Sopir Truk Dipungli, Setiap Parkir Harus Bayar Rp 100 Ribu

SHARE


MEUREUDU - Para sopir truk angkutan barang dari Medan-Sumut mendapat pungutan liar (pungli) saat parkir di kawasan Kota Meureudu, Pidie Jaya (Pijay). Pemkab Pijay belum menyediakan lokasi khusus untuk bongkar muat barang, sehingga para awak truk harus parkir di area terdekat dengan pemesan barang, khususnya para pedagang.
Para sopir itu tidak mengeluhkan mahalnya biaya bongkar barang, tapi karena lokasi bongkar barang itu sendiri tidak jelas. Keluhan lainnya, untuk membongkar di tempat tertentu, ada orang-orang tertentu meminta biaya parkir hingga Rp 100.000, karenanya mereka berharap perhatian dari Pemkab Pijay untuk menindak tindakan pungli itu.
Keluhan tersebut disampaikan seorang supir truk yang tidak mau namanya ditulis di Meureudu Rabu (31/7) pagi mengatakan selama ini, lokasi pembongkaran barang harus berpindah-pindah di beberapa tempat, seharusnya Pemkab Pijay menyediakan lokasi khusus, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Disebutkan, selama in, barang dibongkar di pinggiran jalan arah Keude Meureudu-Simpangtiga atau tepatnya berdampingan dengan lapangan sepakbola. Dia mengatakan selain ruas badan jalan lebar, juga tidak mengganggu arus lalu lintas, walau pada waktu-waktu tertentu, juga diminta pindah, seperti menjelang HUT-RI saat ini, bahkan pedagang di alun-alun juga diminta pindah, termasuk mobil yang pakir di jalan juga harus pindah.
Dia mengatakan truk yang hanya sebentar berhenti disitu juga tidak dibenarkan, seperti tahun-tahun sebelumnya. Lokasi lainnya yang diincar truk untuk bongkar barang di Jalan Iskandarmuda atau persisnya depan pendopo bupati, karena tidak terlalu panas, ditutupi pepohonan besar.
Tapi yang dikeluhkan sopir, setiap membongkar barang di lokasi tersebut didatangi orang yang bukan petugas parkir) dan meminta biaya parkir dan uang yang diminta lumayan besar mencapai Rp 100.000. Diakuinya, kendati alasannya sebagai bea parkir, tap itu sama sekali tak masuk akal “Masak biaya parkir setinggi itu., padahal dari Sabang hingga Merauke kita pergi, tidak ada biaya parkir setinggi itu,” timpal sang sopir dengan nada aneh, sembari meminta pemkab segera terhadap kutipan illegal itu.
Pemkab Pijay harus segera mempersiapkan lokasi truk bongkar barang secara khusus, apalagi rata-rata setiap dua hari sekali, truk dari Medan bermuatan penuh barang tujuan Pijay membongkar barang di Meureudu. Karena tak ada lokasi bongkar barang khusus, maka truk parkir di tempat tertentu, tetapi pungutan liar (pungli) menjadi persoalan utama selama ini.(ag)
SHARE