Tampilkan postingan dengan label Aceh Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh Utara. Tampilkan semua postingan
Ini Isi Petisi Aliansi Mahasiswa Pase yang Diteken Ketua DPRK Lhokseumawe dan Aceh Utara

Ini Isi Petisi Aliansi Mahasiswa Pase yang Diteken Ketua DPRK Lhokseumawe dan Aceh Utara



LHOKSUKON – Pimpinan DPRK Aceh Utara dan Lhokseumawe meneken petisi (permohonan resmi kepada pemerintah) yang disampaikan seribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pase dalam aksi demo, Selasa (24/9/2019) dalam waktu yang berbeda.
Untuk Lhokseumawe petisi tersebut diteken Ketua Sementara Ismail A Manaf. Sedangkan Aceh Utara juga diteken Ketua Sementara Arafat.
Amatan Serambinews.com, seribuan mahasiswa dari empat kampus sekira pukul 09.00 WIB mulai menuju ke Lapangan Hiraq Lhokseumawe mengenakan almamater.
Masing-masing Universitas Malikussaleh (Unimal), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe, Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKEs) Bumi Persada dan Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Lhokseumawe
Lalu mereka mulai berdemo di Gedung DPRK Lhokseumawe pukul 11.00 WIB. Aksi demo terseut mendapat pengawalan ketat dari Polres Lhokseumawe.  Sedangkan demo di DPRK Aceh Utara mulai berlangsung sekira pukul 13.30 WIB.
13 poin yang beradalam petisi aliansi mahasiswa Pase tersebut adalah :
1.    Meminta Presiden mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perpu) untuk mencabut UU KPK yang baru
2.    Menuntut Pemerintah Jokowi bertanggungjawab atas masalah asap dengan segera memadamkan kebakaran dan menyelematkan korban, beri perawatan gratis pada korban yang sakit serta bangun pusat rehabilitasi dan penanganan korban asap
3.    Tolak Rancangan KUHP
4.    Hentikan Kriminalisasi dan bebaskan pejuang demokrasi
5.    Tolak TNI-Polri yang menduduki jabatan sipil
6.    Hentikan segala bentuk perampasan ruang hidup
7.    Buka akses bagi jurnalis independen untuk meliput di papua
8.    Tolak Rancangan UU pertanahan
9.    Menuntut Pembubaran Badan Rektorasi Gambut
10.  Stop Industri Sawit
11.  Bentuk Panitia khusus (Pansus) untuk menuntaskan persoalan pupuk bersubsidi di Aceh Utara dan Lhokseumawe
12.  Segera Tuntaskan Permasalah irigasi Krueng Pase yang menjadi urat nadi pertanian rakyat dan keresahan tidak cukup suplai air
13.  Stop kriminalisasi petani berinovasi menuju kedaulatan pangan Aceh sebagai lumbung gabah secara nasional.(*)
Sumber: Serambinews
Pelaku Penipuan Online di Luar Aceh

Pelaku Penipuan Online di Luar Aceh



LHOKSUKON – Penyidik Reskrim Polres Aceh Utara kini menangani beberapa kasus penipuan secara online yang dilaporkan warga. Untuk itu, pihaknya berharap masyarakat supaya berhati-hati bila berbelanja via online. Apalagi, pelaku mayoritas berasal dari luar Aceh.
Informasi yang diperoleh Serambi, korban dari penipuan online ini antara lain penjual handphone, guru, pegawai negeri, dan TNI. Pemilik ponsel di Kecamatan Tanah Jambo Aye, baru-baru ini menerima pesan singkat yang berisi informasi penjualan Iphone murah.
Harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan di pasaran dengan alasan cuci gudang. Karena mempercayai info itu, kemudian pemilik ponsel mengirim uang kepada nomor rekening yang diberikan pengirim pesan singkat tersebut. Ternyata, barang yang diterima setelah beberapa hari menunggu hanya kotak kosong.
Selain itu, juga ada beberapa warga yang mendapatkan SMS berisi hadiah mobil. Pengirim SMS meminta supaya mereka yang mendapatkan hadiah mobil mengirim uang untuk pengurusan pengiriman. Namun, setelah uang dikirim, nomor handphone pengirim SMS tersebut tidak aktif lagi.
Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reskrim, AKP Adhitya kepada Serambi, Minggu (22/9/2019) menyebutkan, pihaknya saat ini sudah menerima beberapa laporan pengaduan penipuan via online. Namun, polisi belum bisa menangkap calon tersangka karena lokasi mereka berada di luar Aceh.
“Yang kita tangani ada beberapa. Masih terkendala karena setelah kita cek pelaku berada di Sulawesi, dan Sumatera Selatan,” ujar Kasat Reskrim. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya melalui petugas Bhabinkamtibmas dan Bimmas akan mensosialisasi kepada masyarakat agar jangan mudah tertipu dengan belanja online.
Sumber: Serambinews
Hati-Hati Belanja Via Online, Ini Sederet Kasus Warga Tertipu di Aceh Utara

