Menelusuri Jejak Singkil Lama, Kota yang Hilang Ditelan Tsunami 1890-an

SHARE


SINGKIL - Di bawah rumpun nibung, di antara sesak pohon bakau dan onak duri, susunan bata merah, pecahan kerami dan kaca kami temukan. Itulah jejak peradaban Singkil Lama, Kota yang hilang disapu gelombang dahsyat sekitar tahun 1890-an.
Sore itu langit cerah setelah pagi hingga siang dirundung mendung. Kami berangkat naik perahu menelusuri sungai, mencari jejak peradaban masa lalu Singkil Lama, kota yang hilang.
Deretan pohon nipah, bakung dan bakau silih berganti memagari tepian sungai. Sesekali pandangan buaya, monyet dan bangau putih menghantar perjalanan.
Penelusuran jejak peradaban masa lalu itu, saya ditemani Andang, staf Bagian Pemasaran dan Promosi Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh Singkil, serta Sarifudin alias Lamo penduduk Desa Suka Makmur, sebagai pengatur haluan biduk.
Naik perahu ke Muara Singkil Lama, dari Desa Suka Makmur, butuh waktu 35 menit. Kami berangkat sore, lantaran harus menunggu Andang pulang kantor. Tak perlu risau, Andang masih hapal tanda-tanda alam di dekat reruntuhan bangunan Singkil Lama.
Ingatan itu tersimpan rapi di memorinya, ketika mengantar peneliti tsunami asal Jepang ke Singkil Lama, enam tahun silam. Sebagai lulusan sastra Jepang, Andang dipercaya mendampinginya kala itu. "Ada tanda alam di dekat bangunan Singkil Lama, yaitu pohon nibung," ujar Andang.
Dari mulut muara Singkil Lama, kami berjalan ke sebelah kiri menyusuri tepi pantai. Langkah berulang kali berhenti, ketika melihat jejak telapak hewan mencurigakan. Ada rasa cemas, maklum ada kepercayaan hutan rawa yang menjadi tujuan pencarian jejak Singkil Lama, dijaga seekor harimau. Pepohonan di lokasi juga sudah rapat dibanding enam tahun silam.
Sekitar 25 menit berjalan, pohon nibung yang menjadi pertanda alam keberadaan Singkil Lama, terlihat dari tepian pantai. "Pohon nibung ini, dulu sengaja ditanam karena batangnya banyak dimanfaatkan untuk bahan bangunan," ujar Andang memberi penjelasan.
Langkah segera mengarah ke rumpun nibung. Tak lupa doa dipanjatkan. Sayang sesak onak duri menjadi penghadang. Berbekal sebilah parang Andang membuka jalan.
Di bawah rumpun nibung, di antara sesak pohon bakau dan onak duri, susunan bata merah, pecahan keramik dan kaca kami temukan. Itulah jejak peradaban Singkil Lama, Kota yang hilang disapu gelombang dahsyat sekitar tahun 1890-an.
Lokasi itu berada di sekitar muara. Warga setempat menyebutnya muara Singkil Lama, terletak di sebelah barat Singkil, ibu kota Kabupaten Aceh Singkil. Berjalan ke bagian dalam rombongan nyamuk rawa mengepung. Tapi penemuan susunan bata tertata rapi melingkar bulat serta tembok sisa bangunan lebih menarik perhatian.
Bangunan itu merupakan sumur tua sisa kejayaan Singkil Lama. Berusia ratusan tahun namun bata merah masih terlihat kuat. Bergeser ke rumpun nibung lainnya yang makin masuk ke dalam hutan. Pecahan keramik bermotif bunga, sendok berbahan keramik dan pecahan kaca kembali ditemukan. Sisa-sisa bata merah serta pecahan keramik itu menandakan Singkil Lama, merupakan kota yang sudah berkembang.
Berpindah-pindah
Berdasarkan literature, Singkil sudah beberapa kali pindah akibat luluh lantak dihantam gempa dan gelombang tsunami, hingga ke lokasi sekarang yang dikenal dengan sebutan Singkil Baru (New Singkil).
Di peta-peta (map) lama keluaran Portugis atau Belanda, wilayah Singkil yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Aceh Singkil sudah dipakai nama New Singkel. Versi Indonesianya, itulah Singkil Baru.
Alkisah, wilayah Singkil awalnya di sekitar Gelombang sekarang. Ada juga yang menyebutnya dekat muara Berok. Didirikan raja-raja Singkil sekitar abad ke-7. Pada masa keemasannya Singkil, menjadi kota pelabuhan tempat singgah kapal saudagar dari Timur Tengah, Eropa, dan Nusantara.
Tapi setelah terjadi peristiwa geloro (semacam tsunami) sekitar pertengahan abad ke-18 berpindah ke Singkil Lama. Lokasi yang kini berada di dekat mulut muara Singkil Lama tersebut, juga dekat dengan Desa Kayu Menang, Kecamatan Kuala Baru.
Di sini, Kejayaan Singkil kembali dimulakan. Namun jelang akhir abad ke-18, geloro kembali menghancurkan kota. Akhirnya, penduduk yang tersisa pindah ke Desa Ujung, terus menyebar ke desa lain. Itulah yang kemudian menjadi landscape (bentang alam) Singkil Baru, yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Aceh Singkil.
Rumah Gadang di Desa Ujung, bukti sejarah yang tersisa lahirnya Singkil Baru. Istana itu didirikan Raja Singkil, Datuk Abdurauf, sekitar 1904 sebagai tempat tinggal bersama keluarga. "Rumah ini didirikan Datuk Abdurauf 1904, jadi usianya sudah 115 tahun," kata Abdul Razak, keturunan ketiga dari Datuk Abdurauf, raja Singkil.
Senja datang, kami memutuskan pulang kembali ke Singkil Baru, yang didirikan seratus tahun silam. Semoga berkat kemajuan ilmu pengetahuan, Singkil Baru, tak lagi hilang.
SHARE