Muara Krueng Alue Naga Dangkal, Ratusan Nelayan Kesulitan Melaut

SHARE


BANDA ACEH - Ratusan nelayan warga Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, harus bersusah payah untuk pergi melaut lantaran muara sungai di wilayah itu mengalami pendangkalan. Jika hendak melalui, mereka harus menunggu air pasang.
Kondisi muara dangkal itu disampaikan Keuchik Alue Naga, Faisal M Dan kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jalaluddin ST MT saat melakukan kunjungan ke gampong tersebut, Sabtu (7/9/2019). Kunjungan itu untuk melakukan survei dukungan masyarakat terhadap rencana pembangunan jalan lingkar mulai dari Ulee Lheue, Banda Aceh, hingga Lambada Lhok, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.
Faisal menjelaskan, dua tahun lalu muara Krueng Alue Naga sudah pernah dikeruk oleh Balai Wilayah Sungai I Sumatera-Aceh dengan menggunakan beko. Namun kini muara yang menjadi pintu keluar masuk bagi nelayan Alue Naga itu dangkal kembali oleh endapan pasir. “Kami sudah menyampaikan permasalahan ini ke Camat Syiah Kuala, Pemko Banda Aceh, Dinas Kelautan dan Perikanan, serta Balai Wilayah Sungai I Sumatera-Aceh, tapi sampai kini belum direspon. Dengan alasan menunggu alokasi anggaran dari pusat,” tandasnya.
Kalau menunggu turun anggaran dari pusat, ungkap Faisal, berarti warganya harus menunggu dua tahun lagi bisa leluasa pergi ke laut guna mencari nafkah. Pasalnya usulan anggaran untuk pengerukan muara itu baru turun setelah setahun diusulkan. “Kalau pengusulannya tahun 2019 ini, berarti pengerukan baru bisa dilakukan pada 2021 mendatang,” ujar Keuchik Alue Naga tersebut.
Sulitnya para nelayan untuk pergi melaut, tambahnya, berdampak pada penghasilan warga Alue Naga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tidak sedikit dari mereka berutang kepada para kerabat. Bahkan dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat, para nelayan sudah tidak melaut selama dua pekan. Kondisi itu ikut diperparah dengan kondisi muara yang dangkal dan menyulitkan mereka untuk pergi mencari nafkah.
Dikatakan Faisal, pada tahun lalu sebelum muara itu dangkal nelayan Alue Naga  sudah pergi melaut pada pagi hari. Siangnya para nelayan itu sudah kembali mendarat dengan membawa hasil tangkapan. “Sekarang bagaimana mau pulang siang hari, kalau perahu nelayan sulit menerobos muara yang dangkal. Kalau pun harus pergi melaut para nelayan terpaksa menunggu air pasang. Untuk pasang besar baru terjadi malam hari,” pungkasnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Banda Aceh, Jalaluddin ST MT mengatakan akan menyampaikan persoalan yang dihadapi para nelayan Alue Naga kepada Wali Kota Banda Aceh dan instansi terkait lainnya.
Langkah yang ditempuh Kepala Desa Alue Naga, Faisal M Dan dengan mengirim surat kepada Balai Wilayah Sungai Sumatera I Banda Aceh, Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh sudah betul. “Kedua lembaga itulah yang harus menindaklanjuti keluhan para nelayan Alue Naga itu,” jelas Jalaluddin.
Dikatakan, untuk pengerukan muara sungai yang dangkal anggarannya tidak tersedia setiap tahun di Balai Wilayah Sungai I Sumatera-Aceh. Balai harus mengusulkannya kepada Kementerian PUPR agar mendapatkan alokasi anggaran.
“Karena pengerjaan pengerukan itu rutin, harusnya instansi berwenang melakukan koordinasi agar mengusulkan anggaran untuk kegiatan itu ke pusat,” tandas Jalaluddin.
SHARE