Hati-Hati Belanja Via Online, Ini Sederet Kasus Warga Tertipu di Aceh Utara



LHOKSUKON – Penyidik Reskrim Polres Aceh Utara kini sedang mengangani beberapa kasus penipuan secara online dilaporkan warga di Kabupaten Aceh Utara.
Untuk itu, penyidik berharap masyarakat supaya berhati-hati bila berbelanja via online seperti handphone dan barang lainya yang tidak jelas penjualnya.
Informasi yang diperoleh wartawan korban dari penipuan online ini antara lain adalah penjual handphone, kemudian ada juga PNS dan bahkan TNI.
Pemilik ponsel di Tanah Jambo Aye, baru-baru ini menerima pesan singkat yang berisi informasi penjualan Iphone murah.
Harga yang ditawarkan bahkan setengah harga dari harga standar di pasaran, dengan alasan cuci gudang. Karena dikelabui kemudian pemilik ponsel tersebut mengirim uang kepada nomor rekening yang diberikan pengirim pesan singkat tersebut.
Tapi ternyata yang diterima setelah beberapa hari menunggu, adalah kotak kosong.
Selain itu, juga ada beberapa warga yang mendapatkan SMS berisi hadiah mobil. Pengirim SMS meminta supaya mereka yang mendapatkan hadiah mobil tersebut mengirim uang untuk pengurusan pengiriman.
Namun, ternyata setelah uang dikirim, handphone pengirim SMS tersebut tidak aktif lagi.
Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reskrim AKP Adhitya kepada Serambinews.com, Minggu (22/9/2019) menyebutkan, pihaknya saat ini sudah menerima beberapa laporan pengaduan penipuan via online.
Namun, polisi belum bisa menangkap calon tersangka, karena lokasi mereka berada di luar Aceh.
“Yang kita tangani ada beberapa, masih terkendala, setelah kita cek calon tersangka jauh di daerah Sulawesi, kemudian ada juga yang di Sumatra Selatan,” ujar Kasat Reskrim.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya melalui ptugas bhabinkamtibmas dan Bimmas untuk akan mensosialisasi terhadap masyarakat agar jangan mudah tertipu.(*)
Pasutri di Aceh Utara Ini jadi Target Operasi Polisi, Begini Saat Penangkapannya

Pasutri di Aceh Utara Ini jadi Target Operasi Polisi, Begini Saat Penangkapannya



LHOKSUKON – Seorang ibu rumah tangga (IRT) berinisial HN (37) asal Desa Meunasah Nga Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara bersama suaminya sudah lama menjadi target operasi (TO) polisi.
Karena diduga HN selama ini menjual narkoba di rumahnya bersama suaminya.
Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reserse Narkoba AKP Ildani Ilyas kepada Serambinews.com, Sabtu (21/9/2019) menyebutkan, petugas mendapat informasi kalau pasangan suami istri (pasutri), tersebut selama ini menjadi pengedar sabu-sabu di rumahnya.
“Bila tak ada suaminya di rumah, tersangka yang menjual sabu-sabu,” ujar Kasat Narkoba.
Lalu, polisi menyelidiki informasi tersebut untuk memastikan dengan melakukan pengintaian.
Setelah dipastikan kemudian polisi langsung menangkap dan menggeberek rumah tersangka pada Jumat (20/9/2019) malam atau seusai magrib.
Saat itu suami tersangka tak ada di rumah.
Setelah berhasil menangkap tersangka polisi juga berhasil menyita 11 paket narkotika jenis sabu yang dikemas dengan plastik bening seberat 0,95 gram setelah dilakukan penggeledahan.
Lalu tersangka langsung dibawa ke Mapolres Aceh Uara untuk proses penyelidikan.
“Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, tersangka sudah beberapa bulan ini menjual sabu-sabu di rumahnya,” ujar Kasat Narkoba.
Polisi kini sedang mengejar suami tersangka sudah kabur setelah penangkapan istrinya juga sedang mendalami dari mana tersangka mendapatkan barang bukti tersebut untuk diedarkan.(*)  
Aceh Utara Bawa 56 Peserta ke MTQ Provinsi

Aceh Utara Bawa 56 Peserta ke MTQ Provinsi



LHOKSUKON - Kafilah Aceh Utara membawa puluhan qari dan qariah ke Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXIV Aceh di Sigli, seusai mengikuti prosesi penglepasan di Pendopo Bupati Aceh Utara oleh Sekda Aceh Utara, Abdul Aziz MH, Jumat (20/9).
"Kita hari ini berangkat dengan jumlah peserta 56 orang. Dengan jumlah tersebut kita dapat mengikuti semua cabang yang diperlombakan dalam MTQ kali ini," ujar Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Utara, Tgk M Idris SE kepada Serambi.
Disebutkan, sebelum peserta dibawa ke MTQ provinsi, mereka sudah terlebih dahulu mengikuti serangkaian persiapan mulai dari pembinaan selama enam hari, dan juga pemantapan selama enam hari. "Untuk pemantapan, kita undang langsung dewan juri tingkat provinsi," ujar Tgk Idris.
Diharapkan dengan persiapan maksimal, Aceh Utara yang pernah meraih juara umum pada ke MTQ Ke-32 di Nagan Raya pada tahun 2015 dapat mengulang kembali prestasi itu. Pada MTQ Ke-33 di Aceh Timur, Aceh Utara berada di posisi ketiga. "Karena itu, kali ini kita harus mampu memperbaiki atau menaiki peringkat," katanya.
Cabang yang dilombakan meliputi tilawah, qiraat sab'ah, fahmil, syarhil, khattil quran, MMQ, dan tafsir. "Hampir semua cabang peserta kita dilatih oleh dewan juri tingkat provinsi," katanya. Peserta yang tampil kali ini di semua cabang adalah peserta baru hasil seleksi tingkat kabupaten.
Hanya cabang khattil saja yang merupakan peserta lama, tapi mereka sudah pindah cabang.  Mereka adalah peserta yang diseleksi dari peserta tingkat kabupaten lalu yang diadakan di Landing Kecamatan Lhoksukon. "Semoga saja semua peserta bisa tampil dengan baik, sehingga kita bisa memperbaiki peringkat," ujar Tgk IDris.
Sementara itu, Sekda Aceh Utara, Abdul Aziz MH saat menyampaikan sambutan ketika penglepasan kafilah berharap kepada semua peserta untuk tetap kompak dan mengikuti semua arahan dari panitia. Selain itu, peserta diminta bersungguh-sungguh dalam mengikuti event tersebut. "Jaga nama baik dan marwah Aceh Utara," pungkas Sekda Aceh Utara.
Dana Desa Matang Paya Jadi Temuan Oleh Inspektorat

