Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan
Gunung Agung Bali Kembali Erupsi, Keluarkan Lava Pijar Sejauh 1 Kilometer

Gunung Agung Bali Kembali Erupsi, Keluarkan Lava Pijar Sejauh 1 Kilometer


Denpasar - Gunung Agung yang terletak di Karangasem, Bali, kembali erupsi dengan melontarkan lava pijar pada Sabtu (19/1/2019) dini hari.

Berdasarkan laporan dari Pos Pengamatan Gunung Api Agung di Desa Rendang, Karangasem, erupsi atau letusan terjadi pada pukul 02.45 WITA.

Letusan terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi ± 2 menit 8 detik.

Selain itu, letusan disertai lontaran lava pijar dengan jangkauan terjauh 1 km dari bibir kawah. Saat terjadinya letusan, petugas tidak dapat mengamati tinggi kolom abu akibat tertutup kabut.

Namun, pada pagi hari asap dapat terlihat dengan jelas dengan ketinggian kurang lebih 700 meter dari puncak kawah. Pada periode pengamatan pukul 00.00-06.00 Wita, petugas mencatat terjadi sejumlah gempa.

Masing-masing gempa letusan, gempa vulkanik dangkal, vulkanik dalam, dan gempa tektonik jauh.

Gunung Agung sendiri masih berstatus siaga sehingga zona perkiraan bahaya pada radius 4 km dari puncak kawah.
Gunung Agung Kembali Meletus, Hembusan Abu di Ketinggian 600 Meter, Warga Diminta Tetap Waspada

Gunung Agung Kembali Meletus, Hembusan Abu di Ketinggian 600 Meter, Warga Diminta Tetap Waspada


Denpasar - Gunung Agung meletus dengan huembusan abu di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan kawah. 

Informasi itu dirangkum Posko Induk Pasebaya Agung dari warga sekitar.

Adapun Gunung Agung meletus sekitar pukul 19.55 WITA, Kamis (10/1/2019). 

Gunung Agung ini berada di Kabupaten Karangasem Bali. 

Berdasarkan catatan yang terekam di Pos Pemantauan gunung api Agung di Desa Rendang, erupsi terekam seismograf dengan durasi kurang lebih 4 menit.

Dimana amplitudo maksimum 22 mm.

Namun, tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak gunung tertutup kabut.

Informasi tersebut disampaikan Putu Dana, warga Desa Sebun. 

Sebun melihat hembusan abu itu sekitar pukul 20.05 Wita.

Selain itu, Mang Ardi, warga Desa Badeg mengaku melihat letupan api kecil dan suara gemuruh dari Gunung Agung sekitar pukul 20.07 Wita.

Posko Induk Pasebaya Agung juga mendapat informasi terjadi hujan abu tipis sekitar pukul 20.23 Wita di seputaran Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem Bali.

Sementara itu, Sumber data KESDM, Badan Geologi, PVMBG Pos Pengamatan Gunungapi Agung, meninformasikan, kolom abu tidak teramati dikarenakan kabut.

Saat ini Gunung Agung berada pada Status Level III (Siaga). 

Berikut rekomendasi esdm kepada masyarakat di sekitar Gunung Agung untuk mewaspadai status siaga :

(1) Masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki, pengunjung, wisatawan agar tidak berada atau tidak melakukan pendakian.

Kemudian tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak Gunung Agung.

Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual atau terbaru.

(2) Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

Untuk mengetahui informasi selanjutnya bisa mengakses https://magma.vsi.esdm.go.id/ .

Sementara itu, pada Minggu (30/12/2018) sekitar pukul 04.09 WITA, Gunung Agung juga pernah erupsi. 

Ketinggian abu Giri Maha Tohlangkir tidak teramati lantaran kondisi gunung tetutup kabut.

Amplitudo erupsi maksimun 22 mm dengan durasinya 3 menit 8 detik.

Jro Mangku Wayan Sukra, warga asli Banjar Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat mengatakan, erupsi terjadi begitu cepat. Tak ada tanda sebelum erupsi.

Seperti bunyi dentuman serta gemuruh. Suara letusan tak terdengar sama sekali.

"Kalau saya tak mendengar apapun sebelum dan saat erupsi. Tiba-tiba erupsi," kata Mangku Wayan Sukra, pria yang tinggal di radius lima kilometer dari puncak.

Penyebaran abu sekitar lereng Gunung Agung, Baanjar Sogra, juga tidak nampak.

Ditambahkan, warga lereng gunung tetap beraktivitas seperti biasanya.

Masyarakt tetap berladang. Pemedek yang datang bersembahyang ke Pura Pasar Agung Sebudi, Desa Sebudi, datang silih brganti. Mereka tidak takut, dan tetap beraktivitas.

Kepala Sub Mitigasi Gunung Berapi, PVMBG Wilayah Timur, Devi Kamil Syahbana menjelaskan, erupsi terjadi akibat adanya “overpressure” akibat akumulasi gas vulkanik.

Teramati sinar api di area puncak namun ketinggian kolom abu tak teramati.

Berdasarkan informasi satelit, abu vulkanik bergerak ke tenggara dengan ketinggian mencapai 5500 meter di atas permukaan laut.

Gunung Agung sendiri masih berada status Level III (Siaga) dengan zona perkiraan bahaya pada radius 4 km dari puncak kawah.

Baik warga, pendaki maupun pengunjung dihimbau tidak beraktifitas dalam zona bahaya tersebut.

Selain itu, masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder.

Bahaya sekunder tersebut berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
Aceh Tenggara Masih Berpotensi Banjir, BPBD Minta Warga Pindah ke Lokasi Aman

Aceh Tenggara Masih Berpotensi Banjir, BPBD Minta Warga Pindah ke Lokasi Aman


Kutacane - Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara meminta warga yang tinggal di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Lawe Bulan, pindah ke lokasi yang lebih aman dari ancaman banjir.

 "Karena saat ini, Agara masih berpotensi banjir. Warga yang tinggal di sepanjang DAS Lawe Bulan harus segera pindah. Karena dikhawatirkan, apabila banjir kembali terjadi, rumah-rumah warga di sepanjang DAS Lawe Bulan terancam oleh terjangan banjir bandang,” kata Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Aceh Tenggara, Ramisin, Senin (31/12/2018).

Ia juga mengingatkan, agar tidak ada lagi warga yang mendirikan rumah di tepi Sungai Lawe Bulan. Karena sangat rawan terdampak bencana banjir yang dapat menelan korban jiwa.

