Ini Penjelasan Polisi Terkait Pengrusakan Objek Wisata Mantak Tari Simpang Tiga Pidie

SHARE


SIGLI - Sekitar 300 warga yang mengamuk merusak fasilitas dan kios di objek wisata Mantak Tari, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, Sabtu (8/9/2019) dilakukan tidak bersamaan.
Data polisi bahwa aksi membakar kios dilakukan lebih awal sekitar 05.15 WIB.
Sementara pengrusakan kios dan fasilitas dilakukan massa didominasi ibu-ibu setelah kios itu dibakar.
Aksi membakar kios dan pengrusakan kios dan fasilitas objek wisata saat lokasi objek wisata tersebut telah ditutup.
Sehingga tidak adanya aktivitas di objek wisata Mantak Tari.
"Kios dibakar orang tak dikenal, sementara pengrusakan kios dan fasilitas dilakukan sekitar 300 warga," kata Kapolres Pidie, AKBP Andy SN Siregar SIK, melalui Kapolsek Simpang Tiga, Iptu Mursal, kepada Serambinews.com, Minggu (8/9/2019).
Ia menyebutkan, motif pengrusakan kios diduga dilatarbelakangi karena warga tidak ingin menjadi objek wisata Mantak Tari sebagai lokasi maksiat.
Bahkan, kata Iptu Mursal, warga Gampong Kupula dan Meunasah Lhee yang ngotot lokasi mantak tari itu ditutup.
Sementara gampong lain hanya sebagian masyarakat saja yang menginginkan objek wisata ditutup.
Sebagian lagi minta objek wisata dibuka.
"Sehingga untuk menghindari bentrok sesama warga objek wisata itu ditutup sementara.
Tapi, sekarang tiba-tiba warga datang melakukan pengrusakan yang dilakukan massa dari Gampong Kupula dan Meunasah Lhee," jelasnya.
Ia menjelaskan, warga hendaknya menahan diri terhadap pascakejadian tersebut.
" Untuk yang membakar kios dilakukan OTK akan ditindaklanjuti polisi," jelasnya.
Ia menambahkan, persoalan penyelesaian objek wisata Manta Tari telah berulangkali digelar rapat.
Bahkan, terakhir dilaksankan pada tanggal 3 September 2019 oleh forum pengendali konflik dari kabupaten.
Rapat terakhir itu dihadiri enam keuchik, tokoh masyarakat, imum mukim, Kepala Kepala Kesbangpol Pidie, Zulfikar, mewakili akademisi Umar Mahdi dan Muspika Kecamatan Simpang Tiga.
" Rapat tersebut hanya mendengar keluhan warga," pungkasnya.
Kios Dibakar
Sebelumnya ratusan warga dari Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, Minggu (8/9/2019) sekitar pukul 06.00 WIB, merusak kios di objek wisata Mantak Tari kecamatan tersebut.
Massa yang dominan kaum ibu juga membakar belasan kios yang dibangun di pinggir laut Mantak Tari.
Kios yang dibangun dari bambu beratap rumbia dan sebagian beratap seng persisnya di bawah pohon cemara.
Pantauan wartawan, Minggu (8/9/2019) saat ini massa telah bubar di objek wisata Mantak Tari.
Massa juga merusak tulisan nama pantai Mantak Tari yang dibangun tahun 2018, dengan anggaran APBA.
Hanya puluhan personel polisi berbaju dinas dan preman masih bertahan di lokasi kejadian.
Puing-puing kios sisa dibakar dan dirusak masih berserakan di lokasi objek wisata Mantak Tari. 
Aksi Emak-emak sebelumnya
Sebelumnya ratusan kaum ibu dari lima gampong di Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, Minggu (28/7/2019) sekitar pukul 07 00 WIB, menutup pantai Mantak Tari.
Emak-emak itu berasal dari Gampong Kupula, Meunasah Lhee, Mantak Raya, Lampoh Awe dan Pulo Gajah Mate.
Akses jalan ditutup menuju lokasi pantai Mantak Tari, emak-emak mendirikan tenda di dua lokasi.
Sehingga pengunjung yang datang, langsung dihentikan emak-emak.
Para pengunjung pun langsung balik arah, pulang.
Pantai Mantak Tari ramai dikunjungi warga, terutama di hari minggu.
Para pengunjung itu terdiri atas kaula muda maupun mereka yang memboyong keluarga ke pantai tersebut.
Selain karena pantainya yang indah, Mantak Tari juga terkenal dengan pasir hitam yang berkhasiat bisa menyembuhkan penyakit lumpuh.
Nurhayati (39) warga Gampong Kupula yang ditemui Serambinews.com, Minggu (28/7/2019) mengatakan, emak-emak dari lima gampong menutup pantai Mantak Tari sejak pagi.