Dana Desa Matang Paya Jadi Temuan Oleh Inspektorat



LHOKSUKON – Inspektorat Aceh Utara menemukan indikasi pengelolaan dana di Desa Matang Paya, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara tahun anggaran 2018 fiktif dan tak sesuai dengan Rincian Anggaran Biaya (RAB). Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) tersebut sudah diserahkan kepada Camat Baktiya Barat untuk disampaikan kepada Keuchik Desa Matang Paya periode 2013-2019, Munadir.
“Benar, memang ada temuan beberapa pekerjaan tahun 2018 di Desa Matang Paya oleh Inspektorat. Karena memang yang berhak melakukan audit adalah Inspektorat,” kata Camat Baktiya Barat, Edwar BA kepada Serambi, Rabu (18/9/2019).
Edwar menyampaikan dirinya sudah memanggil keuchik sebelumnya dan tuha peut untuk menyerahkan LHP tersebut kepada mereka agar bisa ditindaklanjuti segera. “Keuchik diberikan kesempatan selama dua bulan untuk dapat menyelesaikan temuan tersebut. Jika selama dua bulan, tidak diselesaikan, persoalan tersebut dapat dibawa ke ranah hukum,” ujar Camat Baktiya Barat.
Temuan tersebut antara lain, pajak tahun 2018 Rp 31,9 juta yang belum disetor ke kas negara, yaitu pajak pertambahan nilai (PPN) Rp 25,1 juta dan pajak penghasilan (PPh) Rp 6.7 juta. Temuan kedua merupakan pekerjaan saluran yang dikerjakan tidak sesuai dengan RAB.
Nilai pekerjaan saluran tersebut sebesar Rp 54,5 juta tapi yang pertanggungjawabkan Rp 28.7 juta. Temukan ketiga adalah pengadaan komputer Rp 7,2 juta yang belum dilaksanakan. Kemudian pengadaan baliho informasi Rp 3,5 juta juga tidak sesuai dengan pertanggungjawaban.
Kemudian temuan ke empat, penyertaan modal Rp 27 juta untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMG) tidak disalurkan. Sementara dalam laporan pertanggungjawabkan, disebutkan sudah disalurkan. Selain itu juga ada beberapa temuan lainnya.
Keuchik Matang Paya Kecamatan Baktiya Barat Aceh Utara periode 2013-2019 Munadir menyatakan sudah menerima Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Inspektorat Aceh Utara terkait pengelolaan dana desa 2018 di desanya pada Rabu (18/9/2019).
LHP tersebut diserahkan oleh Camat Baktiya Barat Edwar BA dalam pertemuan di kantor camat yang juga dihadiri tuha peut desa setempat. Munadir tidak membantah adanya temuan Inspektorat, dan ia mengaku akan menuntaskan pekerjaan tahun 2018 dalam masa dua bulan kedepan.
“Untuk pajak kami sudah bayar setengah, sekitar Rp 12 atau Rp 13 juta sudah kami bayarkan. Sisanya dari Rp 31,9 yang belum kami bayar, akan kami bayar dalam masa dua bulan, “ ujar Munadir kepada Serambi.
Sedangkan untuk pekerjaan saluran tersebut Rp 54.5 juta sudah dituntaskan sebelumnya. Saat itu, kata Munadir, pekerjaan saluran belum selesai tapi sudah dilakukan pemeriksaan. “Untuk saluran sudah selesai kami kerjakan,” katanya.
Sedangkan untuk pekerjaan seperti pengadaan komputer Rp 7.2 juta, pengadaan baliho informasi Rp 3.5 juta dan penyertaan modal Rp 27 juta untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMG), juga akan dituntaskan dalam waktu dua bulan kedepan. “Yang akan kita lengkapi semua pekerjaan yang ketinggalan,” katanya.
Menurutnya, pekerjaan tak sempat dikerjakan karena ada kelalain dari tim pelaksana kegiatan (TPK) ataupun bendahara. Untuk dananya, kata keuchik, masih di tangan TPK dan bendahara dan akan dikembalikan semua, supaya tidak menjadi persoalan hukum.
Kabut Asap Makin Tebal di Aceh, Jarak Pandang 2 Kilometer

Kabut Asap Makin Tebal di Aceh, Jarak Pandang 2 Kilometer



LHOKSUKON - Kabut asap yang melada wilayah Provinsi Aceh kini semakin tebal.

Asap kiriman itu dari sejumlah daerah di Sumatera yang mengalami kebakaran lahan seperti Riau dan Jambi. Jarak pandang saat ini hanya dua kilometer.

Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun I Sultan Iskandar Muda, Zakaria, menyebutkan, kabut asap terpantau di Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Tamiang dan Kota Langsa.

"Tidak ada ditemukan titik api di Provinsi Aceh, sehingga kabut asap yang melanda wilayah Aceh, maka didiuga akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah di Pulau Sumatera," ujar Zakaria, saat dihubungi, Rabu (18/9/2019).

Jarak pandang hanya dua hingga empat kilometer. Dia menyebutkan, untuk penerbangan jenis pesawat ATR jarak pandang empat kilometer relatif aman.

Namun, sangat terganggu bagi maskapai yang menggunakan pesawat jenis Boeing.

“Pesawat ATR masih bisa terbang, namun harus tetap waspada,” kata dia.

Dia memperkirakan, kabut asap itu akan berlangsung tiga hari ke depan. Apalagi, wilayah Aceh berdasarkan citra satelit tidak berpotensi hujan deras.

Kabut asap ini dalam sebulan terakhir sudah tiga kali melanda Aceh. Seluruhnya berasal dari kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Jambi, Riau, dan daerah lainnya di Sumatera.

