Polisi Sebut Abu Razak Pimpinan KKB yang Tewas, Eks GAM Wilayah Batee Iliek, Ini Kata Darwis Jeunieb

SHARE


BANDA ACEH - Kepolisian Daerah (Polda) Aceh merilis rekam jejak Abu Razak, pimpinan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang tewas bersama tiga anggotanya, setelah kontak tembak di kawasan jembatan keude Tringgadeng, Pidie Jaya, Kamis (19/9/2019) sore.
Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Ery Apriyono menyebutkan, Abu Razak terlibat dalam kelompok kriminal bersenjata setelah damai.
Saat dia bergabung dengan kelompok bersenjata Din Minimi pada Jumat 20 Maret 2015.
Saat itulah, Razak melakukan serangkaian kejahatan, hingga akhirnya dia menjadi salah satu anggota kelompok Din Minimi yang paling diuber polisi.
Atas tindak kejahatan yang dilakukannya, Abu Razak berhasil diamankan petugas kepolisian tepatnya pada Jumat 10 April 2015.
"Yang bersangkutan berhasil diamankan oleh Polda Aceh karena terlibat kasus kelompok Din Minimi. Dia kemudian divonis 5 tahun 6 bulan penjara dan menjalani hukuman di Lp Kelas IIA Lhokseumawe," jelas Kombes Ery.
Setelah dua tahun mendekam di penjara, dia kemudian lolos, berhasil melarikan diri.
Razak kemudian menjadi DPO dan baru terendus baru-baru ini.
Hingga akhirnya dia tewas, dalam sergapan aparat kepolisian di Trienggadeng, kemarin.
Dalam keterangan Kabid Humas, polisi juga mencatat bahwa Abu Razak pernah menjadi anggota GAM.
Menurut Kombes Ery, Razak bergabung dengan GAM tahun 1999 di Wilayah Batee Iliek, Kabupaten Bireuen.
"Tahun 1999 Abu Razak bergabung dengan GAM Wilayah Batee Iliek, Bireuen dengan peran memperbaiki atau service senjata api," kata Ery.
Atas keterangan Kabid Humas tersebut, Serambinews.com coba menelusurinya ke mantan panglima GAM Wilayah Batee Iliek, Darwis Jeunieb.
"Benar, dia pernah bergabung dengan GAM, tapi saya tahun tidak terlalu ingat lagi tahun berapa. Tapi, setelah damai dia (Abu Razak) sudah beda dengan kita, sudah beda haluan, dia buat ulah," kata Darwis Jeunieb kepada Serambinews.com, Jumat (20/9/2019).
Darwis juga membenarkan, bahwa Abu Razak punya keahlian dalam membuat senjata di kala itu.
"Iya, dia bisa sedikit-sedikit buat senjata rakitan, tapi masa itu dia tidak terlalu bergabung dengan saya," kata Darwis.
Menurut Darwis, Abu Razak berasal dari Aceh Utara.
Dia masuk GAM ke wilayah Batee Iliek melalui rekan-rekannya.
Hingga akhirnya, Razak juga bergerilya di belantara Bireuen kala itu.
"Dia sama anggota lain tinggal di atas Alue Pucok, di sana dia buat-buat senjata. Pernah sekali jumpa sama saya di hutan dan setelah damai saya pernah ke rumahnya, karena ada anggota nikah dengan keluarganya," ujar Darwis Jeunieb.
Namun setelah damai, Abu Razak kata Darwis, memilih jalan berbeda dengan kebanyakan eks GAM.
Dia justru bergabung dengan kelompok kriminal bersenjata, hingga akhirnya dibekuk oleh polisi.
"Dia kan pernah dipenjara dua kali, yang kedua dia melarikan diri. Intinya sudah beda haluan dengan kita," demikian Darwis Jeunieb. (*)
SHARE