Sementara, dampak banjir bandang yang disebabkan meluapnya Sungai Lawe Bulan sejak Minggu (30/12/2018) malam hingga Senin dinihari, telah membuat ribuan rumah terendam di beberapa desa, dan membuat dua jembatan putus.
Jumlah Gempa Selama 2018 Lebih Banyak 4.648 Kejadian Dibanding 2017

Jumlah Gempa Selama 2018 Lebih Banyak 4.648 Kejadian Dibanding 2017


Jakarta - Sepanjang tahun 2018, terjadi peningkatan signifikan aktivitas gempa di Indonesia dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data gempa dari Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), selama 2018 terjadi aktivitas gempasebanyak 11.577 kali dalam berbagai magnitudo dan kedalaman.

Sementara pada tahun 2017, jumlah aktivitas gempa yang terjadi hanya 6.929 kali.

"Artinya, selama tahun 2018 telah terjadi peningkatan jumlah aktivitas gempa yang drastis di Indonesia, yaitu 4.648 kejadian gempa tektonik," ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono, Sabtu (29/12/2018).

Gempa ini didominasi oleh gempa ringan yang bermagnitudo 4,1-5,0 yakni sebanyak 2.273.

Jika dikelompokkan berdasarkan magnitudonya, selama tahun 2018 telah terjadi Gempa Kecil (magnitudo kurang dari 4,0) sebanyak sembilan kali, Gempa Ringan (magnitudo antara 4,1-5,0) 2.273 kali, Gempa Menengah (magnitudo antara 5,1-6,0) 210 kali, Gempa Kuat (magnitudo antara 6,1-7,0) 12 kali, Gempa Besar (magnitudo antara 7,1-8.0) satu kali yaitu Gempa Palu 28 September 2018 (M=7,5), dan Gempa Dahsyat (kekuatan antara 8,1-9,0) yang selama tahun 2018 tidak terjadi.

Selain itu, pada tahun 2018 aktivitas gempa di Indonesia didominasi oleh gempa dangkal kurang dari 60 kilometer yang terjadi 9.585 kali.

"Sedangkan gempa kedalaman menengah antara 61-300 kilometer terjadi 1.856 kali. Dan gempa hiposenter dalam di atas 300 kilometer hanya terjadi 136 kali," kata dia.

Menurutnya, tingginya aktivitas gempa bumi di Indonesia selama tahun 2018 disebabkan karena adanya beberapa gempa kuat dan diikuti oleh rangkaian gempa susulan yang banyak.

"Adanya aktivitas gempa swarm di Mamasa, Sulawesi Barat juga memberikan tambahan jumlah gempa yang sangat signifikan sehingga jika dikumulatifkan, seluruh aktivitas gempa yang terjadi di Indonesia pada tahun 2018 menjadi jumlah yang sangat besar," tutupnya.
Update Jumlah Korban Tsunami Selat Sunda: 431 Orang Tewas 7.200 Luka

Update Jumlah Korban Tsunami Selat Sunda: 431 Orang Tewas 7.200 Luka


Jakarta - Jumlah korban tewas akibat tsunami Selat Sunda bertambah. Hingga hari ini, korban tewas tercatat 431 orang.

"Hingga H+7 pada 29/12/2018 tercatat korban tsunami di Selat Sunda adalah 431 orang meninggal dunia, 7.200 orang luka-luka, 15 orang hilang, dan 46.646 orang mengungsi," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya, Sabtu (29/12/2018).

Selain itu, 1.527 unit rumah rusak berat, 70 unit rumah rusak sedang, 181 unit rumah rusak ringan, 78 unit penginapan dan warung rusak, 434 perahu dan kapal rusak dan beberapa kerusakan fasilitas publik. Korban dan kerusakan material ini berasal dari lima Kabupaten yaitu Pandenglang, Serang, Lampung Selatan, Pesawaran dan Tanggamus.

"Jumlah korban dan dampak bencana paling banyak terjadi di Pandeglang. Tercatat 292 orang meninggal dunia, 3.976 orang luka-luka, 8 orang hilang, dan 33.136 orang mengungsi," ujarnya.

Kondisi pengungsi masih memerlukan bantuan. Pengungsi memerlukan bantuan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, MCK, pakaian layak pakai, selimut, tikar, pelayanan medis, dan lainnya. 

Sutopo menambahkan bantuan logistik terus dikirim. Namun, terkendala distribusi ke titik pengungsian yang aksesnya cukup sulit dijangkau dan cuaca, khususnya di daerah Sumur.

"Untuk membantu proses evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban di Sumur maka dikerahkan 31 alat berat berupa 9 unit excavator, 1 unit greader, 4 unit loader, 3 unit tronton, dan 14 unit dump truck. Tiga helikopter dikerahkan untuk mengirim logistic dari udara," ujarnya.

Sementara di Kabupaten Serang tercatat 21 orang tewas, 247 orang luka-luka, dan 4.399 orang mengungsi. Di Lampung Selatan, 116 orang meninggal dunia, 2.976 orang luka-luka, 7 orang hilang dan 7.880 orang mengungsi. Sedangkan di Pesawaran tercatat 1 orang meninggal dunia, 1 orang luka dan 231 orang mengungsi, dan di Tanggamus 1 orang meninggal dunia dan 1.000 orang mengungsi.

"Jumlah pengungsi pada malam hari sering lebih banyak daripada siang. Sebab pada siang hari sebagian pengungsi bekerja atau kembali ke rumahnya, pada malam hari kembali ke tempat pengungsian," pungkasnya.
Korban Tewas Tsunami Selat Sunda Jadi 222 Orang, 843 Orang Luka

Korban Tewas Tsunami Selat Sunda Jadi 222 Orang, 843 Orang Luka



Jakarta - Jumlah korban tewas tsunami di Selat Sunda kembali dilaporkan bertambah. Saat ini dilaporkan korban tewas diketahui menjadi 222 orang. 

"Jumlah korban dan kerusakan akibat tsunami yang menerjang wilayah pantai di Selat Sunda terus bertambah. Data sementara yang berhasil dihimpun Posko BNPB hingga Minggu 23/12/2018, pukul 16.00 WIB, tercatat 222 orang meninggal dunia, 843 orang luka-luka, dan 28 orang hilang," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Minggu (23/12/2018). 

Sutopo menjelaskan, update terbaru sebanyak 556 unit rumah rusak, 9 unit hotel rusak berat, 60 warung kuliner rusak, serta 350 kapal dan perahu rusak. 

"Tidak ada korban warga negara asing. Semua warga Indonesia. Korban dan kerusakan ini meliputi di 4 kabupaten terdampak, yaitu di Kabupaten Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, dan Tanggamus," ujar Sutopo. 