Kabut Asap Mulai Selimuti Subulussalam, Tak Ada Kebakaran Lahan, Apakah Kiriman dari Riau?
Cuaca Kota Subulussalam, Rabu (17/9/2019) sejak pagi tampak redup dan hingga matahari tidak terlalu terik akibat diselimuti kabut asap.
Kabut ini diduga dampak dari asap kiriman dari Provinsi Riau yang dalam beberapa waktu terakhir dilanda asap tebal akibat kebakaran hutan.
Kepala pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Subulussalam, Nesal Putra, yang dikonfirmasi Serambinews.com membenarkan berdasarkan data BMKG cuaca di Kota Sada Kata itu berawan.
Namun sejauh ini, Nesal belum dapat memastikan penyebab redupnya cuaca di Subulussalam
Nesal mengaku untuk wilayah Kota Subulussalam dan sekitarnya tidak ada titik api atau kebakaran lahan.
Sementara ketika ditanyai apakah asap yang menyelimuti Kota Subulussalam merupakan kiriman dari Provinsi Riau atau Pekanbaru, Nesal juga belum bisa memastikan.
Dikatakan, berdasarkan data mereka, Kota Medan daerah terdekat Riau juga belum terkena dampak asap.
Pantauan kabut asap di Kota Subulussalam sudah menyelimuti Rabu pagi. 
Sementara di udara juga belum tampak tebaran semacam abu  yang menerpa atap-atap rumah dan halaman penduduk.
Aktivitas warga juga belum terlalu terganggu, namun  jika ini benar merupakan asap kiriman dari Riau, pemerintah diminta menyiapkan masker kepada masyarakat agar tidak terkena dampak Ispa. (*)
Meraba Kans Malaysia Gugat Indonesia akibat Kabut Asap

Kala kualitas udara kian buruk, sejumlah warga Malaysia menggaungkan desakan agar pemerintah Negeri Jiran menggugat Indonesia atas kerugian akibat kabut asap yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan.



Dengan nilai simbolis gugatan 1 ringgit atau setara Rp3.300, 21 insan profesional Malaysia itu mengaku tidak mementingkan keuntungan.

Dalam surat desakan yang diteken oleh Guru Besar Universitas Malaya, Khor Swee Kheng, itu mereka mengklaim hanya ingin pemerintah Indonesia bertanggung jawab dan menjamin agar karhutla tidak terjadi lagi.

"Ini tawaran kami: Malaysia (dengan atau tanpa Singapura dan Brunei) menggagas gugatan atas Indonesia di Mahkamah Internasional (ICJ) untuk nilai simbolis 1 ringgit dan komitmen berkekuatan hukum untuk mencegah karhutla di masa depan," demikian surat desakan mereka seperti dilansir Malaysiakini.


Tak lama setelah desakan ini digaungkan, sejumlah pengamat langsung buka suara. Menurut mereka, gugatan ini nyaris mustahil dilakukan di mata hukum internasional.

Kemustahilan opsi ICJ

Seorang pakar hukum internasional dari Singapore Institute of International Affairs, Oh Ei Sun, mengatakan bahwa alasan utama desakan ini sangat sulit terwujud adalah cara kerja ICJ yang berbeda dengan sistem peradilan lainnya.

"ICJ tidak seperti pengadilan sipil, di mana kalian dapat menggugat seseorang dan pihak lainnya, tak peduli mereka suka atau tidak, dan mereka harus merespons," kata Oh kepada New Straits Times.

Menurut Oh, dalam kerangka kerja ICJ, kedua belah pihak yang bermasalah harus sepakat terlebih dulu untuk membawa perselisihan mereka ke Mahkamah Internasional.

Mencalang Kans Malaysia Tuntut Indonesia Akibat Kabut AsapIlustrasi. (Istockphoto/simpson33)

Secara umum, ICJ dapat menerima satu kasus melalui dua skenario. Pertama, jika dua negara yang bersengketa sudah memiliki perjanjian untuk mengalihkan satu kasus ke Mahkamah Internasional.


Jika memang kedua negara tak pernah meneken perjanjian semacam itu, ICJ baru dapat mempertimbangkan satu kasus ketika semua pihak sepakat untuk membawa kasus ke Mahkamah Internasional.

Pengacara sekaligus ahli hukum internasional Lim Wei Jiet menganggap pintu Malaysia untuk masuk ke ICJ melalui skenario pertama sudah pasti tertutup.

Satu-satunya perjanjian yang mengikat Indonesia dan Malaysia terkait kabut asap hanya ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution.

"Pasal 27 dalam perjanjian itu menyebutkan bahwa satu kasus 'harus diselesaikan melalui konsultasi dan negosiasi.' Dengan demikian, Malaysia tidak bisa masuk ke yurisdiksi ICJ melalui kesepakatan tersebut," tutur Lim kepada Malay Mail.

Malaysia pun hanya mempunyai satu pintu lain agar dapat masuk ke ranah ICJ, yaitu mencapai kesepakatan dengan Indonesia untuk membawa masalah ini ke Mahkamah Internasional.

Namun, Lim ragu kesepakatan itu akan tercapai karena Indonesia pasti bakal berdalih ingin "melindungi kedaulatannya."

Buka jalan dengan pembuatan undang-undang

Untuk memecah kebuntuan, seorang pengacara dan ahli hukum internasional, New Sin Yew, mengatakan bahwa satu-satunya cara agar Malaysia dapat menuntut pihak di Indonesia adalah dengan membuat undang-undang.

"Yang kami butuhkan adalah Undang-Undang Polusi Asap Lintas Batas seperti di Singapura agar kami dapat membuat para pelaku bertanggung jawab," ucap New.





Dengan undang-undang tersebut, Singapura dapat menjatuhkan denda terhadap perusahaan atau oknum lain yang menyebabkan kabut asap di negaranya.

New menyarankan agar pemerintah Malaysia membuat undang-undang serupa, tapi lebih kuat dengan menambahkan kemungkinan untuk menjebloskan individu ke dalam penjara.

