KISAH Inspiratif - Proposal Unik, Aneh bin Ajaib Wujudkan Mimpi Misbahul Munawar Kuliah di Eropa

SHARE


AZERBAIJAN - Sebuah kisah inspiratif tentang perjuangan seorang pemuda Aceh dalam meraih cita-citanya ramai dibagikan di media sosial.
Kisah inspiratif ini ditulis oleh Misbahul Munawar, alumnus UIN Ar-Raniry yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Baku, Azerbaijan.
Misbahul Munawar adalah putra Aceh kelahiran Paya Peunteut Lhokseumawe 24 April 1993.
Menjawab wartawan Selasa (17/9/2019), yang menghubunginya melalui Facebook Messenger, Misbahul mengatakan karir pendidikannya memang penuh lika liku.
Ketika SD saya beberapa kali pindah sekolah, karena konflik bersenjata yang mendera saat itu, kata dia.
Namun, ketika jenjang menengah, Misbahul Munawar bertahan di satu lembaga pendidikan, yaitu di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Dayah Syamsudhuha, Cot Murong Dewantara.
Setelahnya, lika liku pendidikan yang berbelok-belok tak tentu arah kembali dijalaninya saat menempuh pendidikan tinggi, mulai dari IAIN Ar-Raniry, hingga kini bermuara di Baku Azerbaijan.
Pemuda yang akrab disapa Kun oleh teman-teman kecilnya pun membagikan kisah lika liku pendidikannya ini di dinding Facebook miliknya, Kun Misbahul Munawar.
“Kun itu panggilan masa kecil, karena tak bisa ngomong L, maka sering sebut nama sendiri MisbaKun, bukan Misbahul. Hahaha,” kata dia saat ditanyai asal muasal Kun di akun Facebooknya.
Secara runut, Munawar alias Kun menceritakan tentang perjalanan hidupnya yang zig-zag tak menentu, hingga akhirnya berlabuh di kampus ternama di Baku, Azerbaijan dan nantinya ke Barcelona, Spanyol.
Kun memberi judul kisahnya “SAATNYA MENYERANG NEGARA API” (Catatan Anak kampung, yang tidak pernah memikirkan kuliah di Eropa).
Negara Api adalah julukan bagi Azerbaijan, sebuah negara Kaukasus di persimpangan Eropa dan Asia Barat Daya.
Azerbaijan berbatasan dengan Rusia di sebelah utara, Georgia dan Armenia di barat, serta Iran di selatan.
“Saya mulai dari awal, biar sesuai uram-ujong (saya mulai dari awal agar runut),” tulis Mishabul Munawar memulai kisahnya.
Bermula pada tahun 2011, Misbahul Munawar memulai pendidikan tinggi di Jurusan Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Setahun berjalan, Misbahul merasa ada yang kurang dari ilmu yang sedang dijalaninya.
Kemudian pada tahun 2012, dia memutuskan kembali ikut seleksi dan diterima sebagai mahasiswa di Jurusan Filsafat, Konsentrasi Pemikiran Politik Islam, Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry.
Saat itu, Filsafat adalah jurusan baru di Kampus yang kini bernama Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.
Sejak itu pula, Misbahul Munawar menjadi mahasiswa di dua fakultas berbeda pada kampus yang sama.
“Entah bagaimana kejadiannya, di semester 3 jurusan Pemikiran tersebut tidak diterima akreditasinya, hingga kami di deportasi ke jurusan lain di lingkungan yang sama,” tulis dia.
Setelah disodorkan beberapa pilihan, Misbahul mengambil Kosentrasi Ilmu Hadits.
Alasannya, “karena mata kuliahnya banyak menghafal (maklum masa itu ingatan saya masih kuat),” kata dia.
Namun, di tengah jalan “perjalanan studi” Misbahul Munawar kembali menghadapi rintangan.
Memasuki semester 6 kuliah, jurusan Konsentrasi Ilmu Hadits yang sedang ditempuhnya di-alih-nama-kan.
Hingga ketika sidang pada semester 7, di ijazahnya tertulis lulusan Ilmu Alquran dan Tafsir, Sarjana Ushuluddin (S.Ud).
Bukannya lulusan Ilmu Hadits, konon lagi filsafat politik Islam.
“Sangat unik, sebab saya daftar di Jurusan Filsafat, belajarnya tentang Pemikiran dan Politik Islam, Skripsinya masalah Hadits, diyudisium sebagai lulusan Ilmu Alquran,” cerita Misbahul Munawar.
“Ohya hampir lupa, di Jurusan Biologi, saya berkuliah selama +- 7 semester. Kemudian aral melintang, badai bergejolak, angin berhembus, tertikung di tengah jalan, hasilnya D-O (drop out atau dikeluarkan),” tulis dia mengingatkan tentang kuliahnya di Fakultas Tarbiyah.
Dari Agen Demo hingga Wartawan Amatiran
Misbahul Munawar melajutkan kisahnya, sebelum dan setelah menamatkan kuliah dia bekerja di beberapa tempat dengan beragam jenis pekerjaan.