Menurut Sutopo, jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah. Terutama karena belum semua lokasi bisa dijangkau dan didata. 

"Jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah karena belum semua korban berhasil dievakuasi, belum semua puskesmas melaporkan korban dan belum semua lokasi dapat didata keseluruhan. Kondisi ini menyebabkan data akan berubah," jelas Sutopo. 

Berikut ini rincian lokasi penemuan korban tewas dan luka hingga hilang: 

1. Kabupaten Pandeglang
Sebanyak 164 orang meninggal dunia, 624 orang luka-luka, 2 orang hilang. Kerusakan fisik meliputi 446 rumah rusak, 9 hotel rusak, 60 warung rusak, 350 unit kapal dan perahu rusak, serta 73 kendaraan rusak. Daerah yang terkena dampak berada di 10 kecamatan. Lokasi yang banyak ditemukan korban adalah di Hotel Mutiara Carita Cottage, Hotel Tanjung Lesung, dan Kampung Sambolo.

2. Kabupaten Serang
Sebanyak 11 orang meninggal dunia, 22 orang luka-luka, dan 26 orang hilang. Kerusakan bangunan masih dilakukan pendataan.

3. Kabupaten Lampung Selatan
Tercatat 48 orang meninggal dunia, 213 orang luka-luka, dan 110 rumah rusak.

4. Kabupaten Tanggamus
Terdapat 1 orang meninggal dunia.

"Alat berat dikerahkan membantu evakuasi. Saat ini sedang bekerja 5 unit ekskavator, 2 unit loader, 2 unit dump truck, dan 6 unit mobil tangki air. Bantuan alat berat akan ditambah. Jumlah pengungsi masih dalam pendataan," papar Sutopo.
Detik-detik Tsunami Akibat Letusan Anak Krakatau

Detik-detik Tsunami Akibat Letusan Anak Krakatau

 

Jakarta - BMKG menduga tsunami di Selat Sunda yang menerjang sejumlah lokasi di Banten dan Lampung disebabkan letusan atau longsoran Gunung Anak Krakatau. Menurut BMKG, ada kemiripan antara pola tsunami tersebut dengan yang terjadi di Palu.

"Tanggal 22 Desember pukul 21.03 WIB menit, Badan Geologi mengumumkan terjadi erupsi lagi Gunung Anak Krakatau. Kemudian pukul 21.27 WIB tidegauge (pengamatan sementara) Badan Informasi Geospasial yang terekam oleh BMKG menunjukkan adanya tiba-tiba ada kenaikan muka air pantai. Jadi ada kenaikan air, dan kami analisis kami merekam waktu untuk menganalisis, apakah kenaikan air itu air pasang akibat fenomena atmosfer, ada gelombang tinggi kemudian bulan purnama, jadi saat ini itu memang pada fase seperti itu. Namun setelah kami analisis lanjut gelombang itu merupakan gelombang tsunami, jadi tipe polanya sangat mirip gelombang tsunami yang terjadi di Palu," kata Kepala BMKG Dwikorita Kurnawati di Kantor BMKG, Jakarta, Minggu (23/12/2018).

Dia mengatakan BMKG telah memberikan peringatan soal gelombang tinggi sejak 21 Desember 2018, dan berlaku hingga 25 Desember 2018 karena faktor cuaca. Tsunami hari ini diduga oleh BMKG terjadi karena longsor. Berikut detik-detik terjadinya tsunami versi BMKG:

21 Desember 2018

- Pukul 07.00 WIB

BMKG mulai kemarin pukul 07.00 WIB memberikan peringatan dini potensi gelombang tinggi di perairan Selat Sunda. Diperkirakan gelombang tinggi terjadi mulai 21 hingga 25 Desember 2018.

"Mulai kemarin pukul 07.00 WIB memberikan peringatan dini, karena kami menganalisis dan mendeteksi adanya potensi gelombang tinggi di perairan Selat Sunda, diperkirakan mulai kemarin tanggal 21 hingga 25 Desember 2018," ujar Dwikorita.

- Pukul 13.51 WIB 

Badan Geologi telah mengumumkan terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatqu dan statusnya level waspada. 

"Ini dua peristiwa yang beda tapi terjadi di waktu yang sama dan lokasi sama, sama-sama di perairan Selat Sunda, pertama potensi Anak Krakatau dan potensi gelombang tinggi," ucapnya.

22 Desember 2018

- Pukul 09.00 WIB sampai 11.00 WIB

Tim BMKG berada di perairan Selat Sunda untuk melakukan uji coba. Saat itu, menurutnya, terverifikasi hujan lebat dan gelombang serta angin kencang.

"Oleh karena itu tim kami kembali ke darat," ujarnya.

- Pukul 21.03 WIB

Badan Geologi mengumumkan kembali terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau. 

- Pukul 21.27 WIB

Berdasarkan pengamatan sementara atau tidegauge badan informasi geospasial yang terekam oleh BMKG, terjadi kenaikan muka air pantai. Hal itu diduga sebagai tsunami yang disebabkan oleh longsor akibat erupsi Anak Krakatau.

BMKG memastikan tak ada gempa yang menjadi pemicu tsunami. Namun, BMKG bakal melakukan penelitian lebih lanjut esok hari untuk memastikan penyebab terjadinya peristiwa ini.

"Besok pagi kami berupaya mengumpulkan data lagi apakah benar itu karena longsor tebing dan tsunami yang terdeteksi cukup jauh sampai ke Bandar Lampung kemudian Cilegon di Banten, Serang. Jadi artinya energinya cukup tinggi sehingga yang penting bagi masyarakat diharapkan tetap tenang. Tapi mohon jangan berada di pantai yang pantai Selat Sunda," jelasnya
Tsunami di Banten-Lampung, Warga Diimbau Tak Mendekat ke Pantai

Tsunami di Banten-Lampung, Warga Diimbau Tak Mendekat ke Pantai


Pandeglang - BMKG mengimbau warga tidak mendekat ke Pantai Anyer maupun Pantai Lampung yang posisinya berada di Selat Sunda terkait tsunami di Banten dan Lampung. Sebab pemicu tsunami masih dalam penyelidikan.

"Masyarakat diharapkan tetap tenang tapi mohon jangan berada di pantai yang pantai Selat Sunda. Jadi jangan berada di pantai Selat Sunda, baik di wilayah Lampung, Banten, Serang. Jangan kembali dulu karena pemicunya (tsunami) ini masih diduga," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (23/12/2018).

BMKG masih melakukan pengecekan terkait terjadinya gelombang tsunami di kawasan Anyer dan Lampung. Dalam hal ini BMKG menduga tsunami terjadi akibat air pasang bersamaan dengan gelombang tinggi.