"Jika orang itu masuk ke Malaysia, kita bisa menangkapnya. Atau, jika orang itu berada di Malaysia, ia harus mengaku bersalah dan kita menahannya. Hukum ini juga harus bisa menargetkan pembuat kebijakan, bukan hanya orang yang melakukan pembakaran," tutur New. (has)
Janda Miskin di Aceh Utara Tinggal di Terpal Plastik Bersama Empat Anaknya

Janda Miskin di Aceh Utara Tinggal di Terpal Plastik Bersama Empat Anaknya



LHOKSUKON – Nurhayati (44) janda empat anak asal Desa Biara Timu Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara sudah dua bulan menempati rumah yang dibangun dari terpal plastik.
Rumah tersebut berdinding dan atap plastik di tanah peninggalan suaminya sekitar dua bulan yang lalu.
“Sekitar empat tahun yang lalu, setelah suaminya meninggal, janda tersebut pindah dari Biara Timu ke kawasan Kecamatan Peureulak Aceh Timur untuk bekerja di tempat usaha batu bata,” ujar Kepala Urusan (Kaur) Pembangunan Biara Timu Kecamatan Tanah Jambo Aye, Akmal Daud kepada Serambinews.com, Selasa (17/9/2019).
Setelah bekerja di dapur batu-bata, kata Akmal Daud, kemudian Nurhayati menikah dengan seorang pria di kawasan itu.
Namun, rumah tangganya tak berjalan sesuai yang diharapkan janda tersebut.
Kemudian ia pisah, dan pulang kembali ke Tanah Jambo Aye.
“Selama di sana (Peureulak) korban tinggal di gudang tempat usaha batu bata, karena tak memiliki rumah,” ujar Akmal.
Dirinya juga mengaku terkejut ketika mendapat informasi ternyata Nurhayati sudah pulang kembali ke Biara Timu dan mendirikan rumah plastik.
“Memang kondisinya sangat memprihatikan, ketika semalam hujan terpal plastik tersebut bocor, entah bagaimana mereka bisa tidur,” kata Akmal.
Dalam rumah plastik tersebut selain ditempati janda miskin juga ada empat anak yatim, bahkan dua diantaranya sekarang sudah putus sekolah.
Keduanya adalah Ayu Amelia (13) dan Yesi Maulana (17).
Sedangkan dua lagi, Safrizal (18) dan putri sulungnya, Meutia (23).
“Persoalan sekarang bukan persoalan sudah berapa lama tinggal mereka di rumah plastik tersebut, tapi bagaimana menyelamatkan supaya anak yatim dalam rumah tersebut tak putus sekolah dan mengaji,” ujar Akmal.
Pihak keluarga janda tersebut bukan tidak membantu, tapi kehidupan keluarganya juga miskin.
“Mohon, memang saudara mereka juga miskin, sehigga tak bisa membantu,” pungkas Kaur Pembangunan Biara Timu.(*) 
Kabut Asap Mulai Landa Aceh Utara dan Sekitarnya

Kabut Asap Mulai Landa Aceh Utara dan Sekitarnya



LHOKSEUMAWE -  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Malikussaleh Aceh Utara, Selasa (17/9/2019) sore menginformasikan, kalau kabut asap mulai melanda Aceh Utara.
Walaupun sejauh ini, terlihat belum mangganggu aktivitas masyarakat.
Berikut pesan yang dikirim Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Malikussaleh Aceh Utara, Febrianto Simanjuntak melalui grup WhatsApp Info BMKG Malikussaleh.
"Yth Bapak / Ibu, hari ini terpantau kabut asap mulai memasuki wilayah Aceh Utara. BMKG Malikussaleh Aceh Utara mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam berkendaraan, seiring potensi menurunnya jarak pandang, menganjurkan untuk menggunakan masker ketika melaksanakan aktivitas di luar ruangan, serta banyak minum air saat beraktivitas di luar rumah untuk menjaga kesehatan".
Namun, sejauh ini wartawan belum mendapatkan informasi lanjutan terkait kondisi jarak pandang secara detail akibat kabut asap.
Serta kabut asap tersebut berasal dari mana.
Pantauan wartawan, di Lhokseumawe, mulai terasa adanya kabut asap sejak siang tadi.
Namun kondisi cuaca masih terik.
Aktivitas masyarakat pun masih berjalan normal. (*)
Seorang Petani di Aceh Utara Tenggelam di Kuala Jambo Aye, Begini Kronologisnya

Seorang Petani di Aceh Utara Tenggelam di Kuala Jambo Aye, Begini Kronologisnya



LHOKSUKON – Seorang petani asal Desa Meunasah Geudong, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara Asnawi (45) dilaporkan tenggelam di Kuala Jambo Aye, Kawasan Desa Bantayan, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, Selasa (17/9/2019) menjelang siang.
Informasi yang diperoleh wartawan, korban berangkat bersama dua temannya Salam (50), asal Desa Tanjong Dalam Utara, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara dan Mansur (50),  warga Desa Alue Keutapang, Kecamatan Baktiya.
Tujuan mereka ke lokasi tersebut untuk menangkap ikan.
“Saat itu korban sedang memasang jaring di Kuala Jambo Aye, Kawasan Desa Bantayan, Kecamatan Seunuddon,” ujar Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kapolsek Seunuddon, Iptu M Jamil kepada Serambinews.com.
Tiba-tiba kata Kapolsek Seunuddin, saksi bernama Salam melihat korban turun ke dalam air, untuk menarik jaring yang tersangkut.
Lalu, saksi melihat korban terseret oleh air pasang.
“Tak lama kemudian saksi melihat korban sudah tenggelam,” ujar Kapolsek Seunuddon.
Tak lama setelah itu,  saksi melaporkan kejadian tersebut kepada warga sekitar, kemudian diteruskan kepada polisi.
Lalu, sejumlah warga langsung ke lokasi untuk membantu mencari korban.
Namun, hingga sore tadi korban belum berhasil ditemukan. (*)
Perampok Diringkus Usai 31 Jam Dikejar Kasus Perampokan Karyawati Koperasi

