Penulis Buku “Bahasa Indatu Ureung Aceh” Sampaikan Ini Terkait Edaran Wali Kota Wajib Berbahasa Aceh

SHARE


LHOKSUKON –Surat edaran Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, tentang penggunaan bahasa Aceh di Lingkungan Pemko Lhokseumawe setiap hari Jumat mulai berlaku hari ini, Jumat (30/8/2019).
Oleh karena itu, upacara yang diadakan pada pagi hari ini, Jumat (30/8/2019) sudah menggunakan bahasa Aceh.
Satu dari dua Penulis buku “Bahasa Indatu Nenek Moyang Ureueng Aceh” menyampaikan surat edaran tersebut adalah salah satu upaya untuk melestarikan bahasa Aceh agar tidak hilang di masyarakat.
Buku tersebut ditulis Hamdani Mulya seorang guru SMA di Lhokseumawe dan Razali Abdullah warga Lhokseumawe yang sudah banyak menulis buku sejarah.
“Ini merupakan program yang bagus dalam upaya melestarikan Bahasa Aceh sebagai salah satu ragam corak bahasa yang ada di nusantara dan dunia. Agar bahasa Aceh tidak punah seiring perkembangan zaman,” ujar Hamdani Mulya kepada Serambinews.com, Jumat (30/8/2019).
Hamdani menyebutkan, penggunaan bahasa Aceh setiap Jumat harus didukung agar bahasa Aceh tetap lestari.
Bahasa Aceh merupakan aset kekayaan budaya nasional, serupa bahasa Indonesia yang mampu mempersatukan nusantara.
“Bahasa Aceh pun memiliki peranan yang sama, mampu mempersatukan tatanan masyarakat Aceh yang harmonis. Jadi sangat disayangkan jika masih ada di kalangan anak-anak Aceh masa kini yang tidak mahir berbahasa ibu," ujar Hamdani.
Hamdani menawarkan sebuah buku yang ditulis bersama Razali Abdullah berjudul “Bahasa Indatu Nenek Moyang Ureueng Aceh” sebagai referensi untuk perkantoran, sekolah, kampus, dan sebagai penerjemah bahasa Aceh-Indonesia bagi tamu yang berkunjung ke Aceh.
“Karena buku ini dilengkapi kamus Aceh-Indonesia dan kamus Indonesia-Aceh. Sebagai buku penerjemah, penuntun berbahasa Aceh,” pungkas Hamdani. (*)
SHARE