Mulai dari volunter (relawan) politik, agen demo bayaran, wartawan amatiran, moderator acara seminar untuk amprahan, tim survei pesanan, penjual kopi musiman, guru pasantrenan, dai cadangan, penjual minuman pinggir jalan, hingga kuli bangunan.
“Bahkan sering diajak jadi kuli pikul angkut es balok ke kapal ikan di kala Rabu petang,” cerita dia.
Tidak tahan terhadap pekerjaan yang tidak karu-karuan, guru dan temannya menyarankan dia untuk pergi ke kampung Inggris, Pare-Kediri, Jawa Timur.
Menurut dia, kepergiannya ke Kampung Inggris itu bertujuan untuk mendapatkan skill baru, yaitu bisa berbicara English.
“Kala itu bahasa Inggris saya nol dan belum ada rencana lanjut S2,” kata dia.
Pada akhir 2017, berangkat lah Munawar ke kampung Inggris Pare, di Kediri Jawa Timur.
“Sesampainya di sana saya sangat jauh tertinggal, tidak tau apa apa, gelap seperti ‘orang Tiongkok menonton saman’,” katanya.
Istilah “Orang Tiongkok (Cina) menonton Saman (tarian)” adalah tamsilan orang Aceh untuk orang-orang yang tidak mengerti dengan apa yang sedang dilihatnya atau kejadian di sekelilingnya.
Istilah serupa juga sering disebut “la rakdu” alias “hana teupeu reudok”.
“Pertama datang have dan has saja tidak tau bedanya. 2 minggu awal di kampung inggris saya belajar dari Nol, bersama anak SD dan SMP, tertatih tatih bahkan sering ditertawakan teman sekelas, sabar dan tahan malu saya lalui hampir 2 bulan,” kata dia.
“Selanjutnya mulai berani berbicara, walau terbata bata, disanalah termotivasi melanjutkan S2 ke luar negeri,” lanjut Munawar.
Setelah satu tahun dua mengasingkan diri di Kampung Inggris, Misbahul Munawar menulisnya dengan kalimat ‘Berkhalwat di Forbidden area’, ia kembali dengan membawa pulang oleh-oleh Toefl 553 dan score IELTS 6.0.
“Begitulah final score untuk anak kampung yang tidak tau apa bedanya Has dan Have di awal,” kata dia.
Sertifikat dari Kampung Inggris Pare ini menambah kepercayaan diri Misbahul Munawar ke jenjang yang lebih tinggi.
Pada tahun 2018, ia mulai berani mendaftar ke lembaga penyedia beasiswa plat merah ke Eropa.
Ia mengirimkan email ke sejumlah kampus yang disasarnya.
“Ada yang balas ada yang tidak, rata rata mereka membalas ‘Your bachelor degree is not relevant’,”.
“Dalam mendaftar kuliah saya terikat perjanjian dengan keluarga untuk tidak mengambil kajian Islamic Studies serta Filsafat di luar negeri,” tambah dia.
Ketika menerima email, kata Misbah, hatinya selalu berdebar.
Perasaannya ngeri-ngeri sedap.
Ia bilang tidak kecewa dengan balasan ‘Your bachelor degree is not relevant’ dari beberapa kampus.
Hanya saja, dia kesal pada sistem linearitas.
Karena, menurutnya, alasan dirinya ditolak di beberapa kampus itu karena dia menargetkan S2 di jurusan yang agak jauh dari ijazah S1 yang dipegangnya.
Di antara jurusan S2 yang dibidiknya adalah Hubungan International, Statistik, Programer dan Ekonomi Pembangunan.
Setahun menunggu penerimaan tapi tak satupun kampus yang bersedia menerimanya.
Misbahul Munawar pun mulai melupakan asanya untuk berkuliah di luar negeri.
Tapi minatnya untuk melanjutkan pendidikan tak pernah padam.
Pada Februari 2019, dia mendaftar di Universitas Indonesia jurusan Kajian Timur Tengah.
“Biar linear dengan S1,” katanya.
Namun, lagi-lagi aral menghadang.
Setelah menerima pengumuman lulus, ketika hendak membayar SPP pihak kampus mengatakan perkulihan di tunda semester depan.
Alasannya, yang mendaftar hanya 9 orang, kuliah di mulai jika yang mendaftar berjumlah 10 orang.
“Ini mungkin rahasia Tuhan,” cetusnya.
Setelah itu, Misbahul Munawar kembali berpetualang.
Ia berkelana di Pare, Semarang, Malang, serta Jogja, sambil mengajar les bahasa Inggris selama beberapa bulan.
Di sela- sela waktu tersebut saya banyak berdiskusi dengan dosen dan senior dari berbagai bidang dan sub bidang keilmuan.
“Saran mereka kalau hendak lanjut kuliah S2, jika mau jadi dosen dan pakar ambil yang sesuai jurusan awal,” kata dia mengutip saran dari beberapa orang.
