Keseringan Hirup Vape, Remaja 18 Tahun Ini Kesulitan Bernafas hingga Koma

SHARE


UTAH – Vape sering dianggap lebih aman dari rokok karena berlabel Nicotine-Free.
Selain itu, vape juga disebut tidak memiliki tar, yakni partikulat di dalam udara yang masuk ke sistem pernapasan hasil menghisap rokok tembakau.
Mitos-mitos positif tersebut, mungkin bisa membuat seseorang mengira jika vape atau rokok elektrik aman digunakan.
Karenanya pemakaian vape banyak digandrungi oleh para remaja di berbagai belahan dunia, pun di tanah air.
Nytanya, tak banyak yang tahu jika vape atau rokok elektrik memiliki dampak yang sangat berbahaya bagi para pemakainya.
Seorang gadis remaja asal Utah, Amerika ini menggunakan vape selama 3 tahun.
Maddie Nelson (18) gadis remaja yang dilarikan ke rumah sakit karena dirinya tak bisa bernapas.
Melansir dari laman Metro.co.uk, adik Maddie yang bernama Andrea menceritakan bahwa kondisi kakaknya sangat tidak baik.
Berdasarkan hasil pemeriksaan rontgen, rupanya Maddie mengalami infeksi atau kerusakan parah pada paru-parunya.
"Pada 1 Agustus, ia (Maddie) secara didiagnosis menderita infeksi akut pada kedua paru-parunya. hasil tes menunjukkan bahwa ia menderita pneumonia eosinofilik akut," jelas Andrea seperti yang Grid.ID kutip dari Metro.co.uk.
Pneumonia eosinofilik akut adalah penyakit langka yang disebabkan oleh penumpukan sel darah putih di paru-paru sebagai akibat atau respon dari suatu peradangan.
Para dokter menduga bahwa vape atau rokok elektronik memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kondisi Maddie.
Akibat penyakit tersebut, gadis 18 tahun ini sempat koma selama 3 hari. 3 hari kemudian ia pun sadar.
Maddie Nelson koma akibat derita infeksi paru-paru akut Gofundme via https://metro.co.uk
Namun, Maddie tak bisa bernapas sendiri, ia masih membutuhkan alat bantu untuk membantunya bernapas.
Selama menjalani perawatan di rumah sakit, Maddie membagikan kisahnya lewat media soail. Ia berharap agar ceritanya bisa menjadi reminder bagi para remaja lainnya.
Ia mengunggah sebuah foto di media sosialnya dan menuliskan pesan agar jangan meroko, jangan menghirup vape. Menurutnya keduanya sama-sama berbahaya.
Maddie, gadis remaja yang hirup vape selama 3 tahun Gofundme via https://metro.co.uk
Menurut sebuah penelitian seorang doktor dari Universitas Brimingham, Dr Aaron Scoot menyebutkan bahwa carian vape yang diuapkan memiliki efek yang sama pada paru-paru dan tubuh sama seperti pada perokok biasa.
Menurutnya, vaping bersifat sitotoksik dan proinflamasi.
Dibutuhkan studi jangka panjang dan regulasi yang tepat sebelum bagi vape sebelum vape dipromosikan sebagai alternatif yang lebih baik dari rokok tradisional. (*)
SHARE