Dwikorita mengatakan, tsunami yang terjadi di dua wilayah tersebut terjadi bukan diakibatkan karena gempa tektonik. Hasil koordinasi dengan Badan Geologi, BKMG menduga tsunami terjadi akibat longsor erupsi anak Gunung Krakatau.

"Biasanya ada gempa lebih dahulu baru terjadi tsunami. Tadi kami cek tak ada gelaja sesmisitas, Jadi tak ada gejala tektoknik yang memicu tsunami, sehinggga kami butuh waktu koordinasi dengan badan geologi bahwa diduga erupsi tersebut, kemungkinan bisa langusng atau tidak langsung memicu terjadinya tsunami," ujarnya.


BMKG Sebut Terjangan Air Laut di Anyer Gabungan Gelombang Tinggi-Tsunami

BMKG Sebut Terjangan Air Laut di Anyer Gabungan Gelombang Tinggi-Tsunami


Jakarta - BMKG menyatakan musibah yang terjadi di Anyer, Banten adalah gabungan dari gelombang tinggi dan tsunami. Tinggi gelombang air laut disebut mencapai 3 meter.

"BMKG sebelumnya memberikan warning ancaman tinggi gelombang Selat Sunda 2 meter, kalau ditambahkan setinggi 3 meter. Pada jam sama gelombang tsunami 0,9 meter, bisa disimpulkan sekitar 3 meter tentunya menyebabkan bagaimana tsunami masuk ke daratan," kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono di Kantor BMKG, Jakarta Pusat, Minggu (23/12/2018).

BMKG memang telah mengeluarkan peringatan potensi gelombang tinggi di Selat Sunda. Peringatan itu berlaku mulai 21 Desember hingga 25 Desember 2018

Kembali ke soal tsunami, Rahmat menduga tsunami dipicu erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya, apakah karena longsoran yang terjadi akibat erupsi atau ada faktor lainnya.

"Sebetulnya tsunami dipastikan akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau lebih detil apakah karena longsoran perlu nanti diteliti lebih lanjut. Namun ini dipastikan tsunami di Banten dan Lampung akibat aktivitas Anak Gunung Krakatau," tuturnya.

Selain Banten, tsunami juga menerjang wilayah Lampung. Pola terjadinya tsunami ini disebut mirip dengan yang terjadi di Palu beberapa waktu lalu.

"Setelah kami analisis lanjut gelombang itu merupakan gelombang tsunami, jadi tipe polanya sangat mirip gelombang tsunami yang terjadi di Palu," kata Kepala BMKG Dwikorita Kurnawati.
6 Orang Tewas akibat Tsunami di Lampung Selatan, 93 Luka-luka

6 Orang Tewas akibat Tsunami di Lampung Selatan, 93 Luka-luka


Bandar Lampung - Gelombang tsunami yang menerjang perairan Selat Sunda termasuk di Provinsi Lampung bagian selatan, mengakibatkan sejumlah korban jiwa dan luka-luka. Data terakhir hingga Minggu (23/12/2018), pukul 03.54 WIB, jumlah korban tewas sudah mencapai enam orang sedangkan korban luka-luka sebanyak 93 orang.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan, Ketut Sukerta mengatakan, para korban yang meninggal dunia dan luka-luka sudah dievakuasi ke rumah sakit. Para korban umumnya dihantam gelombang tsunami dan terkena serpihan-serpihan bangunan. 

“Korban-korban ini warga setempat yang tinggal di pesisir pantai yang dihantam gelombang tinggi dan ada juga terkena serpihan, puing-puing bangunan,” kata Ketut, (23-12-2018) Minggu pagi.

Menurut Ketut, jumlah korban tersebut masih sementara. Diperkirakan jumlah korban jiwa dan luka-luka masih akan bertambah karena saat ini petugas masih terus melakukan pendataan dan proses evakuasi. 

“Ya, kami berharap tidak ada lagi korban jiwa, tapi kemungkinan masih ada. Besok baru bisa kami pastikan. Evakuasi masih berlangsung,” katanya.

Ketut Sukerta juga mengimbau kepada warga yang tinggal di kawasan pesisir pantai agar waspada dan berhati-hati. Sebab, gelombang tinggi tsunami masih berpotensi terjadi. “Sementara ini, masyarakat kami imbau agar menjauh dari bibir pantai,” katanya.
Tiga Desa di Sakti Pidie Mulai Terendam Banjir Luapan, Akibat Tumpukan Rumpun Bambu

Tiga Desa di Sakti Pidie Mulai Terendam Banjir Luapan, Akibat Tumpukan Rumpun Bambu


Sigli - Hujan sedang yang turun di Kabupaten Pidie, Senin (10/12/2018) sekitar pukul 18.35 WIB, telah menyebabkan tiga desa di Kecamatan Sakti terendam banjir luapan.

Kedua desa tersebut adalah Lingkok, Cumbok dan Gampong Pisang.

Luapan air sungai di Gampong Pisang menerobos ke pemukiman rumah warga.

"Luapan air sungai ternyata akibat tersangkut sampah dan satu rumpun bambu di aliran sungai di Gampong Pisang," lapor Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie, Apriadi SSos, Senin (10/12/2018).

Ia mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima Kabid Darurat BPBD Pidie, Saiful Zuhri, bahwa pembersihan rumpun bambu dan sampah yang tersangkut di jembatan segera dibersihkan menggunakan alat berat.
Banjir Agara - Parit Sumbat dan Kayu Gelondongan Berserakan, Air Melimpah ke Jalan Nasional

Banjir Agara - Parit Sumbat dan Kayu Gelondongan Berserakan, Air Melimpah ke Jalan Nasional


Kutacane - Banjir bandang yang menerjang Aceh Tenggara menyebabkan saluran atau parit-parit di kawasan itu sumbat dan kayu gelondongan berserakan di mana-mana.

Dampak yang muncul kemudian akibat parit sumbat adalah air disertai batu kerikil melimpah ke badan jalan nasional.

Seperti diberitakan, banjir bandang menerjang Desa Kayu Mentangur, Kecamatan Ketambe dan Desa Natam Baru, Kecamatan Badar pada Minggu (25/11/2018) 18.30 WIB dan Jumat (30/11/2018) sekitar pukul 21.30 WIB.

Banjir tersebut menghanyutkan sekitar 23 rumah warga, dan puluhan lainnya mengalami kerusakan.

Banjir bandang yang membawa kayu-kayu gelondongan itu juga menyebabkan saluran tersembut dan menumpuk di jalan raya.

