Pelayaran ke Meulaboh Dialihkan, Dampak Cuaca Buruk dan Kekhawatiran Gagal Sandar

SHARE


MEULABOH  -  Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Teluk Sinabang yang sesuai jadwal seharusnya berlayar dari Sinabang (Simeulue) ke Meulaboh (Aceh Barat) pada Kamis (29/8) sore, dialihkan berlabuh ke Pelabuhan Labuhan Haji, Aceh Selatan. Selain dampak faktor cuaca yang masih buruk, pengalihan ini juga untuk keamanan lantaran adanya kekhawatiran bakal gagal sandar kembali jika dipaksakan merapat ke Pelabuhan Penyeberangan Meulaboh di Samatiga.
Hal itu diungkapkan Kepala UPTD Pelabuhan Penyeberangan Meulaboh di Samatiga dari Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh Barat, Romi Masri kepada Serambi, Kamis kemarin. “Kami dapat laporan dari ASDP (Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan) bahwa kapal tidak berlayar ke Meulaboh, tetapi dialihkan ke Labuhan Haji, Aceh Selatan,” kata Romi.
Romi menjelaskan, dari keterangan ADSP disebutkan bahwa pengalihan itu disebabkan faktor cuaca ke Meulaboh yang masih menjadi kendala, dan tali kapal tidak tersedia karena sudah sering sekali putus, serta kekhawatiran gagal sandar seperti yang terjadi pada Selasa pagi lalu, sehingga kapal harus berlayar kembali ke Labuhan Haji.
“Informasi kami peroleh, pengalihan ini untuk pelayaran kali ini. Tapi ke depan, kita  belum tahu,” ujarnya. “Kalau sesuai jadwal, kapal pada Jumat pagi tiba di Meulaboh, tapi karena ada pengalihan tidak jadi merapat di Samatiga,” tandas Romi sembari menginformasikan bahwa berdasarkan jadwal yang sudah disusun KMP Teluk Sinabang akan berlabuh di Meulaboh tiga kali dalam sepekan pada Selasa, Jumat, dan Minggu untuk dua bulan ke depan.
Secara terpisah, Supervisi ASDP Lintasan Meulaboh, Desrizal Marbeth yang dikonfirmasi Serambi, kemarin, juga mengakui, bahwa kapal dari Sinabang tidak berlayar ke Meulaboh pada Kamis sore, lantaran kapal tersebut dialihkan ke Labuhan Haji ekses sejumlah faktor seperti melihat kondisi laut di dermaga. “Semoga ke depan, bisa kembali normal pelayaran ke Meulaboh,” ucap Desrizal.                                                                 
Di sisi lain, Desrizal mengklarifikasi pernyataannya yang dilansir Serambi edisi Kamis (29/8) kemarin. Menurut dia, ada sedikit kekeliruan maksud dari pernyataannya bahwa ASDP menyatakan wacara pelabuhan lain bersandar adalah sebagai alternatif. “Artinya, bila sewaktu-waktu terjadi gangguan pelayaran seperti pada Selasa lalu, maka kapal bersandar ke Calang dan tidak harus ke Labuhan Haji yang sangat jauh,” ulasnya.
Namun begitu, beber dia, kewenangan terhadap pelabuhan mana digunakan sebagai pelayaran alternatif adalah kewenangan pemerintah setempat. “Pelabuhan Calang itu sebagai alternatif. Bila terjadi gagal sandar seperti Selasa lalu di Meulaboh, maka kapal kita merapat ke sana,” terang dia,
Terhadap rencana pelabuhan alternatif itu, ucap Desrizal, masih dalam wacana dan perlu duduk bersama dulu semua lembaga terkait. Sedangkan pihak ASDP, tukasnya, tetap menyatakan keberadaan breakwater (penahan ombak) perlu segera direalisasikan di Pelabuhan Samatiga sehingga pelayaran rute Sinabang-Meulaboh tetap lancar dengan tetap menjaga keselamatan penumpang, kapal, dan dermaga menjadi prioritas utama.
Pada bagian lain, Kepala UPTD Pelabuhan Penyeberangan Meulaboh di Samatiga dari Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh Barat, Romi Masri mengungkapkan, meski tidak ada jadwal pelayaran kapal dari Sinabang ke Meulaboh, namun sebagian besar supir truk memilih masih  bertahan di Pelabuhan Samatiga“Kita sudah sampaikan bahwa mereka segera menggunakan Pelabuhan Labuhan Haji karena tidak ada pelayaran ke Meulaboh, namun mereka tampaknya masih bertahan,” kata Romi.
Pun demikian, sebut dia, dari total 40 truk yang dalam 10 hari terakhir bertahan di Pelabuhan Samatiga, ternyata sebanyak 5 truk sudah meninggalkan pelabuhan dan bertolak ke Labuhan Haji, Aceh Selatan. Terhadap truk yang masih bertahan di pelabuhan, menurut Romi, pihaknya juga tidak bisa melarang. “Kita tidak bisa melarang mereka. Data yang kita peroleh bahwa mereka sudah sekitar 10 hari lebih bertahan di pelabuhan,” pungkasnya.
SHARE