Dua tenda didirikan di jalan akses masuk menuju pantai.
"Sebenarnya larangan pengunjung ke pantai ini telah dilancarkan satu minggu lalu. Tapi, dua tenda ini kami pasang, Minggu (28/7/2019) pagi," ujar Nurhayati.
Ia menjelaskan, pemasangan tenda tersebut merupakan inisiatif dari kaum ibu, untuk pelarang warga yang berkunjung ke pantai.
"Di sini tidak ada ketua maupun koordinator, kami bergerak atas inisiatif semua," sebutnya.
Ia menambahkan, alasan menutup Mantak Tari karena sering terjadi maksiat.
Kaum ibu akan melarang pengunjung sampai adanya qanun yang mengatur bagi pengelolaan tempat rekreasi tersebut. 
Halau Pulang Pengunjung
Sebelumnya Warga Kecamatan Simpang Tiga masih memblokir akses jalan menuju objek wisata Mantak Tari, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie.
Pemblokiran jalan menuju objek wisata masih dilakukan kaum wanita.
Sejumlah wanita meminta pengunjung pulang yang datang ke objek wisata tersebut.
Pantauan Serambinews.com, Senin (12/8/2019), sejumlah wanita didominasi mak-mak duduk di tembok Mantak Tari.
Sejumlah sepeda motor diparkir di tengah jalan.
Setiap pengunjung yang datang menggunakan roda dua maupun roda empat mereka halau.
"Maaf objek Mantak Tari kami tutup, di Mantak Tari itu sering terjadi maksiat. Kami takut maksiat yang akan mengundang bencana," kata salah seorang berbadan gempal saat ditanya wartawan, Senin (12/8/2019).
Kadisparbudpora Pidie, Apriadi SSos, kepada Serambinews.com, Senin (12/8/2019) mengatakan, pihak dinas belum menggelar rapat dengan dengan tokoh masyarakat Simpang Tiga, guna menyelesaikan persoalan objek wisata Mantak Tari.
Karena, menurutnya, Camat Simpang Tiga harus melaporkan persoalan tersebut kepada bupati.
"Pak Camat telah melaporkan kepada dinas, seharusnya camat melaporkan juga kepada Pak Bupati. Walau pun nantinya Pak Bupati akan memanggil Disparbudpora," jelasnya.
Ia menyebutkan, camat melaporkan persoalan itu kepada bupati, sebab masalah Pantai Mantak Tari terjadi di dalam kawasanya.
Rp 5 Miliar Terancam
Lokasi wisata Pantai Mantak Tari, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie masih ditutup sejak dua pekan lalu hingga, Selasa (6/8/2019).
Kondisi itu tidak sepadan dengan rencana rehabilitasi kawasan wisata itu dari pemerintah pusat sebesar Rp 5 miliar pada tahun depan.
Keputusan masyarakat setempat juga menghalang masyarakat yang hendak berliburan setiap akhir pekan berwisata di pantai eksotik berpasir hitam.
Bahkan, rencana membenahi Pantai Wisata Mantak Tari pada 2020 dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) terancam gagal.
Padahal pusat telah respon dan memberi dana Rp 5 miliar untuk membenahi Pantai Mantak Tari itu.
"Kalau terus seperti ini, dikhawatirkan dana rehabilitasi Rp 5 miliar untuk Mantak Tari dari pemerintah pusat akan gagal,” ujar Syammi, SP, Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Pidie, Selasa (6/8/2019).
Syammi menyebutkan fasilitas yang akan dibangun pada 2020 berupa agazebo (pondok) untuk pengunjung, kios kuliner serta cinderamata, sumber air bersih, gapura dan kamar ganti.
Dikatakan, proyek rehabilitasi telah ada dalam Detail Engineering Desaign (DED), termasuk dikuatkan dengan peraturan bupati (Perbup), kemudian rekomendasi dari tiga keuchik yakni Gampong Kupula, Lampoh Awee dan Mantak Raya.
"Ada lagi surat rekomendasi camat serta surat pembebasan lahan dari bupati. Nah, jika kondisi sekarang diketahui pusat, apa jadinya. Bisa jadi uang sudah disetujui dialihkan ke lokasi lain, " tutur Syammi.
Dia berharap, rencana musyawarah yang akan dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Adha dapat diwujudkan..
"Kita malu juga, sebab semua unsur administrasi telah beres, tinggal tunggu realisasi tapi sudah jadi begini, " katanya.
Dikatakan, dana itu bersumber dari DAK Kementerian Pariwisata RI, malahan pada 2019 telah dianggarkan untuk pembenahan Pantai Pelangi dengan nilai Rp 2, 4 miliar.(*)
SHARE