Aceh Butuh Lapas Baru

SHARE


BANDA ACEH - Lembaga pemasyarakatan (lapas) di Aceh saat ini over kapasitas. Oleh karena itu, dibutuhkan penambahan lapas baru untuk mengurangi kelebihan kapasitas napi. Hal itu disampaikan oleh Kepala Kanwil Kemenkumham Aceh, Lilik Sunjadi saat bersilaturahmi ke Kantor Serambi Indonesia, Aceh Besar, Jumat (20/9). "Oh iya, perlu ditambah," katanya menjawab Serambi.
Datang bersama Kepala Divisi (Kadiv) Administrasi, Rudi Hartono dan Humas Kemenkumham Aceh, Ida Meilani, Lilik disambut News Manajer, Bukhari M Ali, GM Bisnis, Mohd Din serta Manajer Promosi dan EO, M Jafar.
Lilik menyatakan over kapasitas itu terjadi selain karena tingginya tingkat pelanggaran yang terjadi di tengah masyarakat, juga karena tidak semua daerah memiliki lapas seperti Nagan Raya dan Subulussalam.
"Kita masih kekurangan lapas seperti di daerah pemekaran, Nagan Raya dan Subulussalam, belum ada lapas. Padahal di sana sudah ada Polres dan Kejari," ujar dia.
Dalam pertemuan itu, Lilik juga menyebutkan, rata-rata penghuni lapas di Aceh mencapai angka 8.000 orang. Jumlah itu dua kali lipat dari batas normal. Secara nasional, lapas di Aceh menempati peringkat kelima lapas kelebihan penghuni.
"Normalnya, kapasitas lapas kita tidak lebih separuhnya," sebut mantan Direktur Keamanan dan Ketertiban (Kamtib) pada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) itu.
Ciptakan Zona Damai
Dalam kesempatan itu, Kakanwil Kemenkumham Aceh, Lilik Sujandi juga menyampaikan saat ini pihaknya sedang melaksanakan beberapa terobosan untuk menjadikan lapas atau rutan sebagai zona yang damai.
Artinya, Kemenkumham Aceh ingin menciptakan pembinaan terhadap napi melalui pendekatan humanis. Para sipir diminta untuk lebih mengayom setiap keluhan napi. Menurut Lilik, penjaga tidak boleh berprilaku keras kepada napi yang meminta konsultasi. Karena, terbukti beberapa peristiwa yang terjadi di lapas seperti pembakaran lapas atau rusuh sering disebabkan oleh ulah oknum petugas.
"Karakter konsulting setiap petugas itu penting. Misalkan menyampaikan kepada napi, Bapak sebentar lagi akan dapat remisi. Mendengar informasi itu, napikan jadi menjaga diri," ujar dia.
Selain itu, saat ini Kanwil Kemenkumham Aceh juga melakukan pembinaan melalui pendekatan religius seperti menghadirkan pesantren dalam lapas. Setiap napi nantinya akan belajar agama kepada ustaz yang dihadirkan sehingga napi itu memiliki pondasi kuat di bidang agama.
"Kita harapkan program ini akan menjadi role model dalam melakukan pendekatan. Dengan pendalaman agama yang memadai, kita harapkan mereka tidak mengulangi lagi perbuatan pidana. Kalau dia masuk sebagai napi, keluar sebagai dai," pungkas Lilik.
SHARE