Perampok Diringkus Usai 31 Jam Dikejar Kasus Perampokan Karyawati Koperasi



LHOKSUKON – Tiga pria yang terlibat dalam kasus perampokan dua karyawati Koperasi Kozero Aceh Raya berhasil diringkus di lokasi terpisah. Pelaku ditangkap dalam waktu berbeda setelah 31 jam dikejar polisi. Kini, mereka diamankan di Mapolres Aceh Utara untuk proses penyelidikan.
Tiga pria tersebut adalah JR (32) warga Kecamatan Pante Bidari Kabupaten Aceh Timur. Kemudian, JM (43) dan SR keduanya warga Desa Meunasah Panton, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, dua karyawati koperasi dihadang dua pria bersenjata pistol di kawasan Dusun Lorong Abadi, di Desa Meunasah Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Jumat (13/9/2019) sekira pukul 06.00 WIB. Akibat perampokan itu, dompet berisi uang, KTM dan kartu ATM berhasil dibawa kabur pelaku.
Korban adalah Siti Umi Rohani Binti Bakti Radani (23) karyawati koperasi asal Dusun Denpasar Alue Seulubok, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang. Sementara teman korban, Midu Novia Siborok (24) berasal dari Desa Pangburuan Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. 
“Tersangka pertama yang ditangkap adalah JR. Pelaku diamankan di kawasan Aceh Utara pada Sabtu (14/9) sekira pukul 13.00 WIB,” ungkap Direktur Reserse Kriminal Umum (Dir Reskrimum) Polda Aceh, Kombes Pol Agus Sartijo kepada Serambi, Minggu (15/9).
Ketika diinterogasi polisi, JR mengaku merampok dua karyawati koperasi atas perintah JM. Berselang dua jam kemudian, anggota polisi kembali meringkus tersangka kedua yaitu, JM dan SR. Keduanya ditangkap petugas di rumah masing-masing. “Dari tangan tersangka JM, petugas berhasil mengamankan handphone milik korban serta uang Rp 150 ribu. Tersangka JM mendapatkan bagian Rp 800 ribu dari hasil rampokan itu,” ujar Kombes Agus.
Saat ini, ketiga pelaku masih diamankan di Mapolres Aceh Utara untuk proses lebih lanjut. Polisi juga masih terus melakukan pengembangan untuk menangkap pria lain yang juga terllibat dalam kasus itu.
Pemilik Pisau Pistol DPO
Pada bagian lain, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Aceh menyebutkan, tersangka JR ketika merampok dua karyawati koperasi itu juga bersama satu pria lainnya. Polisi sudah mengantongi identitas pria tersebut dan sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). “Mereka beraksi menggunakan sepeda motor DPO itu, dan termasuk senjata yang digunakan,” kata Kombes Agus.
Namun, berdasarkan keterangan tersangka JR, alat yang digunakan untuk merampok karyawati itu bukan senjata api, tapi pisau yang berbentuk pistol. Saat ini, satu pria lagi yang sudah menjadi buronan polisi terus diburu petugas
Polisi Masih Buru Satu Pria Lagi Dalam Kasus Perampokan Karyawati Koperasi, Ini Perannya

Polisi Masih Buru Satu Pria Lagi Dalam Kasus Perampokan Karyawati Koperasi, Ini Perannya



LHOKSUKON – Aparat Polres Aceh Utara masih memburu satu pria lagi yang terlibat dalam kasus perampokan karyawati Koperasi Kozero Aceh Raya. Dalam kasus tersebut polisi sudah berhasil meringkus tiga pria yang terlibat dalam perampokan tersebut. 
Padahal sebelumnya dalam laporan korban ke polisi, pria yang terlibat dalam kasus perampokan tersebut dua pria, satu memakai sebo dan satu lagi memakai helm untuk menyembunyikan wajahnya. 
Tiga pria yang sudah berhasil diringkus dalam kasus itu adalah, JR (32) warga Kecamatan Pante Bidari Aceh Timur, kemudian JM (43) dan SR keduanya Desa Meunasah Panton, Kecamatan Tanah Jambo Aye. Ketiganya ditangkap dalam waktu dan tempat berbeda pada Sabtu (14/9/2019). 
"Pria yang terlibat perampokan langsung dalam kasus itu adalah JR. Ia merampokan karyawati itu bersama dengan seorang pria lainnya, yang kini masih dicari, identitasnya sudah diketahui,” Direktur Reserse Kriminal Umum (Dir Reskrimum) Polda Aceh, Kombes Pol Agus Sartijo kepada Serambinews.com, Minggu (15/9/2019). 
Disebutkan, saat merampok karyawati dengan menggunakan sepeda motor milik pria yang sudah menjadi buronan polisi.
“Pria yang kabur tersebut sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO),” ujar Kombes Agus.
Selain sepmor, senjata yang digunakan tersangka juga milik DPO tersebut. 
Diberitakan sebelumnya,  satu dari dua karyawati koperasi Kozero Aceh Raya dirampok dua pria di kawasan Dusun Lorong Abadi, di Desa Meunasah Pantonlabu Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Jumat (13/9/2019), sekira pukul 06.00 WIB. 
Korban adalah Siti Umi Rohani Binti Bakti Radani (23) karyawati asal Dusun Denpasar Alue Seulubok Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, kasir koperasi tersebut.
Sedangkan teman korban yang ikut saat kejadian, Midu Novia Siborok (24) karyawan Koperasi Kazero Aceh Desa Pangburuan Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.(*)
Ini Jumlah Desa di Aceh Utara Belum Cairkan Dana Desa Tahap II