Banjir Aceh Timur Renggut Nyawa Dua Bocah, Jasad Faizal Ditemukan Mengapung oleh Ayah dan Ibunya

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara, Ramisin, Kamis (6/12/2018) mengatakan, saluran parit tersumbat dan air bebatuan tergenang di jalan raya Nasional Aceh Tenggara menghubungkan ke Sumatera Utara persisnya di Desa Kayu Mentangur.

Bukan hanya itu, kayu gelondongan masih bertaburan di pemukiman penduduk dan kebun masyarakat.
Kemarin Gempa 5,4 M Guncang Aceh Barat, Tak Berpotensi Tsunami

Kemarin Gempa 5,4 M Guncang Aceh Barat, Tak Berpotensi Tsunami


Jakarta - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,4 mengguncang Kabupaten Aceh Barat. Tak ada peringatan potensi tsunami akibat gempa ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lewat akun Twitter resminya @infoBMKG menyebut gempa tersebut terjadi pada Senin (15/10/2018) pukul 23.26 WIB. 

Pusat gempa berada di 74 kilometer arah barat daya dari Kabupaten Aceh Barat.

"Tidak berpotensi tsunami," tulis BMKG.

Pusat gempa berada pada kedalaman 25 km. Lokasi gempa di koordinat 3,91 LU dan 95,76 BT. Belum diketahui apakah ada kerusakan maupun korban luka atau jiwa akibat gempa ini. 
Ketika Tsunami Palu Bikin Kaget Ilmuwan Dunia

Ketika Tsunami Palu Bikin Kaget Ilmuwan Dunia


Jakarta - Ilmuwan dunia kaget atas dahsyatnya tsunami yang menerjang Palu, Sulawesi Tengah. Mereka tak menduga gempa yang mengguncang Donggala akhirnya memicu gelombang tsunami yang menghancurkan Palu.

"Kami memperkirakan gempa itu mungkin memicu tsunami, tapi tidak sebesar itu," sebut Jason Patton, pakar geofisika yang bekerja untuk perusahaan konsultan Temblor dan mengajar pada Humboldt State University di California, Amerika Serikat, seperti dilansir New York Times, Senin (1/10/2018).

"Ketika peristiwa seperti ini terjadi, kita biasanya mendapati hal-hal yang belum pernah kita amati sebelumnya," imbuh Dr Patton.

Pada Jumat (28/9) sore, tsunami itu dipicu gempa bumi dengan magnitudo 7,4 yang berpusat di titik 80 kilometer sebelah utara Palu. Sesaat kemudian, gelombang air laut hingga setinggi menerjang Palu. Akibat peristiwa itu, bangunan-bangunan hancur, kendaraan tersapu hanyut, dan ratusan orang tewas.

Diketahui bahwa tsunami yang menghancurkan sering kali disebabkan oleh gempa megathrust ketika sesar bumi yang berukuran besar melakukan penyesuaian dengan bergerak secara vertikal di sepanjang patahan bumi. Dalam peristiwa ini biasanya sejumlah besar air laut akan terdorong, memicu gelombang yang bisa bergerak dalam kecepatan tinggi dan memicu kehancuran di lokasi yang berjarak ribuan kilometer dari pusat gempa.

Tsunami yang terjadi di Palu berbeda dengan tsunami dahsyat di Samudra Hindia pada 2004 di Aceh. Tsunami Aceh dipicu gempa megathrust berkekuatan 9,1 Magnitudo hingga terjadinya tsunami setinggi 30 meter dan menewaskan nyaris seperempat juta orang, mulai di Indonesia hingga Afrika Selatan.

Sementara itu, tsunami Palu dipicu patahan yang pecah, yang disebut patahan strike-slip. Pergerakan patahan Bumi kebanyakan horizontal dan pergerakan semacam itu biasanya tidak memicu tsunami. Namun, dalam situasi tertentu, sebut Dr Patton, tsunami bisa terjadi.

Patahan strike-slip bisa memicu sejumlah pergerakan vertikal yang bisa memindahkan sejumlah besar air laut. Atau zona pecahnya patahan Bumi, dalam kasus ini, yang diperkirakan mencapai panjang 112 kilometer, melewati area ketika dasar laut bergerak naik atau turun. Jadi, ketika patahan bergerak saat gempa melanda, itu memindahkan sejumlah besar air laut ke depannya.

Kemungkinan lain, tsunami terbentuk secara tidak langsung. Guncangan keras saat gempa mungkin telah menyebabkan tanah longsor di bawah laut yang akan memindahkan air laut dan memicu gelombang besar. Peristiwa semacam ini bukannya tidak biasa, karena pernah terjadi saat gempa 9,2 Magnitudo mengguncang Alaska pada 1964.

Tsunami juga disebabkan oleh lokasi Kota Palu yang berada di ujung teluk dangkal. Garis pantai dan bentuk dasar teluk bisa saja memfokuskan energi gelombang laut dan mengarahkannya ke teluk, dengan ketinggian semakin meningkat saat semakin mendekati pantai. Efek semacam itu pernah terjadi sebelumnya di Crescent City, California, AS, yang pernah diterjang lebih dari 30 tsunami.

Dr Patton menyebut kombinasi berbagai faktor mungkin bisa berkontribusi pada sebuah tsunami. Kajian terhadap dasar lautan menjadi krusial dalam upaya memahami terjadinya sebuah tsunami. "Kita tidak akan tahu apa yang menyebabkannya hingga peristiwa itu selesai," ucapnya.

Tak Ada Alat Pendeteksi Tsunami

Para pakar tsunami memberi catatan soal kurangnya sistem canggih pendeteksi dini tsunami di Indonesia. Saat ini Indonesia diketahui hanya menggunakan seismograf, perlengkapan GPS (global positioning system), dan tide gauge (alat pengukur perubahan ketinggian air laut) untuk mendeteksi tsunami. Profesor pada University of Pittsburgh, Louise Comfort, menyatakan Indonesia memiliki 22 jaringan sensor serupa tapi kebanyakan tidak lagi digunakan karena tidak dirawat atau dicuri pihak tak bertanggung jawab. Dia menyebut peralatan itu memiliki efektivitas yang sangat terbatas.

AS sendiri memiliki 39 jaringan sensor canggih di dasar lautan yang bisa mendeteksi perubahan tekanan sekecil apa pun yang mengindikasikan kemunculan sebuah tsunami. Data-data dari sensor itu akan disampaikan via satelit dan dianalisis, untuk kemudian peringatan akan dirilis jika diperlukan.

