Aceh Zona Merah Narkoba, Dipasok dari Darat, Laut dan Udara Aceh

SHARE


LANGSA - Peredaran narkoba di Provinsi Aceh, baik jenis ekstasi maupun sabu-sabu sudah masuk zona merah atau sudah sangat berbahaya. Pasokan narkoba atau juga peredaran ke luar daerah dilakukan melalui darat, laut, bahkan udara.
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Brigjen Pol Drs H Faisal Abdul Naser MH mengatakan Aceh sudah memasuki kategori zona lampu merah narkoba. Dia berharap hal itu ini harus menjadi perhatian dan tanggung jawab semua pihak guna memperbaikinya, salah satunya tidak ada lagi sejengkal tanah Aceh menjadi lahan peredaran narkoba.
Demikian disampaikan Jendral bintang satu ini saat menyampaikan implementasi Inpres Nomor 6 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) dan P4GN, di Vitra Convention Hall - Kota Langsa, Kamis (12/9). Kepala BNNP Aceh menambahkan kejahatan narkoba sangat terkoordinir dimulai dari mulai udara, darat, bahkan laut yang menjadi jalur empuk aksi penyeludupan barang haram terutama sabu-sabu dan ekstasi.
Akibat adanya penyelundunpan narkotika, jumlah pencucian uang di daerah Aceh ini cukup tinggi dengan sistem transaksi bersifat cash atau tunai  yang mengalir ke jaringan dan bandar narkoba.  "Berdasarkan data, setiap tahun Aceh kehilangan uang Rp 30 triliun dan uang dengan nilai fantastik itu beredar di tangan bandar narkoba," ujarnya.
Disebutkan tantangan dunia terhadap narkoba harus dilakukan dengan langkah kongkret, dimana para bandar narkoba harus ditangkap dan dihukum mati, serta asetnya wajib dirampas negara. Dia merilis, sejak 2017 hingga Agustus 2019, BNNP Aceh berhasil mengungkap dan memutuskan sebagian sindikat jaringan narkoba di daerah Serambi Mekkah ini.
Di antaranya, disita sabu-sabu sebanyak 3.650.512,23 gram, pil ekstasi 85.250 butir dan pill happy five 20.000 butir, dan memusnahkan ganja sebanyak 2.850.466,20 gram, termasuk ladang ganja seluas 60 hektare.
Kemudian, untuk terdakwa kasus narkotika yang dituntut mati pada tahun 2018 sebanyak 19 orang meliputi di Kejari Aceh Utara 7 terdakwa, Kejari Aceh Timur 12 terdakwa, dan seorang terdakwa banding. Lalu, jumlah napi kasus narkotika di Lapas atau Rutan Aceh baik bandar atau pengedar sepanjang tahun 2018 ada sebanyak 2.491 orang, sedangkan napi pengguna narkoba sekitar 1.624 orang.
Menurut dia,  masyarakat Aceh jangan lagi mau diatur oleh bandar, tetapi harus mencegah serta ikut memberantas bandar narkoba dan jadikan mereka sebagai musuh bersama. "Kepada seluruh Babinsa, Babinkamtibmas, keuchik, dan masyarakat, mari kita bersama menumpas para bandar narkoba dimulai dari lingkungan masing-masing," harapnya.
Dia menyatakan masyarakat juga memiliki peran penting dalam pemberantasan narkoba, maka harus mentakbirkan perang dan berantas narkoba dari tanah Aceh ini. "Jangan lagi kita biarkan bandar narkoba dan jaringannya bebas mengedarkan narkoba, sehingga genarasi di Aceh khususnya dan Indonesia umumnya akan hancur," ungkap Kepala BNNP Aceh ini.
Turut dihadiri Kepala BNNK Langsa, AKBP Navry Yulenny SH MH, Kepala Kesbangpol Kota Langsa, H Agussalim MH, Wakapolres Langsa, Kompol Budi Dharma SH, para Babinsa, Babinkamtibmas, Keuchik, dan lainnya.
SHARE