Kapal Tunggu Pasang untuk Berlayar, Dampak Dermaga Jembatan Tinggi Pulo Sarok Dangkal

SHARE


SINGKIL - Alur sungai di Dermaga Jembatan Tinggi Pulo Sarok, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil dilaporkan dangkal. Imbasnya, penumpang yang ingin menyeberang ke Pulau Banyak melalui dermaga tersebut harus menunggu berjam-jam karena kapal tidak bisa berlayar sebelum air pasang.
Meski masih tradisional, Dermaga Jembatan Tinggi Pulo Sarok itu merupakan pelabuhan tersibuk di Aceh Singkil. Dermaga melayani rute pelayaran kapal tradisonal dengan rute Singkil ke Pulau Banyak dan sebaliknya.
Selain itu, boat pengangkut ikan dari Kepulauan Banyak yang hendak berlayar ke Medan, Sumatera Utara (Sumut), juga melakukan bongkar muat di Dermaga Jembatan Tinggi Pulo Sarok. Demikian juga dengan aktivitas bongkar muat barang-barang kebutuhan pokok dan bangunan yang akan dibawa ke Kepulauan Banyak, dilakukan di pelabuhan tradisional tersebut.
Tak pelak, dangkalnya alur sungai di dermaga itu sangat menghambat aktivitas kapal ketika ingin ke luar atau masuk ke pelabuhan. Sebab, kapal harus menunggu air pasang dulu baru bisa sandar maupun keluar dari dermaga. "Kadang sampai berjam-jam nunggu pasang baru bisa keluar atau masuk Dermaga Jembantan Tinggi," tukas Ma Panjang, salah satu nakhoda senior di Aceh Singkil kepada Serambi, Jumat (6/9).
Ia mengungkapkan, pendangkalan juga terjadi di mulut muara menuju ke Dermaga Jembatan Tinggi Pulau Sarok. Bahkan, muara dangkal itu, ulas Ma Panjang, sangat berbahaya bagi boat yang keluar masuk, lantaran di kawasan itu ombak memecah.
“Sehingga kapten kapal atau boat harus dipandu ketika melintas muara agar tak terjebak di tempat dangkal,” ucapnya. “Selain dangkal, Dermaga Jembatan Tinggi Pulo Sarok juga minim fasilitas. Tempat sandar sejauh ini banyak yang dibangun secara swadaya,” pungkasnya.
Sementara itu, Sungai Gosong Telaga yang berada di belakang pemukiman penduduk Desa Gosong Telaga Utara, Kecamatan Singkil Utara, Aceh Singkil mengalami pendangkalan. Akibatnya, penduduk Gosong Telaga Utara yang 85 persen bermata pencaharian nelayan kesulitan melaut lantaran. Kondisi serupa juga dialami nelayan dari Desa Gosong Telaga Timur, Gosong Telaga Selatan, dan Desa Kampung Baru, yang juga menggunakan jalur sungai tersebut untuk ke luar masuk melaut.
Kepala Desa Gosong Telaga Utara, Mohd Dhin kepada Serambi, Kamis (5/9), mengatakan, pendangkalan Sungai Gosong Telaga diakibatkan tidak berfungsinya sungai depan Rumah Tahanan (Rutan) Cabang Singkil lantaran tersumbat di bagian jembatan. Kondisi itu menyebabkan air mengalir melalui parit samping pemukiman warga Muara Pea. Aliran yang ikut mengangkut material tanah itu kemudian masuk ke Sungai Gosong Telaga sehingga menyebabkan pendangkalan. "Ekses pendangkalan sungai ini membuat perahu nelayan kadang sampai delapan jam harus menunggu pasang dulu, baru bisa berlayar," kata Mohd Dhin.
Mohd Dhin menjelaskan, jika sungai di depan Rutan Cabang Singkil berfungsi maka air akan terbagi dan mengalir sebagian ke Sungai Suak Kanan. Dengan demikian pendangkalan di Sungai Gosong Telaga yang berada di belakang pemukiman penduduk Goaong Telaga Utara akan berkurang.
Mohd Dhin mengaku, pihaknya sudah berulangkali mengusulkan kepada Pemkab Aceh Singkil untuk membongkar material bekas jembatan yang menutup sungai di depan Rutan Cabang Singkil, namun belum kunjung dikabulkan. "Setiap Musrenbang itu saja kami usulkan, tapi tak juga dipenuhi," keluh Mohd Dhin.
SHARE