Comfort saat ini sedang terlibat dalam proyek untuk membawa sensor tsunami di Indonesia. Proyek yang sedang dikerjakan Dr Comfort akan membawa sistem baru ke Indonesia, yang nantinya akan menggunakan komunikasi bawah laut untuk menghindari penggunaan buoy di permukaan laut yang bisa dicuri atau tertabrak kapal.

Dituturkan Dr Comfort, dirinya sedang membahas proyek ini bersama tiga badan pemerintahan Indonesia. Rencana memasang prototipe sistem itu di Sumatera tertunda bulan ini. "Mereka tidak bisa menemukan cara untuk bekerja sama. Ini menyayat hati ketika Anda tahu bahwa teknologinya ada. Indonesia ada di kawasan Cincin Api--tsunami akan terjadi lagi," ucapnya.

Sistem peringatan dini tsunami di Indonesia dibangun setelah bencana besar di Aceh dan Sumatera Utara pada 2004. Sistem peringatan dini tsunami di Indonesia dirancang dan dibangun dengan bantuan dana dan tenaga ahli Jerman lewat Pusat Geologi dekat Berlin, Geoforschungszentrums (GFZ) Potsdam.

"Menurut informasi yang kami terima, software-nya berfungsi dengan baik", kata juru bicara GFZ Josef Zens kepada harian Berlin Tagesspiegel edisi 1 Oktober 2018.

Dia menjelaskan, pusat pemantauan sistem peringatan dini tsunami di Jakarta mengeluarkan peringatan bahaya tsunami lima menit setelah terjadi gempa di Sulawesi Tengah. Simulasi komputer menyebutkan ada ancaman gelombang tsunami dengan ketinggian 0,5-3 meter. Sekitar 20 menit setelah gempa, gelombang besar itu mencapai daerah pesisir Sulawesi.

Namun, dia menduga peringatan tsunami itu tak sampai kepada masyarakat setempat. Josef juga menyayangkan penarikan peringatan dini tsunami yang dikeluarkan BMKG terlalu cepat, hanya 37 menit setelah peringatan pertama dikeluarkan.

"Sistem yang kami buat mengatur bahwa peringatan tsunami paling cepat baru bisa dibatalkan setelah dua jam." Dia menambahkan, masih harus ditelusuri mengapa pembatalan peringatan tsunami dikeluarkan secepat itu.

Ahli GFZ lain, Jrn Launterjung, menerangkan kepada televisi Jerman ARD, sistem peringatan dini tsunami berfungsi baik karena ancaman tsunami disebar lima menit setelah gempa. Namun dia menduga informasi itu tak sampai kepada masyarakat. Jrn Launterjung, yang ikut membangun sistem peringatan dini tsunami di Indonesia, mengatakan, dengan sistem yang ada, peringatan dini tsunami paling cepat diperoleh dalam waktu lima menit.

"Semua data yang diterima dari lokasi gempa harus diolah oleh komputer, kemudian dibuat model simulasi untuk menentukan, apakah ada ancaman gelombang tsunami, dan lokasi mana saja yang terancam. Semua itu berlangsung empat sampai lima menit. Itulah waktu yang tercepat membuat simulasi yang riil," kata dia.

Jrn Launterjung kaget dan prihatin atas bencana yang terjadi di Sulteng karena ada ratusan nyawa hilang meski sudah ada sistem peringatan dini tsunami. Menurutnya, pelatihan penanggulangan bencana yang cepat dan tepat mesti ditingkatkan.

Sistem peringatan dini tsunami di Indonesia dirancang dan dibangun dengan bantuan dari Jerman setelah gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara pada 2004. Ketika itu, gempa bumi berkekuatan 9,1 skala Richter, yang berpusat di Simeuleu, menyebabkan gelombang tsunami hebat sampai ke Samudra Hindia. Lebih dari 230 ribu orang tewas di seluruh dunia, di Aceh dan Sumatera Utara saja korban tewas lebih 160 ribu orang.

Sumber: Detik
Beberapa Fakta seputar Tsunami kota Palu setelah gempa 7.7

Beberapa Fakta seputar Tsunami kota Palu setelah gempa 7.7


Jakarta - Tsunami menerjang permukiman di sekitar Pantai Talisa Palu dan pantai di Donggala pada hari Jumat (28/9). 

Tsunami tersebut terjadi pasca-gempa dengan magnitudo 7,4 mengguncang Donggala di kedalaman 10 kilometer, berpusat di 0,18 LS dan 119,85 BT atau 27 kilometer Timur Laut Donggala-Sulawesi Tengah. 

Berikut sederetan fakta seputar tsunami yang terjadi di Palu pasca-gempa.

1. Peringatan dini BMKG akan potensi tsunami

Berdasar keterangan resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada hari Jumat (28/9) gempa di Donggala berpotensi tsunami. 

Wilayah yang diperkirakan terancam adalah Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Pasca-gempa jaringan komunikasi di Donggala putus. Akibatnya, BMKG masih belum memantau seberapa parah dampak gempa dengan magnitudo 7,4. 

2. Tsunami diperkirakan mencapai 2 meter

Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan, tsunami yang terjadi cukup tinggi. Tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,5-2 meter.

"Kami belum data konkret, tapi ketinggian antara 1,5 meter sampai 2 meter," kata Rahmat, dalam wawancara kepada Kompas TV, Jumat malam. Tsunami tersebut terjadi pasca-gempa besar berkekuatan 7,4 yang mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9). 

Menurut BMKG, tsunami terjadi di Palu, Donggala, dan Mamuju. Namun, hingga saat ini belum dapat dipastikan apakah ada korban atau jumlah kerugian akibat tsunami.

3. Peringatan tsunami dicabut

Pada pukul 17.37 WIB, BMKG mencabut peringatan dini tsunami pasca- gempa bermagnitudo 7,4 di sekitar Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9) sore. 

Pencabutan teringatan tersebut kurang lebih setengah jam dari waktu terjadinya gempa pada pukul 17.02 WIB. Alasan pencabutan itu adalah air naik semakin surut dan pengamatan saksi mata salah satunya staf BMKG di Kota Palu.

"Peringatan tsunami telah kami keluarkan sekitar lima menit setelah kejadian gempa. Terpantau dari saksi mata di lapangan, ketinggian muka air laut mencapai 1,5 meter," kata Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG. 

"Namun, kemudian setelah kita pantau, tsunami datang, air naik semakin surut. Dengan surutnya air yang teramati, maka peringatan dini tsunami kami akhiri," sambung dia. 

Sebelum peringatan dini tsunami dicabut, BMKG menyatakan bahwa wilayah Donggala bagian barat berada dalam status siaga. Sedangkan wilayah yang berstatus waspada adalah Donggala bagian utara, Mamuju bagian utara, dan Kota Palu bagian barat.

