Kasus Kadi Liar Nikahkan Pasangan Masih Terikat Perkawinan, Kemenag Aceh Barat Dorong Proses Hukum

SHARE


MEULABOH  - Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Aceh Barat mendorong polisi mengusut  kasus kadi liar menikahkan pasangan yang masih terikat perkawinan sebelumnya. 
“Harapan kita diusut sehingga menjadi efek jera. Negara kita mempunyai aturan yang mengantur tentang  perkawinan,” kata Kakankemenag Aceh Barat, H Khairul Azhar kepada wartawan, Minggu (15/9/2019).
Menurutnya, kasus seperti ini tidak boleh dibiarkan, apalagi informasi yang berkembang juga pernah terjadi pada kecamatan lain di Aceh Barat.
Sebab bila ini terus terjadi yang dikorbankan adalah perempuan yang dinikahkan serta anak yang dilahirkan karena terkendala dengan status seperti mengurus surat menyurat ke depan.
 Kakankemenag mengatakan, kasus yang terjadi di Kaway XVI perlu ditelusuri, apalagi informasi berkembang dari keterangan sementara bahwa masing-masing pasangan masih terikat tali perkawinan.
Seperti diberitakan Kepala KUA Kaway XVI, Aceh Barat, Safrizal SAg mendatangi Polsek Kaway XVI, Jumat (13/9/2019) siang.
Pasalnya ada temuan seorang kasus kadi liar menikahkan secara diam-diam satu pasangan tanpa melapor ke KUA setempat.
Selain tidak melapor sebagaimana aturan perkawinan, diduga pasangan yang dinikahkan itu masih terikat perkawinan sah alias masih memiliki istri maupun suami. 
Pelaporan oleh Kepala KUA ke Polsek Kaway XVI itu turut didampingi Keuchik Pasi Tengoh, Said Dahlan dan Keuchik Peunia, Suhelmi.
Safrizal menjelaskan, pelaporan yang dilakukan pihaknya baru sebatas menyerahkan barang bukti berupa selembar kertas atau surat tanda pasangan itu sudah menikah yang dikeluarkan oleh seorang teungku berisial I.
Pria yang menikahkan pasangan tersebut disebut-sebut mengaku sebagai penghulu dan merupakan penduduk sebuah desa di Kecamatan Johan Pahlawan.
“Pernikahan itu dilakukan di Desa Pasi Tengoh, Kecamatan Kaway XVI pada 10 September 2019 lalu,” ujar Safrizal.
Ia mengungkapkan, pasangan yang dinikahkan itu, yakni pria berinisial M (36), warga Desa Peunia, Kecamatan Kaway XVI.
Sedangkan perempuannya berinisial N (20), warga Desa Tanjong Sentan, Medan, Sumatera Utara (Sumut), dengan turut juga disaksikan dua saksi, yakni S dan Y.
Lebih lanjut, Kepala KUA menerangkan, terungkapnya kasus kadi liar tersebut setelah adanya laporan dari Keuchik Peunia yang mempertanyakan alasan pria M membawa pulang seorang wanita ke rumahnya di gampong tersebut. 
Padahal, pria M diketahui masih memiliki istri dan selain itu, keuchik juga mempertanyakan kapan pria M menikah dengan wanita yang dibawa pulang ke rumahnya itu.
“Dari keterangan pria M ternyata mereka menikah di Desa Pasi Tengoh, yakni desa lain yang juga di Kecamatan Kaway XVI. Atas dasar itu, Keuchik Penia mempertanyakan kebenaran kepada Keuchik Pasi Tengoh,” beber Safrizal.
Namun ternyata keuchik Pasi Tengoh juga tidak mengetahui pernikahan itu karena dilakukan secara diam-diam pada sebuah rumah pada 10 September 2019.
“Setelah menikah, pasangan itu sempat tidur dua malam di sebuah rumah di Pasi Tengoh dan sempat digerebek warga. Namun pasangan ini kabur,” ujarnya. 
“Karena ini bentuk praktik pernikahan melanggar UU perkawinan sehingga kami teruskan ke polisi,” imbuh dia.
Safrizal mengakui, dari  pemeriksaan juga terungkap bahwa wanita N tersebut tiba di Meulaboh, Aceh Barat dari Sumatera Utara dan dijemput pria M di terminal.
Ironisnya, wanita N itu rupanya juga masih memiliki suami sah dan seorang anak yang kini menetap di Sumatera Utara.
“Demikian juga dengan pria M dari keterangan pihak desa dilaporkan masih memiliki istri sah,” tandasnya. (*)
SHARE