Keluarga Literer

SHARE


Oleh Adnan, Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh
Nyaris seluruh akar persoalan dalam sebuah masyarakat berasal dari tatanan keliru sebuah keluarga. Keluarga merupakan cerminan sebuah masyarakat. Jika sebuah keluarga cerdas, pasti cerdas pula sebuah masyarakat. Maka untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas mesti dimulai dari penataan keluarga secara utuh (holistik) dan menyeluruh (komprehensif).
Solusi kecerdasan sebuah keluarga adalah penataan literasi keluarga. Tanpa penataan literasi keluarga, maka mustahil terwujudnya gagasan memasyarakatkan literasi dalam keluarga. Sebab, dari keluarga litererlah akan lahir masyarakat yang cerdas, sehingga mampu mengurai akar persoalan  masyarakat.
Sebab itu, seluruh elemen berupa pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kemasyarakatan (Ormas), lembaga keagamaan, tokoh agama dan cendekiawan, harus ambil bagian secara kolektif dalam mewujudkan keluarga literer. Yakni sebuah keluarga yang memiliki kemampuan dalam menggali ide-ide dan gagasan baru (novlty) baik dengan membaca dan menulis (daya baca) maupun visual, semisal adegan dan video. Sebab realitasnya masyarakat Indonesia memiliki kemampuan membaca yang tinggi, tapi rendah daya membaca. Maka survei Unesco tahun 2012 menempatkan Indonesia pada urutan ke 64 dari 65 negara yang diteliti tentang literasi.
Padahal, mayoritas penduduk Indonesia ialah beragama Islam. Idealnya penduduknya memiliki daya baca tertinggi di dunia. Sebab wahyu pertama yang diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw tentang perintah membumikan literasi (Qs. Al-`Alaq: 1-5). Iqra' menjadi simbol amanat Ilahi untuk membumikan literasi baik secara personal maupun kolektif. Maka mewujudkan keluarga literer merupakan bagian dari tipologi manusia takwa, karena mengaplikasikan wahyu pertama dalam Alquran. Sebaliknya, keluarga yang abai terhadap literasi bagian dari tipologi manusia durhaka, sebab abai terhadap perintah Allah swt.
Desain kreatif
Aktivitas literasi keluarga perlu didesain secara kreatif dan inovatif. Bertujuan untuk meningkatkan adrenalin baca-tulis anggota keluarga. Apabila aktivitas literasi keluarga hanya didesain seadanya dan alakadarnya, maka akan sulit mendorong tumbuhnya literasi pada person keluarga.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan yaitu: Pertama, penyadaran literasi. Anggota keluarga perlu mendapatkan pemahaman secara utuh dan komprehensif tentang urgensi literasi. Bahwa literasi merupakan ruh keluarga yang berguna untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan bernilai ibadah di sisi Allah swt. Artinya, literasi bukan saja perintah konstitusi, tapi juga perintah Ilahi yang mesti diaplikasikan dalam kehidupan pribadi, keluarga dan sosial. Tanpa literasi akan berpengaruh negatif terhadap rendahnya daya saing bangsa.
Kedua, satu rumah satu perpustakaan (one home one library). Perpustakaan memiliki peran penting dalam mewujudkan keluarga literer. Sebab perpustakaan merupakan tempat tersedianya sumber bacaan baik manual maupun digital. Apabila sebuah rumah tidak memiliki ruang perpustakaan akan berefek pada rendahnya daya baca anggota keluarga. Maka urgen untuk mewujudkan satu rumah satu perpustakaan.
Selain itu, untuk mendorong meningkatnya daya baca anggota keluarga, maka ruang perpustakaan harus didesain semenarik mungkin dan dilengkapi beragam bahan bacaan, semisal menempatkan ruang perpustakaan pada lokasi strategis, lengkap bahan bacaan untuk anak-anak (komik, cerpen, novel, alat tulis dan menggambar), perpustakaan berada pada ruang utama agar mudah dijangkau oleh anggota keluarga, menjadikan ruang perpustakaan sebagai lokasi diskusi dan pertemuan keluarga. Dari sana diharapakan dapat mendorong munculnya daya baca anggota keluarga, sehingga lahir keluarga literer.
