Pria Ini Dikubur Lima Hari Lima Malam, Ini yang Dirasakannya Selama dalam Kuburan

SHARE


PATI – Seorang pria di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berhasil melewati ritual bertapa di dalam kuburan selama lima hari lima malam.
Selama lima hari lima malam, pria bernama Supani atau Mbah Pani (63) tahun terbaring dalam liang lahat dengan kondisi tubuh dikafani, miring menghadap kiblat.
Selama itu pula, Mbah Pani tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan tidak buang air.
Di Jawa, ritual ini dikenal dengan nama ritual topo atau tapa pendem.
Keberhasilan Mbah Pani melewati ritual ini, mengundang penasaran warga.
Beritanya menjadi viral.
Banyak warganet bertanya apa saja yang dialami dan dirasakan oleh Mbah Pani selama terbaring "dalam kuburan" di rumahnya.
Hari ini, Jumat (20/9/2019), ritual topo pendem yang dilakukan Supani (63) alias Mbah Pani, warga Desa Bendar RT 3 RW 1, Kecamatan Juwana, Pati, berjalan genap lima hari.
Hari ini, Jumat (20/9/2019), ritual topo pendem yang dilakukan Supani (63) alias Mbah Pani, warga Desa Bendar RT 3 RW 1, Kecamatan Juwana, Pati, berjalan genap lima hari. (Tribunjateng.com/Mazka Hauzan Naufal)
Berikut ini petikan wawancara wartawan Tribun Jateng, Mazka Hauzan Naufal dengan Mbah Pani di rumahnya di Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati.
Wawancara berlangsung satu hari setelah Mbah Pani menjalani topo pendem.
Apa perlengkapan melakukan topo pendem?
Ini ritual topo pendem ke 10 yang saya lakukan. Ini adalah penutup.
Sebelum-sebelumnya tiga hari tiga malam. Kalau yang penutup ini saya dipendem lima hari lima malam.
Saya dipocong (dikafani). Ya saya sendiri yang memakai kain kafan.
Sekujur tubuh. Kemudian saya berbaring dengan posisi miring menghadap kiblat.
Terus alas berbaring saya di dalam hanya blarak (daun kelapa kering).
Ada 8 kelapa muda diletakkan di empat sudut.
Ada bantal gelu (bantalan dari tanah) diletakkan di kepala, pantat, dan kaki. Gelunya tiga.
Itu gelu yang saya pakai dari dulu. Nanti kalau saya dipanggil Gusti Allah, saya ingin gelu ini juga yang dipakai ketika saya dikuburkan.
Apa pantangan orang melakukan topo pendem?
Tidak boleh tidur, tidak boleh makan, tidak boleh minum, tidak boleh buang air kecil, dan tidak boleh buang air besar.
Istilahnya pati geni, mateni geni memadamkan api.
Sebelum menjalani topo pendem, selama tiga bulan saya tidak makan apa-apa selain buah-buahan.
Ada wirid khusus selama ritual?
Mbah Pani Juwana Pati Keluar dari Liang Kubur Tapa Pendem
Mbah Pani Juwana Pati Keluar dari Liang Kubur Tapa Pendem (Tribunjateng.com/Mazka Hauzan Naufal)
Wirid sebisa-bisanya saya. Sebab saya bukan kiai. Sebisanya saya baca, entah itu Alfatihah atau lainnya.
Yang jelas saya meminta kekuatan kepada Allah SWT.
Selama dalam kuburan itu saya melaksanakan shalat, bertayamum pakai tanah. Juga shalat tahajud dan shalat hajat. Saya lakukan semampu saya.
Mengalami apa saja selama di dalam kuburan?
Biasa. Lumrah saja. Ada (makhluk) yang menggoda. Rasanya merinding-merinding, begitu saja.
Ibarat orang perang, pihak sana saya lawan, akhirnya mereka mundur.
Ritual saya lanjutkan, alhamdulillah kuat. Namanya orang nglakoni tentu ada perlawanan dari pihak 'sana'. Saya tak melihat tapi merasakan.
Hal apa paling berat dalam ritual ini?
Beban saya, rasanya lesu, saya tahan. Melek, jangan sampai tidur, alhamdulillah kuat.
Ada air tanah hingga merendam separuh tubuh saya.
Sampai sekarang rasanya masih kurang enak.
Air itu disedot pakai pompa air setiap beberapa menit sekali. Alas tidur pakai anyaman daun kelapa (blarak) rasanya gatal.
Kiri ke kanan: Sri Khomaidah, Mbah Pani, dan Suyono ketika dijumpai di kediaman keluarga Mbah Pani, Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Sabtu (21/9/2019) siang.
Kiri ke kanan: Sri Khomaidah, Mbah Pani, dan Suyono ketika dijumpai di kediaman keluarga Mbah Pani, Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Sabtu (21/9/2019) siang. (Tribunjateng.com/Mazka Hauzan Naufal)
Yang paling mengesankan selama lima hari apa?
Cungkup atau atap peti dalam kubur itu hampir jebol. Badan saya mepet ke tepi.
Tanah kuburan saya minta dikurangi supaya cungkup tidak ambrol.
Kalau jebol bisa menimpa saya bahaya.
Alhamdulillah sampai topo pendem selesai tidak sampai jebol.
Kapan pertama melakukan topo pendem?
Waduh, saya lupa. (Istri Mbah Pani menyahut, tahun 1988).
Apakah benar rasa air berubah dari asin jadi tawar?
Betul. Tadinya tukang pacul nanya, Mbah, airnya asin?
Lalu saya bilang, kalau jadi tawar bisa buat pitulungan (berkhasiat, bisa untuk menolong orang).
Saya cuma bilang begitu, ternyata dituruti oleh Allah SWT. Berubah jadi air tawar begitu saya mulai topo pendem.
Dan orang-orang pada minta air tawar itu. Maklum biasanya di sini air asin karena dekat laut.
Apa tujuan topo pendem?
Setelah saya menjalani 9 kali topo pendem, guru saya meninggal.
Waktu itu saya ingat, kalau tidak saya tutup dengan yang kesepuluh, rugi saya.
Tujuan saya, ketika saya diberi (diijazahi) guru saya, ialah untuk kekuatan Islam saya.
Tujuan saya untuk menguatkan badan saya. Ya kalau bisa untuk membantu orang lain.
Apa pesan kepada keluarga sebelum bertapa?
Saya pesan ke mamah (istri). Mah, nanti kalau saya mau masuk (pertapaan), jangan lupa masalah kode tarikan lawe wenang.
Ada tali diikatkan di tangan bisa ditarik-tarik untuk memberi kode yang di luar kuburan (keluarga)
Kalau tangan saya tidak merespon, tandanya saya dipanggil Tuhan. Kalau saya masih merespon, artinya Alhamdulillah masih ada nyawanya.
Satu ujungnya terikat pada tangan kiri Mbah Pani. Ujung lainnya berada di luar liang kubur.
Adakah maksud topo pendem, kenapa harus 5 hari?
Lima hari kan Sepasar. Itu pasaran saya.
Weton saya, weton istri saya, weton anak saya. Bisa pas.
Maka pas jam 5 sore saya harus keluar dari kuburan ini. Sebelum jam 5 sore persis harus dibongkar.
Sehingga tepat jam 5 sore saya diangkat.
Itu pakai petung jawa.
Sumber: Serambinews
SHARE