupaten Pidie Jaya, Minggu (27/8/2018) menjelang sore.

Dikutip Serambinews.com dari Kompas.com, Ambulans milik Polres Aceh Utara menghantarkan jenazah pria yang akrab disapa Birong itu diiringi sejumlah perwira polisi, termasuk Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian.

Mengenakan jilbab merah muda yang membalut sekujur tubuhnya dengan baju terusan panjang bermotif bunga, Siti tampak sangat sedih.

Pria yang dicintainya itu telah pergi untuk selama-lamanya saat Siti Nur Rahmi sedang mengandung buah cintanya dengan sang bhayangkara muda.

Usia kandungannya saat itu sudah delapan bulan.

“Yang sabar Nak, ayah sudah tiada,” ucap Rahmi sembari mengelus perutnya.

Jenazah Faisal dimakamkan tak jauh dari rumah, persis di sisi kiri.

Rekan-rekannya menghantarkan kepergiannya dengan penuh haru.

Ia dikenal pemberani.

Wajahnya gahar, namun dikenal rajin beribadah.

Sejumlah pengurus bhayangkari menemaninya.

Bahkan, Ketua Bhayangkari Aceh Utara Silvya Ian Rizkian memeluk Rahmi berkali-kali.

Silvya juga memegang payung agar Rahmi tak kepanasan saat menyaksikan prosesi pemakaman. Rahmi berusaha tegar.

Namun air matanya terus menetes.

Ia pun berkali-kali menyeka air matanya dengan tisu putih.

Sang suami tak meninggalkan pesan apa pun sebelum kepergiannya.

Hanya saja, setiap hari suami berpesan agar jaga kesehatan dan menjaga buah hati mereka.

“Beliau orang baik, sangat baik dan penyayang,” kata Rahmi.

Faisal dilahirkan di Desa Rambong, Pidie Jaya, pada 27 April 1986.

Dia dikenal berani dalam menjalankan berbagai misi penangkapan pelaku kriminal.

Tiga hari sebelum meninggal, Faisal sempat berpesan kepada atasannya Kasat Reskrim Polres Aceh Utara Iptu Rezki Kholidiansyah bahwa hidup hanya sementara dan ibadah adalah keabadian.

“Tiga hari lalu, Iptu Reski ngobrol dengan Brigadir Faisal. Konteksnya soal tugas dan dedikasi untuk negara. Faisal bilang bahwa selalu meningkatkan ibadah pada Allah SWT dan membaca Al Quran untuk dijadikan pedoman hidup. Jika itu rujukannya, maka tugas berjalan lancar,” kata Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian.

Faisal meninggal saat menjalankan tugas menyelidiki informasi dari masyarakat terkait kapal yang diduga gembong narkoba dan bersenjata api.

 “Saya berduka, dia bhayangkara sejati, tepat waktu, tepat tugas, dan baik antar sesama bhayangkara. Saya bangga atas kinerjanya selama ini, saya berdoa Allah SWT menempatkannya di surga, amin,” kata Ian Rizkian.

Sebelumnya, diberitakan Faisal gugur saat menjalankan tugas.

Bripka Anumerta Faisal meninggal ditikam oleh pelaku yang diduga hendak menyelundupkan narkoba di kawasan Pantai Bantayan, Aceh Utara, Minggu (26/8/2018).


Kapolri Berikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa Anumerta Kepada Brigadir Faisal

Kapolri Berikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa Anumerta Kepada Brigadir Faisal


Banda Aceh - Kapolri Jenderal Polisi Prof Drs H Muhammad Tito Karnavian, menyampaikan prihatin dan turut belasungkawa atas meninggalnya Brigadir Faisal, Anggota Sat Reskrim Polres Aceh Utara.

Seperti diberitakan, Brigadir Faisal, meninggal dunia setelah ditikam kelompok yang diduga sindikat narkoba, di kawasan Pantai Bantayan Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, Minggu (26/8/2018) sekitar pukul 03.00 WIB.

Saat itu, Brigadir Faisal menjalankan tugas satuan, yakni menyergap komplotan yang diduga mendaratkan narkoba dengan perahu.

Brigadir Faisal tewas dengan sejumlah luka tusuk di bagian mata kiri, perut kiri dan bahu kiri setelah terjadi perlawanan perkelahian saat melakukan pengintaian kelompok kriminal bersenjata itu di lokasi.

Atas kejadian tersebut pimpinan tertinggi Polri, Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah memberikan kenaikan pangkat luar biasa 'Anumerta' kepada almarhum Faisal.

Pangkat setingkat lebih tinggi itu diberikan kepada almarhum karena gugur dalam melaksanakan tugas kepolisian.

"Dari pangkat Brigadir menjadi Brigadir Kepala. Almarhum meninggalkan istri tercinta dalam keadaan hamil," kata Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Misbahul Munauwar kepada Serambinews.com, Senin (37/8/2018).

Kenaikan pangkat itu disampaikan Kapolri melalui Surat Telegram Kapolri Nomor : STR/597/VIII/2018 tanggal 26 Agustus 2018.
Kronologis kejadian Polisi Aceh Utara Tewas Ditikam Komplotan Bersenpi

Kronologis kejadian Polisi Aceh Utara Tewas Ditikam Komplotan Bersenpi


Lhoksukon - Seorang anggota Polri dari Satuan Reskrim Polres Aceh Utara, Brigadir Faisal ditemukan tewas di Pantai Bantayan, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, Minggu (26/8) dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB. Bintara Polri ini menemui ajal dengan sejumlah luka tusukan ketika menyergap komplotan yang mendaratkan narkoba dengan perahu motor di kawasan tersebut.

Brigadir Faisal terkena tusukan benda tajam di bagian mata, perut, dan bahu setelah terlibat perkelahian sengit dengan komplotan yang juga menggunakan senjata api (senpi).

Informasi yang diperoleh Serambi, senpi jenis AK-56 dan pistol revolver yang digunakan Brigadir Faisal juga raib, diduga dirampas komplotan tersebut. Di lokasi kejadian petugas juga menemukan satu pucuk senpi jenis AK-56 bersama 19 butir amunisi yang diyakini milik komplotan penyelundup narkoba. Namun polisi belum bisa mengonfirmasikan semua laporan di lapangan karena masih dalam proses penyelidikan.

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Misbahul Munauwar kepada Serambi menyebutkan, berdasarkan visum, korban meninggal akibat terkena tusukan yang diduga dilakukan kelompok yang akan menyelundupkan sabu-sabu melalui Pantai Bantayan. Polisi melakukan pengintaian di lokasi.

Kemungkinan, kata Kabid Humas Polda Aceh, Brigadir Faisal melewati jalur yang dilintasi komplotan penyelundup sehingga distop dan terjadilah perkelahian. “Anggota kita terkena tusukan benda tajam. Jadi tidak benar ada kontak tembak di lokasi itu,” ujar Misbahul.

Komplotan yang mengeksekusi Brigadir Faisal langsung kabur, sedangkan korban sempat dibawa ke puskesmas untuk mendapat perawatan. Namun, sebelum mendapat penanganan medis, korban sudah meninggal akibat pendarahan berat.

Jenazah almarhum Faisal dibawa ke Mapolres Aceh Utara dan selanjutnya dipulangkan ke kampung halamannya DI Gampong Rambong, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.

Misbahul menginformasikan, tim gabungan dari Polda Aceh dibantu Polres Aceh Utara masih memburu tersangka pelaku. Saat ditanya apakah senpi yang digunakan korban berupa AK-56 dan pistol Revolver dirampas komplotan tersebut, Misbahul belum bisa memastikan informasi tersebut.