4. Pernyataan tidak ada tsunami susulan

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika memastikan tak ada tsunami susulan yang akan melanda wilayah Palu dan sekitarnya. "Warning tsunami sudah berakhir. Tidak ada tsunami lagi," kata Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono dalam wawancara dengan Kompas TV, Jumat (28/9). 

Rahmat menegaskan, dengan dicabutnya peringatan tsunami tersebut,  masyarakat yang tinggal di pesisir pantai tidak perlu khawatir. "Masyarakat dipantai bisa tetap beraktivitas," kata dia. 

Kendati demikian, Rahmat tetap meminta masyarakat mengantisipasi gempa susulan yang kemungkinan masih akan terjadi. Hingga pukul 21.00 WIB, BMKG mencatat sudah ada 31 gempa susulan yang berpusat di Donggala. 

5. Beredar video amatir terjangan tsunami

Video datangnya tsunami beredar di media sosial dan aplikasi pesan WhatsApp. Sejumlah pesan itu menyebut bahwa gelombang tsunami itu terjadi di Palu, tepatnya di depan X8 Palu Grand Mall.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono pun mengaku sudah melihat namun tidak tahu persis di mana dan kapan video itu diambil. 

Rahmat mengatakan, Palu memang sempat dilanda tsunami, namun itu telah berlalu dan belum ada potensi untuk kembali. 

"Tsunami memang terjadi. BMKG sudah memberikan warning, dan itu telah berakhir berakhir,tidak ada lagi. Daerah pantai Palu sudah dinyatakan aman," kata Rahmat dalam wawancara dengan Kompas TV, Jumat malam.

6. Korban dan dampak bencana tsunami masih terus dipantau

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, berdasarkan konfirmasi kepada BMKG, tsunami menerjang pantai Talise di Kota Palu dan pantai di Donggala. Beberapa video tsunami yang didokumentasikan masyarakat dan disebarkan di media sosial, kata Sutopo, adalah benar. 

"Gempa tsunami menimbulkan korban jiwa. Laporan sementara, terdapat beberapa korban yang meninggal karena tertimpa bangunan roboh. Jumlah korban dan dampaknya masih dalam pendataan," kata Sutopo dalam siaran pers, Jumat malam. 

Sutopo menambahkan, anggota BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, dan relawan terus melakukan evakuasi dan pertolongan pada korban. "Korban yang luka-luka ditangani oleh petugas kesehatan. Penanganan darurat terus dilakukan," kata dia. 

7. Kerusakan yang terpantau akibat tsunami

Kepala Stasiun Geofisika Kota Palu Cahyo Nugroho belum bisa memastikan korban jiwa akibat tsunami di Kota Palu. Hal itu dikarenakan jaringan komunikasi yang terputus akibat gempa. 

Cahyo juga mengatakan, tsunami telah menyebabkan sebuah kapal melintang di tengah jalan, yang berlokasi di Kecamatan Mamboro, Kota Palu. 

"Belum ada yang jalan keluar. Komunikasi pun terputus akibat gempa. Efek tsunami sementara ini berdasarkan hasil observasi kami itu ada sebuah kapal yang melintang di tengah jalan," ungkap Cahyo, di ruang mini gedung C, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta Pusat, Jumat (28/9). 

Selain itu, tsunami disebutnya juga menyebabkan Jembatan Vatulemo di Kota Palu terputus. 

"Jembatan tadi saya baru dapat gambar saja, bukan hasil observasi kami. Belum tahu sumbernya dari mana. Untuk sementara gambar seperti itu kan sulit direkayasa, jadi kami pastikan itu betul terjadi. Tapi, sumbernya belum dikonfirmasi," tambah Cahyo.
Kebutuhan ini sangat dibutuhkan bagi warga terkena dampak gempa-tsunami di palu dan donggala

Kebutuhan ini sangat dibutuhkan bagi warga terkena dampak gempa-tsunami di palu dan donggala


Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, setidaknya ada 48 korban jiwa dalam tsunami di Kota Palu dan Donggala yang terdata sampai pukul 10:00 WIB Sabtu (29/9). 

Selain itu, sekitar 356 orang luka dan ribuan rumah rusak. Jumlah korban jiwa diperkirakan terus bertambah seiring dengan pencarian korban berlangsung. 

"Tim SAR dan relawan menemukan beberapa korban meninggal akibat gempa dan tsunami di Kota Palu dan Donggala. Jumlah korban masih pendataan," kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB pada rilis yang diterima KONTAN, Sabtu.

Gempa dengan magnitudo 7,4 terjadi kemarin di Sulawesi Tengah pukul 17:02 WUB dan membangkitkan tsunami di beberapa wilayah pantai di Donggala dan pantai Talise Palu. Gelombang I tsunami datang 20-25 menit pascagempa diikuti gelombang selanjutnya.

Tinggi tsunami antara 0,5 meter - 3 meter, dan menerjang pemukiman di sepanjang pantai. BMKG mengakhiri peringatan dini pada kemarin pukul 17:36 WIB. 

BNPB menyebut, komunikasi lumpuh akibat listrik padam, sehingga menyebabkan pendataan dan pelaporan dampak gempa dan tsunami di Kota Palu dan Donggala tak dapat dilakukan dengan cepat.

Saat ini, Bandara Palu Mutiara SIS Al-Jufrie sudah bisa menerima bantuan yang diantarkan oleh pesawat Hercules dan ATR. Namun, untuk penerbangan komersil, masih ditutup sampai 19:20 WITA hari ini.

Dalam catatan BNPB, kebutuhan mendesak juga diperlukan oleh para pengungsi. Antara lain, perbaikan listrik, perbaikan jalur komunikasi, permakanan dengan makanan siap saji, makanan bayi dan anak.

Selain itu, diperlukan tenda, terpal, selimut, vertbed, rumah sakit lapangan, tenaga medis, bantuan obat-obatan, dan air bersih.
BMKG: Ada 11 titik panas di Sumatera

BMKG: Ada 11 titik panas di Sumatera


Banda Aceh - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Blang Bintang mengungkapkan, 11 titik panas terdeteksi oleh satelit yang tersebar pada lima provinsi di Sumatera.

"Sore ini, ada 11 titik panas di Sumatera. Tapi, tak satu titik pun berada di Aceh," ucap Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Blang Bintang, Zakaria Ahmad di Aceh Besar, Rabu.

Ia menerangkan, ke-11 titik panas yang tersebar di lima provinsi, yakni Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Lampung.

