Pemerintah Diminta Tutup Sumur Gas, Polres Larang Warga Pengeboaran Ilegal

SHARE


IDI - Warga meminta pemerintah untuk segera menutup semburan gas di Dusun Cinta Damai, Gampong Seuneubok Lapang, Kecamatan Peureulak Timur, Aceh Timur. Insiden yang telah terjadi sejak 30 Juli 2019 di sumur minyak bekas milik PT Asamera dan Polres Aceh Timur telah mengeluarkan larangan pengeboran ilegal kembali dilakukan.
"Kami berharap pemerintah segera melakukan penanganan dengan penutupan sumur sebelum terjadi dampak yang merugikan masyarakat," harap Idris Yacob, Keuchik Gampong Seunebok Lapang, Kecamatan Peureulak Timur, pada Sabtu (3/8) sore. Dia mengatakan semburan gas sudah disurvei oleh Kapolres Aceh Timur, AKBP Wahyu Kuncoro dan BPMA.
Kapolres, katanya, telah mengimbau masyarakat agar tidak lagi melakukan pengeboran minyak ilegal lagi, karena beresiko menimbulkan korban."Semburan gas akibat pengeboran minyak ilegal sudah dua kali terjadi, sehingga, Kapolres mengimbau agar kejadian serupa tidak terulang kembali," jelas Idris Yacob.
Idris mengatakan aktivitas pengeboran minyak ilegal dalam area perusahaan perkebunan sawit milik PT PPP, ini tidak diketahui pelakunya karena dilakukan secara diam-diam. Pada Jumat sore, setelah kunjungan Kapolres Aceh Timur, BPMA dan tim teknis juga mensurvei kandungan gas dari semburan.
Tidak ada kandungan gas beracun, tapi tekanan gas tidak beraturan, jadi kami sudah mengimbau warga agar tidak mendekati lokasi semburan dari radius 25 meter. Kita juga imbau warga tidak membawa benda yang berpotensi memicu kebakaran," ujar Idris.
Camat Peureulak Timur, Mukhtaruddin Yusuf juga mengharapkan pemerintah dan dinas terkait agar segera melakukan upaya penutupan. "Kita mohon secepatnya ditutup, agar tidak menimbulkan dampak bagi masyarakat dan lingkungan," pinta Mukhtaruddin.
Sementara itu, Humas Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) Aceh, Akhyar mengatakan saat ini pihaknya sedang koordinasi dengan Pemkab Aceh Timur, dan Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Aceh, untuk penanganan lanjutan terhadap semburan gas tersebut.
"BPMA dan tim teknis Medco sudah survei untuk melihat kandungan gas, tetapi setelah kita ukur tidak ada kandungan gas berbahaya," jelas Akhyar Sabtu (3/8) sore.
Semburan gas, katanya, mengandung gas hidrokarbon bersifat basah, yang banyak mengandung air, lumpur, dan garam, serta 20 persen oksigen. "Namun kita sudah mengimbau warga agar tidak mendekati semburan gas, dan tidak membawa benda yang berpotensi memicu kebakaran," jelas Akhyar.
Akhyar juga mengatakan bahwa hingga Sabtu sore semburan gas masih terjadi, namun, pihaknya sedang koordinasi dengan Pemkab Aceh Timur dan Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Aceh untuk langkah penanganan selanjutnya.
Di samping itu terus memonitor tekanan gas turun atau naik, karena dalam kasus ini bisa saja tekanan gas menurun dan berhenti sendiri. "Baik berhenti dengan sendirinya ataupun tidak tindakan akhirnya tetap akan ditutup. Namun jika dalam tekanan tinggi biaya penutupan bisa mencapai Rp 500 juta," jelas Akhyar.
Sedangkan lokasi semburan gas ini di luar wilayah kerja Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang artinya berasa dalam status wilayah terbuka yang menjadi tanggung jawab pemerintah. "Karena itu, di samping memantau tekanan gasnya, kita juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk membahas langkah penanganannya," ungkap Akhyar. (c49)
SHARE