Hadiah Terbesar BJ Habibie untuk Aceh itu Bernama Pencabutan DOM

SHARE


BANDA ACEH – Indonesia berduka.
Presiden ke 3 RI, BJ Habibie meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (11/9/2019).
Habibie meninggal pada pukul 18.05 WIB dalam usia 83 tahun.
Bapak Teknologi Indonesia tersebut meninggal karena sakit yang dideritanya dan ia sudah dirawat secara intensif sejak 1 September 2019.
Dibalik berita duka, tahukah anda bahwa Habibie punya cerita dengan Aceh?
Saat menjabat Presiden, Habibie pernah memberikan hadiah terbesar untuk Aceh yang tercatat dalam sejarah, yaitu pencabutan Daerah Operasi Militer (DOM).
Sekedar mengulang sejarah, dalam rentang medio 1989-1998, Presiden Soeharto memberlakukan operasi militer dengan sandi Operasi Jaring Merah untuk menumpas pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di bawah pimpinan Hasan Tiro.
Selama periode itu, pemerintah menyatakan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) dan mengirimkan pasukan Tentera Nasional Indonesia (TNI).
Dalam operasi itu, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat terjadi di Aceh.
Sepuluh tahun pemberlakuan DOM, menyebabkan ribuan orang tewas dan dibantai, serta ratusan orang lainnya hilang, dibunuh, diperkosa, atau disiksa.
Kasus itu menjadi peristiwa paling kelam di Indonesia.
Menjadi sebuah tragedi kemanusiaan.
Singkat cerita, kasus itu kemudian berakhir pada tahun 1989, ketika Soeharto lengser dari jabatan Presiden dan berakhirnya masa era Orde Baru.
Posisi Presiden kemudian diganti oleh putra kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, BJ Habibie.
“Semasa Habibie lah, DOM di Aceh dicabut,” kata Muhammad MTA, mantan aktivis Aceh kepada Serambinews.com, Kamis (12/9/2019) saat menggenang sosok BJ Habibie yang baru saja meninggal.
Operasi DOM diketahui berakhir dengan penarikan sebagian pasukan non organik atas perintah Presiden BJ Habibie pada 22 Agustus 1989. 
Muhammad MTA masih mengenang betul bagaimana reaksi masyarakat Aceh saat itu.
Bahkan dengan jiwa besar, Presiden BJ Habibie kala itu secara resmi menyampaikan permintaan maaf negara kepada Aceh pada peringatan 17 Agustus 1998.
Inilah hadiah terbesar Habibie untuk Aceh selama ia menjabat Presiden.
Tak hanya itu, perhatian BJ Habibie untuk Aceh juga berlanjut dengan membuat Tim Pencari Fakta Pengungkapan Kasus Pelanggaran HAM di Aceh dengan ketua Baharuddin Lopa yang juga Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia saat itu.
“Maka ditemukanlah kasus Rumoh Gedung dan peristiwa pelanggaran HAM lainnya,” kata Muhammad MTA, aktivis Aceh yang pernah mendekam dalam penjara akibat aktivitasnya memperjuangkan aspirasi rakyat Aceh.
Begitulah sekelumit kenangan tentang sosok BJ Habibie. 
Jasadnya telah terkubur, namun namanya akan tetap terkenang. (*)
SHARE