Ketiga, aktivitas membaca buku harian (reading diary). Untuk mewujudkan keluarga literer diperlukan penerapan aktivitas membaca buku harian dalam keluarga, semisal one day one page atau one month one book. Hal ini perlu dilakukan agar literasi menjadi ruh dalam keluarga. Maka perlu diberikan penyadaran kepada anggota keluarga tentang urgensi literasi sebagai ruh keluarga. Membumikan literasi merupakan kewajiban kolektif anggota keluarga.
Karena itu, aktivitas membaca buku dalam keluarga harus dilakukan setiap hari agar seluruh anggota keluarga terbiasa membaca dan menulis. Tanpa pembiasaan literasi dalam keluarga sulit untuk mewujudkan keluarga `gila' literasi. Padahal, visi `Indonesia pintar' hanya dapat diwujudkan dengan pembumian literasi.
Keempat, hadiah buku. Setiap keluarga pasti sering menerapkan reward (penghargaan) dan punishment (sanksi) terhadap anggota keluarga yang berprestasi dan melanggar aturan. Maka literasi dapat menjadi salah satu alternatif (cultural change) dalam pemberian reward dan punishment terhadap anggota keluarga, semisal hadiah buku dan sanksi membaca dan menulis.
Upaya ini perlu dilakukan untuk mendorong meningkatnya daya baca anggota keluarga. Harapannya membaca dan menulis menjadi bagian dari kebiasaan (habits) dan kebutuhan hidup (human of needs) anggota keluarga. Jika membaca dan menulis telah menjadi kebiasaan dan kebutuhan, berarti keluarga telah berhasil membumikan literasi dalam mewujudkan keluarga literer.
Kelima, liburan ke toko buku atau perpustakaan. Realitas keluarga masa kini berliburan ke destinasi wisata alam, semisal pantai, gunung, dan perbelanjaan, semisal super market dan mall. Sehingga tak dapat dipungkiri bahwa saat musim liburan tiba, destinasi wisata tersebut dipenuhi oleh para pengunjung. Akan tetapi, meski liburan ke destinasi wisata tersebut bukanlah sesuatu yang keliru, tapi diperlukan destinasi wisata literasi semisal toko buku dan perpustakan.
Destinasi wisata literasi ini dapat menjadi daya tarik bagi anggota keluarga untuk menumbuhkan daya baca. Jangan sampai pada musim liburan toko buku dan perpustakaan sepi dari pengunjung. Hal ini menunjukkan ketidakpedulian dan kegagalan keluarga dalam membumikan literasi.
Keenam, teladan orang tua. Orang tua merupakan guru pertama bagi anak. Apabila orang tua meneladani karakter terpuji akan menjadi cermin bagi anak untuk berperilaku terpuji, sebaliknya. Maka orang tua menjadi kunci dalam pembiasaan literasi keluarga. Segalanya dimulai dari orang tua. Apabila orang tua abai terhadap literasi akan berpengaruh negatif terhadap literasi anak sebagai person peniru (imitasi) dalam keluarga, akibatnya sulit mewujudkan keluarga `gila' literasi.
Maka orang tua harus terbiasa dengan membaca dan menulis, mengunjungi toko buku dan perpustakaan. Pun, orang tua harus membiasakan diri untuk memberikan hadiah buku kepada anak tatkala mendapatkan prestasi. Hal ini bentuk responsif dan kepekaan orang tua dalam mendorong peningkatan literasi keluarga.
Sebab itu, literasi keluarga merupakan terobosan yang mesti dilakukan oleh setiap keluarga. Agar seluruh person keluarga memiliki minat dan daya baca-tulis yang tinggi. Dari keluarga literasi akan lahir masyarakat yang cerdas, berkualitas dan literer. Sehingga berdampak positif terhadap daya saing bangsa dalam pergulatan global.
Maka setiap keluarga harus khawatir terhadap rendahnya daya baca-tulis person keluarga. Sesuai dengan perintah Ilahi: "Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka" (Qs. An-Nisa': 9).
SHARE