Sofyan A Djalil: Damai Aceh tidak Dicapai dalam Satu Malam

SHARE


JAKARTA - Juru runding Pemerintah Indonesia dalam proses perdamaian Aceh, Sofyan A Djalil menyatakan proses damai Aceh tidak dicapai dalam satu malam, atau proses sekali jalan.
"Karena itu, apabila ada hal-hal yang beda harus segera didialogkan," kata Sofyan A Djalil yang juga Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) saat berbicara dalam dialog memaknai perdamaian Aceh di Mes Aceh, Jakarta, Rabu (14/8/2019).
Dialog itu juga menghadirkan pembicara mantan Wagub Aceh dan Ketua SIRA Muhammad Nazar, senator Fachrul Razi, mantan komisioner Komnas HAM yang juga pengamat perdamaian Aceh Hafidz Abbas, dan Juha Christensen, komunikator dan negosiator perdamaian Aceh.
Dialog dipandu oleh Khusnul Jamil. Dialog diselenggarakan pemuda dan mahasiswa Aceh di Jakarta.
Sofyan A Djalil mengibartakan perdamaian Aceh dicapai ibarat ada dua mobil yang harus terus menerus dimaintanance dan punya bengkel.
"Ini ada tokoh-tokoh Aceh, ada DPRA, ada DPR RI asal Aceh, silakan dialog kalau ada yang berbeda," ujar Sofyan A Djalil.
Sofyan adalahbsatu-satunya menteri dalam Kabinet Presiden Joko Widodo yang terlibat langsung dalam proses perdamaian Aceh.
Sebelumya ada Hamid Awaluddin.
Sofyan A Djamil juga menyemangati generasi muda dan seluruh pihak untuk mengalirkan energi positif bagi Aceh dan menghindari konflik.
"Mari sama-sama kita alirkan energi positif. Sehingga Aceh akan jauh lebih baik ke depan," ujarnya.
Ia juga menyarankan generasi muda Aceh agar berenang di samudra luas, tidak di kolam renang kecil, sebab menimbulkan potensi gesekan.
"Tapi kalau berenang di samudra luas, persaingan berlangsung tanpa konflik," kata Sofyan yang lama menetap di masjid di Jakarta dalam rangka mempertahankan hidup.
Ia mengakui dalam proses perdamaian ada ketidakpuasan. Masalahnya terletak pada ketidakadilan, birokrasi yang tidak efektif, korupsi dan lain-lain.
Tapi menurut Sofyan, itu bukan hanya terjadi di Aceh, melainkan persoalan seluruh Indonesia. (*)
SHARE