Dari total jumlah titik panas ini, ada tiga titik di antaranya patut diduga sebagai titik api masing-masing di Bangka Belitung dan Lampung, serta dua titik sebagai titik api karena memiliki tingkat kepercayaan di atas 81 persen di Lampung.

Sebelumnya di pagi hari, terdapat empat titik api sedang membara akibat kebakaran hutan dan lahan di dua kecamatan dengan memiliki tingkat kepercayaan di atas 93 persen yang terpantau berada di Kabupaten Gayo Lues, Aceh.

"Kemungkinan besar, empat titik api di Gayo Lues telah dipadamkan pihak terkait. Dan malam ini, Gayo Lues berpotensi turun hujan sedang hingga lebat bersama Bener Meriah, Subulussalam, Aceh Singkil, Aceh Selatan, dan Aceh Utara mulai pukul 19.30 WIB hingga 22.30 WIB," kata Zakaria.

Pemerintah tahun ini mengawal ketat wilayah rawan kebaran hutan dan lahan, sehingga berhasil menurunkan jumlah titik api hingga 96,5 persen di seluruh Indonesia dalam periode 2015-2017.

"Berdasarkan data hasil pantauan satelit milik NOAA, jumlah titik api di 2015 mencapai 21.929, sedangkan di 2016 menurun menjadi 3.915. Pada 2017, jumlah titik api kembali menurun menjadi 2.257," kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Raffles B Panjaitan.

KLHK mencatat luas area hutan dan lahan yang terbakar di 2015 mencapai 2.611.411 hektare (ha). Angka ini menurun menjadi 438.360 ha di 2016, lalu turun lagi menjadi 165.464 ha di 2017.

"Sejak 2016, perusahaan tidak berani lagi melakukan pembukaan lahan dengan membakar, ini berpengaruh. Kalau pun ada yang terbakar itu hanya spot-spot kecil saja karena kelalaian," ujar Raffles.

Kupang diguncang 17 kali gempa

Kupang diguncang 17 kali gempa


Kupang - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, pada Selasa siang hingga pukul 22.30 WITA, sudah 17 kali gempa mengguncang Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Hingga pukul 22.30 WITA, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) sebanyak 17 kali setelah gempa 6,2 SR pada pukul 14.08.10 WIB," kata Kepala BMKG Kampung Baru - Kupang Robert Owen Wahyu di Kupang, Selasa.

Menurut dia, gempa terakhir terjadi pada pukul 21.40.29 WITA dengan sekala M=3.

Episentrum gempa bumi terletak pada koordinat 10,87 Lintang Selatan dan 124,16 Bujur Timur pada 97 km tenggara Kabupaten Kupang di kedalaman 10 km.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi di Laut Timor ini merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas tektonik di outer-rise.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi di wilayah Laut Timor ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar naik (Thrust Fault). 

Gempa bumi berdasarkan peta tingkat guncangan (Shakemap BMKG) dan laporan dari masyarakat menunjukkan bahwa guncangan dirasakan di Kota Kupang I SIG-BMKG (I-II MMI).

Hingga Selasa malam belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Menurut BMKG, hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi itu tidak berpotensi tsunami.

Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.*
Puting Beliung Terjang Kecamatan Jangka

Puting Beliung Terjang Kecamatan Jangka


WARTAACUT.COM, BIREUEN – Angin puting beliung menerjang Kecamatan Jangka, Bireuen, Rabu (6/12/2017) menjelang Maghrib.

Akibatnya sebanyak 17 rumah di Desa Tanoh Anoe, Jangka, rusak berat.

Informasi yang dihimpun dari beberapa korban puting beliung di lokasi kejadian menyebutkan, angin puting beliung yang terjadi di kawasan Jangka hanya berlangsung sekitar lima menit. (SerambiNews)

Beberapa warga sempat melihat angin puting beliung seperti awan hitam menghantam rumah mereka.

Selain merusak rumah penduduk, angin puting beliung juga menghantam puluhan pondok atau gubuk tempat pengolahan garam milik warga Desa Tanoh Anoe.

“Kami sangat takut saat terjadi angin puting beliung, karena terjadi sekitar lima menit. Rumah kami rusak berat,” kata Saifuddin, warga Tanoh Anoe.

Hingga berita ini diturunkan, sejumlah warga bersama Muspika Jangka, Ketua PMI Cabang Bireuen, Edi Saputra (Edi Obama) bersama relawan PMI, RAPI, dan relawan Tagana, TNI dan Polri masih membersihkan puing-puing rumah yang rusak diterjang puting beliung.

Sumber : SerambiNews
Banjir Bandang Terjang Lima Desa di Aceh Tamiang, Warga Sempat Mengungsi

Banjir Bandang Terjang Lima Desa di Aceh Tamiang, Warga Sempat Mengungsi


WARTAACUT.COM - KUALASIMPANG – Akibat derasnya hujan di kawasan pengunungan, hulu Aceh Tamiang, dilaporkan, lima desa di kecamatan Tamiang Hulu dan Kejuruan Muda diterjang banjir bandang.

Tidak ada  korban jiwa dalam musibah yang terjadi tengah malam itu, Minggu (3/12/2017). 

Saat ini air sudah surut dan warga yang semalam mengungsi sudah kembali ke rumah untuk membersihkan rumah mereka.

Ketua Search And Rescue (SAR) Aceh Tamiang, Syaipul Syahputra kepada Serambinews.com, Minggu (3/12/2017) mengatakan, banjir bandang yang terjadi di hulu Aceh Tamiang merendam lima kampung. 

Kampung Bandar Khalifah, Rongo, Kampung Perkebunan Pulau tiga di Dusun Tempel dan Avdeling VI, Kampong Alur Tani semuanya Kecamatan Tamiang Hulu dan Dusun Lubuk, Kampung Alur Selebu Kecamatan Kejuruan Muda.

Tingginya curah hujan di daerah hulu, membuat sungai Kaloy tidak mampu menerima menambuat debit air sungai sehingga melimpah ke pemukiman warga. 

Air mulai naik di lima desa tersebut, Sabtu (2/12/2017) sekira pukul 20.00 WIB.

Terus bergerak naik, puncaknya, Minggu (3/12/2017) sekira pukul 00.30 – 03.00 WIB, ketinggian air mencapai 1-1,5 meter dan kencang.

Karena air semakin naik, sebagian warga langsung mengungsi, sementara orang tua, anak-anak, ibu hamil di evakuasi gabungan tim SAR, TNI/Polri dan warga setempat ke daerah yang lebih tinggi.
“ Pagi harinya air sudah surut kembali dan warga sudah kembali kerumah,” ujar Syaipul.