“Tapi kalau mau mudah pekerjaan atau menciptakan lapangan pekerjaan baru ambil di vocational, fokus di ilmu profesi. Lihat yang berpeluang di masa depan,” lanjutnya.

Master Ogway di Kungfu Panda
Waktu terus berjalan, hingga suatu malam pada tanggal 27 April 2019, Misbahul Munawar menonton ulang Film Kungfu Panda.
Hingga sekuel film tersebut tiba di sebuah scene yang memperlihatkan Master Ogway berkata "Kekuatan manusia ‘Chi’ terletak pada diri sendiri, maksimalkan apa yang kamu miliki".
“Kata itu seperti menghujam ke pikiran, dalam kasus memburu kuliah dan beasiswa ini, yang saya miliki Ijazah dari Fakultas Ushuluddin, hendak banting Stir ke study lain yang fokus di dunia profesi,” kata Misbahul Munawar.
Maka, dia memulai riset mandiri dan mengolah data otodidak.
“Tatkala meramu saya menegaskan saya sarjana Islamic Studies dari Ushuluddin fokus terhadap permasalahan state with development revenue without natural result ditambah Hobi terbesar saya jalan jalan, Terciptalah motivation letter dan Statement of purpose, tentang The New development of Halal Tourism,” tulis dia.
Ia pun mulai kembali menebarkan jaring proposal ini ke beberapa kampus di luar negeri.
“Bulan 7 (Juni 2019) lalu, saya tidak menduga proposal unik, aneh bin ajaib saya di terima oleh Erasmus, di jurusan MBA in Tourism,” kata dia.
Misbahul pun mulai menelusuri seluk beluk kampus yang menerimanya.
Diperoleh informasi, bahwa kuliah akan ditempuh dalam rentang waktu 2-3 tahun.
Satu setengah tahun pertama berlangsung di Xazar University, Baku- Azerbaijan dan tahun selanjutnya di Universidad de Girona, Barcelona - Spain.
“Pucuk dicinta ulam pun tiba, saya histeris hampir tidak bisa berkata-kata, Alhamdulillah ya Allah”.
Berangsur setelahnya, email Munawar mendapatkan banyak balasan dari sejumlah lembaga penyedia beasiswa di luar negeri, dari Eropa hingga Cina.
Di antara lembaga yang menyatakan menerima proposalnya adalah Belt and Road Initiative Scholarship dan Schwarzman scholarship yang menyediakan beasiswa ke Eropa dan Cina.
“Rata-rata kampus dari negerinya Mao Zhedong menginformasikan diterima,” kata dia.
“NTNU Taiwan (China Taipe) juga menerima,” lanjut Misbahul Munawar.
“Slovenia University juga menerima, Oslo (Norwegia) University juga menerima, bahkan Imam Khomaini International University di Iran juga menawarkan Persian Studies, yang semua full beasiswanya,” imbuh dia.
Kesempatan Tidak Datang Dua Kali
Keadaan Misbahul Munawar kini berbanding terbalik dengan dua tahun lalu.
Ia yang dulunya kewalahan mendapatkan kesempatan, kini malah mulai kesulitan menentukan pilihan.
Saking banyaknya tawaran yang datang.
Namun kemudian dia memantapkan hatinya mengambil tawaran dari Erasmus Student in Baku State University, di Azerbaijan.
“Hasrat hati ingin menonton langsung Euro 2020 di Olimpiya Stadium, F1 On the Street di Baku Old City, serta pesona paras gadis-gadis Caspia yang tidak ada tandingannya itu memantapkan saya mengambil tawaran Erasmus,” katanya.
Itu di tahun pertama, karena pada tahun selanjutnya Misbahul Munawar akan menempuh pendidikan di Barcelona, Spanyol.
Ia akan mewujudkan impian masa kecil mengunjungi markas ke klub terbaik di dunia, Barcelona.
Misbahul Munawar menutup postingannya dengan kalimat: Benar kata orang bijak: "Proses tidak pernah mengkhianati Hasil"
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh keluarga, handai taulan, sahabat, rekan guru dan siapa pun yang telah memberikan motivasi, support dan semangat hingga bisa sampai ke Baku, The Land Of Fire.
“Juga terima kasih Master Ogway,” tulis dia.
Misbahul Munawar juga menuliskan catatan penting dari kisah aneh yang dilaluinya:
Kepada para Scholarship Hunter, walau score toelf/IELTS antum sekalian cukup, tapi bukan itu penyebab diterima beasiswa serta kuliahnya.
Toefl dan IELTS boleh 5, tapi faktor yang paling menentukan adalah motivation letter dan statement of purpose, menggigit atau datar.
Usahakan unik bin aneh, pastikan datanya ilmiah serta dapat dipertanggung jawabkan.
“Hanjeet ta meuolah ngen awak nyan. Insya Allah, Antum semua Pasti diterima,” tutup dia sambil menuliskan salam “Sabahiniz xeyir” yang berarti tulisan itu dipostingnya pada waktu pagi di Baku, Azerbaijan, 15 September 2019.(*)
SHARE