Ini Jumlah Desa di Aceh Utara Belum Cairkan Dana Desa Tahap II



LHOKSUKON – Dari 852 desa di Kabupaten Aceh Utara masih ternyata masih ada 74 desa yang belum mencairkan dana desa triwulan kedua ke Pemkab Aceh Utara.
Sedangkan desa yang sudah mencairkan mencapai 778 desa atau realisasinya 91 persen.
Diberitakan sebelumnya, dana desa untuk 852 gampong dalam Kabupaten Aceh Utara tahun 2019 mencapai Rp 729 miliar yang bersumber dari APBN dan APBK Aceh Utara.
Dana dari APBN tahun ini mencapai Rp 627.981.678.000 dan dari APBK Aceh Utara Rp 101.445.010.300.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPM PP dan KB) Aceh Utara Fakhrurradhi MH melalui Sekretaris Mawardi kepada Serambinews.com, Minggu (15/9) menyebutkan, batas terakhir pencairan tahap kedua sebesar 40 persen berakhir pada akhir September mendatang.
Karena itu diharapkan desa yang belum mencairkan tahap kedua, segera mempersiapkan persyaratannya.
“Secara persentasenya sudah tinggi realiasi pencairan dana tahap dua yaitu 91 persen,” kata Mawardi.
Namun, jika semua desa tak mencairkan tahap kedua tersebut akan menghambat nantinya pencairan tahap ketiga.
Karena tahap ketiga baru dicairkan jika sudah diajukan laporan ke Kementerian Keuangan RI melalui Kantor Pelayanan Pembendaharaan Negara (KPPN) Lhokseumawe.
“Jika kita tidak melaporkan realisasi pencairan tahap satu dan dua ke Kementerian Keuangan, maka dana tahap tiga tidak dicairkan,” katanya. (*)   
Pria Berpistol Rampok Karyawati, Pelaku Pura-pura Periksa Tas

Pria Berpistol Rampok Karyawati, Pelaku Pura-pura Periksa Tas



LHOKSUKON - Seorang karyawati koperasi Kozero Aceh Raya bernama Siti Umi Rohani Binti Bakti Radani (23) dirampok dua pria yang belum diketahui identitasnya di kawasan Dusun Lorong Abadi, Desa Meunasah Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Jumat (13/9). Pria berpistol itu membawa kabur dompet korban yang berisi uang tunai, handphone, ATM, dan KTP.
Siti Umi Rohani, warga Dusun Denpasar Alue Seulubok, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, yang sedang mengendarai sepeda motor saat itu membonceng rekannya, Midu Novia Siborok (24) dalam perjalanan di Meunasah Pantonlabu. Namun saat memasuki lorong, tiba-tiba dua pria mengendarai motor matic mencegat dua karyawati.
Pria misterius itu tiba-tiba meminta korban untuk menghentikan kendaraan. Berpura-pura ingin memeriksa tas, pelaku menuduh kedua wanita muda itu membawa narkoba dan berusaha untuk memeriksa barang bawaannya. "Apa kalian bawa, bawa sabu ya?" ujar pelaku.
Midu yang menenteng bawaan berisi mi instan lalu memberikannya ke pria tersebut. Karena tak menemukan barang berharga di dalamnya, pria tersebut kemudian mengembalikan tas itu seraya memaksa korban untuk menyerahkan dompetnya untuk diperiksa. "Mana dompet kalian biar kami periksa," kata pelaku lagi.
Perintahnya tak digubris korban, pria tersebut nekat merampas dompet milik Siti sehingga terjadi tarik-menarik yang membuat temannya Midu terjatuh. Dompet wanita yang berprofesi sebagai kasir koperasi itu pun berpindah tangan bersama uang tunai, handphone, kartu ATM dan KTP di dalamnya.
Hal itu disampaikan Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kapolsek Tanah Jambo Aye, AKP Zulfitri kepada Serambi, Jumat (13/9). Pihaknya sedang menyelidiki kasus perampokan tersebut setelah menerima laporan dari dua karyawati. "Kasus ini masih dalam proses penyelidikan, karena kita baru mendapat laporan pengaduan," ujarnya.
Perampokan karyawati koperasi di Desa Meunasah Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Jumat (13/9), berawal ketika korban berangkat dari Desa Rawang Itek, Kecamatan Tanah Jambo Aye menuju Meunasah Panton. Berdasarkan informasi yang diperoleh Serambi, sebelum sampai di koperasi di Meunasah Panton, korban sempat singgah di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di Kota Pantonlabu untuk mengambil uang.
Setelah mengambil uang, kedua wanita tersebut melanjutkan perjalanannya ke Meunasah Panton. Namun saat memasuki lorong, tiba-tiba kendaraannya dicegat oleh dua pria yang sudah menunggu. Dua pria tak dikenal itu lalu merampas dompet korban yang di dalamnya berisi uang dan barang berharga lainnya.
Karyawati Koperasi Kozero Aceh Raya yang menjadi korban perampokan tak bisa mengenali dua pria yang merampoknya di kawasan Meunasah panton, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, kemarin. Karena kedua pria memakai sebo guna menutup wajahnya.
Hal itu diakui Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kapolsek Tanah Jambo Aye AKP Zulfitri. "Korban tak bisa mengenali dua pria tersebut, karena satu di antaranya menggunakan kain penutup wajah," ujarnya.
Ditambahkan, pria yang menggunakan kain penutup wajah tersebut memegang senjata jenis pistol. Pria itu lah yang menuduh korban membawa sabu-sabu sebagai modus untuk meminta dompet korban. Meskipun tak diberikan, tapi pria tersebut berhasil merampas dompet milik korban.
Sedangkan satu pria lagi, memakai helm dan standby di sepeda motor (sepmor) matic warna putih. "Sehingga setelah pria yang memakai penutup wajah tersebut merampas dompet korban, pria yang memakai helm langsung tancap gas," ujar Kapolsek Tanah Jambo Aye
Begini Reaksi Warga Setelah Mendengar Teriakan Karyawati Koperasi yang Dirampok Pria Berpistol

Begini Reaksi Warga Setelah Mendengar Teriakan Karyawati Koperasi yang Dirampok Pria Berpistol



