Menjajal Arung Jeram Lae Kombih, Obyek Wisata Alam di Subulussalam

SHARE


SUBULUSSALAM - Kota Subulussalam boleh dikatakan memiliki kekhasan tersendiri yaitu dikelilingi oleh ribuan hektar hutan rimba.
Namun dibalik keunikan ini, Subulussalam yang mekar 2 Januari 2007 memiliki kekayaan objek wisata alam seperti sungai yang sangat menarik.
Salah satunya wisata arung jeram. Objek wisata arung jeram yang sangat potensial di Subulussalam terdapat tiga lokasi, yakni Sungai (Lae) Kombih, Lae Sarkea dan Penuntungan.
Subulussalam yang berada di perbatasan lintas yang menghubungkan Aceh-Medan ini memiliki hutan alam yang masih tersembunyi.
Jika anda melakukan perjalanan dari Medan menuju ke Subulussalam, selama di perjalanan Anda akan menikmati hamparan keindahan lereng-lereng bukit dengan beraneka ragam tumbuhan.
Selain suguhan pemandangan bukit-bukit yang menghijau, disepanjang jalan anda juga dapat menemui  sungai yang mengalir jernih.
Adalah sungai (Lae) Kombih, berada di sepanjang Kecamatan Penanggalan mulai Lae Ikan, Jontor hingga Sikelang dengan alam yang masih alami tersembunyi namun belum dikenal masyarakat di luar Subulussalam.
Padahal, menurut Nukman, aktivis pecinta lingkungan, sungai lae kombih sangat cocok menjadi wisata arung jeram.
“Paparan sungai yang sulit dan menantang menjadi ciri daya tarik tersendiri untuk menjadi lokasi wisata arung jeram. Tapi sayangnya potensi wisata arung jeram di Kota Subulussalam sepertinya belum dioptimalkan pemerintah daerah itu, karena kegiatan mengarungi sungai daerah itu belum menjadi agenda rutin tahunan,” kata Nukman Suryadi Angkat kepada Serambinews.com Kamis (29/8/2019).
Arus sungai Lae Kombih sangat mendukung dijadikan spot untuk berarung jeram, sekaligus juga dapat dikemas sebagai wahana ekowisata guna mengembangkan industri pariwisata daerah. 
Selain itu, kata Nukman, air terjun SKPC dan Pemandian Penuntungan di Kecamatan Penanggalan sebagai salah satu objek wisata unggulan di daerah ini. 
Lokasi air terjun yang berada di kawasan Satuan Kawasan Pemukiman Blok-C (SKPC) Kecamatan Penanggalan Kota Subulussalam.
Obyek wisata tersebut juga terlihat dipadati pengunjung sepanjang hari ini.
Sepulang dari rekreasi, pengunjung bisa menikmati salak pondoh milik warga transmigrasi. 
Sungai Sarkea atau Wisata Alam Indah di Desa Namo Buaya yang kini dirintis menjadi obyek wisata pemandian alam dan sangat potensi petualangan arung jeram.
Potensi lainnya, hutan cagar alam di sepanjang Lae Ikan (kedabuhen), Kecamatan Penanggalan.
Kawasan ini sangat potensial untuk dikembangkan apalagi letaknya yang sangat strategis dan dengan mudah menjadi persinggahan bagi para pelancong atau wisatawan yang melewati kawasan tersebut.
Apalagi bila di sana dibangun taman-taman, tentu keberadaan sungai di bawah jalan itu akan menambah daya tarik warga untuk sekedar duduk-duduk di alam terbuka tersebut.
Subulussalam juga mempunyai obyek wisata ziarah yang menarik. Misalnya, makam Syekh Hamzah Fansury yang terletak di Desa Oboh, Kecamatan Runding.
Bagi masyarakat Subulussalam khususnya, mereka tidak dapat meninggalkan aktivitas ritual karena bagian dari tradisi. Kedatangan mereka dianggap sebagai menunaikan nazar.
Pengunjung pemakaman itu selalu ramai terutama menjelang hari-hari besar Islam. Tidak hanya dari warga setempat, pengunjung juga berasal dari berbagai provinsi di Indonesia.
Sayangnya, kendala utama para penziarah belum tersedianya sarana jalan menuju lokasi makam kecuali lewat sungai.
Saat ini pengelolaan wisata alam ditekuni Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Kota Subulussalam dan Forum Pemuda Kecamatan Penanggalan (FORDAKEP) yakni, kelompok pemuda setempat yang selama ini telah mereka kelola dengan swadaya sendiri.
Syafi'i Berutu (25) salah seorang pemandu arung jeram dari kelompok pemuda FORDAKEP menyebutkan bahwa objek wisata yang menguji adrenalin itu sudah mulai dikenal.
Hal itu dibuktikan dengan berdatangannya para wisatawan pecinta adventure dari berbagai kota di luar daerah bahkan hingga didatangi wisatawan mancanegara.
Syafi'i bersama sejumlah pemuda lainnya pun menggeluti kegiatan arung jeram selama beberapa tahun terakhir sebagai menambah pendapatan.
Mereka kini memiliki empat unit perahu karet yang disewakan. Perahu  berkapasitas delapan orang ini disewakan Safi’i dan rekannya sebesar Rp 150 ribu per orang setiap bermain.
Dikatakan, uang sebesar Rp 150 ribu itu merupakan biaya transportasi menuju lokasi hingga konsumsi wisatawan.
Selain arung jeram, Safi’i dan para pemuda disana juga menyediakan paket rafting lainnya bagi traveler, seperti kayaking, liveaboard diving dan river tubing.
Untuk paket itu mereka jual dengan harga 10 ribu per jam untuk peralatan dan guide rescuenya.
Menurutnya, sensasi arus liar sungai Lae Kombih sangat menantang. Ada spot khusus bagi pemula dan ada spot khusus bagi yang profesional.
Nah, bagi Anda yang suka dengan adventure arus liar sungai Lae Kombih, yuk uji adrenalin anda.
Selain arung jeram, anda juga dapat melihat secara langsung salah satu jenis pohon kayu kapur yang hampir punah dan mendunia itu.
Karena lokasi arung jeramnya langsung berdekatan dengan kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Kayu Kapur Lae Kombih Kota Subulussalam.(*)
SHARE