LHOKSUKON – Perampokan karyawati koperasi Kozero Aceh Raya yang terjadi pada Jumat (13/9/2019) sekira pukul 06.00 WIB di lorong Abadi Desa Meunasah Panton Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara baru diketahui setelah kejadian.
Lokasi kejadian atau lorong tersebut dikelilingi oleh rumah warga sekitar.
Namun, warga tak mengetahui saat kejadian tersebut.
Karena perampokan tersebut terjadi dalam waktu yang singkat.
Selain itu, kejadian tersebut saat suasana masih remang-remang atau masih gelap.
Untuk diketahui, korban perampokan tersebut satu adalah dari dua karyawati koperasi Kozero yang sedang menuju ke kantor koperasi dengan menggunakan sepeda motor (sepmor) Revo.
Korban adalah, Siti Umi Rohani Binti Bakti Radani (23) karyawati asal Dusun Denpasar Alue Seulubok Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang.
Sedangkan yang diboncengnya, Midu Novia Siborok (24) karyawan Koperasi Kazero Aceh Desa Pangburuan Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.
“Setelah kejadian perampokan tersebut, korban lalu berteriak meminta tolong kepada warga sekitar lorong tersebut,” ujar  Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kapolsek Tanah Jambo Aye AKP Zulfitri kepada Serambinews.com, Sabtu (14/9/2019).
Lalu, tak lama kemudian sejumlah warga yang mendengar teriakan minta tolong dari perempuan muda tersebut langsung keluar dari rumah dan memburu ke lokasi.
Namun, sayangnya, saat warga tiba di lokasi kejadian, pria yang memakai sebo (kain penutup wajah) dan helm sudah kabur.
Mereka langsung kabur dengan menggunakan sepmor Scoopy warna putih ke lorong tak jauh dari lokasi tersebut.
“Mereka menggunakan senjata pistol, tapi kita belum bisa memastikan apakah itu senjata api atau pistol mainan, karena masih dalam penyelidikan,” ujar Kapolsek Tanah Jambo Aye.
Dalam berita sebelumnya dikatakan , “Korban tak bisa mengenali dua pria tersebut, karena satu diantaranya menggunakan kain penutup wajah,” ujar Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kapolsek Tanah Jambo Aye AKP Zulfitri kepada wartawan, Jumat (13/9/2019).
Pria yang menggunakan kain penutup wajah tersebut memegang senjata jenis pistol. Pria tersebutlah yang menuduh korban membawa sabu-sabu sebagai modus untuk meminta dompet korban. Meskipun tak diberikan, tapi pria tersebut berhasil merampas dompet milik korban.
Sedangkan satu pria lagi, memakain helm dan standby di sepeda motor (sepmor) Scoopy warna putih. “Sehingga setelah pria yang memakai penutup wajah tersebut merampas dompet korban, pria yang memakai helm langsung tancap gas,” ujar Kapolsek Tanah Jambo Aye. Mereka kemudian kabur ke lorong lain di desa setempat. (*)
Ternyata Petugas Koperasi yang Dirampok Adalah Dua Perempuan Muda, Ini Identitasnya

Ternyata Petugas Koperasi yang Dirampok Adalah Dua Perempuan Muda, Ini Identitasnya



LHOKSUKON – Petugas koperasi yang dirampok dua pria di kawasan Desa Meunasah Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara pada Jumat (13/9/2019) sekira pukul 06.00 WIB, ternyata dua perempuan yang masih muda.
Keduanya adalah karyawan koperasi Kozero Aceh Raya, yang beralamat di Dusun Lorong Abadi, Desa Meunasah Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.
Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kapolsek Tanah Jambo Aye, AKP Zulfitri kepada wartawan, Jumat (13/9/2019) menyebutkan, kedua perempuan tersebut adalah Siti Umi Rohani Binti Bakti Radani (23), karyawati asal Dusun Denpasar Alue Seulubok, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang.
Sedangkan temannya adalah Midu Novia Siborok (24), karyawan Koperasi Kazero Aceh  Desa Pangburuan, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.
“Keduanya berangkat dari Desa Rawang Itek menggunakan Sepeda motor (Sepmor) Revo, menuju Pantonlabu,” ujar Kapolsek Tanah Jambo Aye.
Sesampai di Pantonlabu, kata AKP Zulfitri , Siti singgah di ATM BRI untuk menarik uang.
Lalu menuju ke Kantor Koperai Kozero Aceh Raya yang berada di  Meunasah Panton.
Ternyata sesampai di lorong Abadi, korban langsung dihadap dua pria yang belum diketahui identitasnya.
“Kemudian tersangka merampas dan menarik dompet Siti Umi Rohani, sehingga korban terjatuh. Sedangkan teman korban langsung dijatuhkan dari kereta, kemudian pelaku merampas dompet korban,” ungkap Kapolsek Tanah Jambo Aye. (*)
Begini Kronologis Perampokan Petugas Sebuah Koperasi di Tanah Jambo Aye

Begini Kronologis Perampokan Petugas Sebuah Koperasi di Tanah Jambo Aye



LHOKSUKON – Petugas sebuah koperasi yang dirampok di kawasan Meunasah Panton, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara kini sudah melaporkan kejadian tersebut ke Mapolsek Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.
Penyidik Reskrim Polsek Tanah Jambo Aye setelah menerima laporan tersebut, kini sudah memintai keterangan pelapor untuk proses penyelidikan kasus tersebut.
Kasus perampokan terjadi pada Jumat (14/9/2019) sekira pukul 06.00 WIB.
Perampokan tersebut bukan hanya menyebabkan kerugiaan jutaan rupiah, tapi korban juga mengalami trauma setelah kejadian tersebut.
Korban mengalami kerugian jutaan rupiah, karena dompet berisi uang dan kartu ATM serta identitasnya dibawa kabur perampok yang belum diketahui identitasnya.
Informasi yang diperoleh wartawan, kejadian itu berawal ketika korban berangkat dari Desa Rawang Itek, Kecamatan Tanah Jambo Aye menuju ke Meunasah Panton, yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah korban.
Sebelum sampai ke koperasi di Meunasah Panton, korban singgah di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di Kota Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye untuk mengambil uang.
Lalu setelah mengambil uang, kemudian petugas tersebut melanjutkan perjalanan ke Meunasah Panton.
Ternyata sampai di tengah jalan, tiba-tiba dicegat oleh dua pria yang menggunakan sepeda motor.
Kemudian dua pria tersebut merampok petugas itu, lalu langsung kabur setelah berhasil merampas dompet korban.
“Kasus ini masih dalam proses penyelidikan, karena kita baru mendapat laporan pengaduan,” ujar  Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kapolsek Tanah Jambo, Aye AKP Zulfitri kepada wartawan. (*)