Melihat Romantisme Atmah dan Dulmusrid, Menyusuri Sungai Sarang Buaya, Bikin Sambel Kesukaan Suami

SHARE


ACEH SINGKIL - Perempuan bertubuh ramping itu melepas sandal hitam.
Ia kemudian menentengnya dengan tangan kiri.
Petang itu perempuan bernama Atmah Dulmusrid itu harus berjalan cepat mengimbangi langkah lebar sang suaminya, Dulmusrid yang merupakan Bupati Aceh Singkil.
Keduanya berjalan menuju perahu kayu di pinggir sungai Kuala Baru.
Perahu kayu itu hanya cukup untuk duduk berdua.
Perahu menderu membelah arus sungai dengan lebar ratusan meter.
Seolah hendak melepas lelah Atmah menyenderkan badan ke pundak suami. 
Sejak matahari masih menyengat ubun-ubun ibu dari Dimas Subroto dan Nurazizah itu menemani suami menemui warga Kuala Baru.
Kuala Baru adalah kecamatan di Aceh Singkil yang hanya bisa diakses lewat jalur sungai naik perahu. 
Menelusuri sungai menuju Kecamatan Kuala Baru, Minggu (4/8/2019)
Menelusuri sungai menuju Kecamatan Kuala Baru, Minggu (4/8/2019) (SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI)
Mereka hanya berdua saja naik perahu kayu dengan penggerak mesin pemotong rumput.
Tanpa ajudan maupun rombong protokoler yang bisa menemani pejabat daerah.
Statusnya sebagai istri bupati tak menghalanginya pergi berdua bersama suami mengarungi sungai yang dikenal sebagai sarang buaya. 
Bagi Atmah, menemani suami ke Kuala Baru, merupakan kegiatan kesekian kalinya pada Minggu (4/8/2019) menjelang sore.
Sejak pagi ia telah menjalankan aktivitas padat, mulai masak untuk makan suami serta mengikuti pengajian rutin yang digelar ibu-ibu di Kecamatan Singkil.
Soal makanan, Bupati Aceh Singkil, memang lebih menyukai masakan sang istri.
"Sambal buatan istriku tiada duanya, coba saja nanti," kata Dulmusrid saat menjamu rombongan Tim Serambi Indonesia yang akan menggelar jalan santai di Pulau Banyak, Juli lalu, di pendopo bupati di Pulo Sarok, Singkil, dengan menu ikan mas bakar. 
Ucapan itu bukan omong kosong.
Saat ikan sedang dibakar di bagian belakang pendopo, Atmah sibuk mengulek cabai secara manual menggunakan tangannya.
Padahal malam itu, sudah menujukan pukul 22.00 WIB. 
Hasilnya sambal itu menjadi rebutan ketika disajikan dengan ikan bakar.
Manajer Promosi Serambi Indonesia M Jafar, bercucur keringat minta nambah sambel made in istri bupati Aceh Singkil tersebut.
Kebiasan memasak makanan juga dilakukan bila ada tamu berkunjung ke rumah pribadinya di Blok 7, Desa Sukarejo, Kecamatan Simpang Kanan.
Malah wanita kelahiran 23 Juli 1978 itu langsung menghidangkan nasi, lauk, sayuran dan mencuci piring. 
Kembali ke aktivitas Ny Atmah sore itu di Kecamatan Kula Baru yang penduduknya mayoritas nelayan.
Ketua Dekranasda Aceh Singkil, ini tidak lantas menempel suami.
Sesaat setelah turun dari perahu langsung menemui kaum perempuan, mengajaknya bersenda gurau.
"Kalau tidak ada kegiatan aku biasanya ke kebun bersama si bungsu Zizah," kata Atmah saat ditanya mengisi waktu senggang. 
Agenda yang dilakukan di Kuala Baru, pada hari libur akhir pekan itu, menyapa warga dan menemani suami takziah ke rumah almarhum Syaripudin Imum Mukim Kuala Baru serta menghadiri undangan pesta pernikahan warga. 
Bila mendapat kabar takziah ke rumah duka dan menghadiri undangan pesta merupakan agenda wajib.
Undangan ke tempat pesta biasanya dilakukan berdua saja dengan suami yang bertindak sebagai sopir saban akhir pekan.
"Kalau tidak ada suami sendiri ke undangan," ujarnya.
Hari menjelang senja, Atmah terlihat melampaikan tangan sambil pamitan mohon diri tidak bisa mampir ke perempuan yang menyapanya dari dalam rumah.
Dia harus lekas naik perahu agar tidak kemalaman, sebab sebelum pulang ke Singkil, harus singgah membeli ikan di Muara Kuala Baru, tempat nelayan menjual hasil tangkapannya. 
Setelah mendapat ikan, perahu kembali melaju.
Sayang sungai Kuala Baru, surut. Dampaknya cukup fatal, kipas perahu yang di dalamnya Serambi turut menjadi penumpang, lepas terjatuh ke dasar sungai. 
Perahu pun terombang ambing, termasuk Atmah, yang jadi penumpang perempuan satu-satunya di atas perahu.
Pencarian kipas penggerak perahu oleh nakhoda dengan terjun ke sungai tak membuahkan hasil.
Sehingga harus menunggu perahu lain melintas untuk meminta tumpangan. 
Memasuki temaram malam bala bantuan akhirnya datang.
Perahu kayu lain yang ukurannya lebih kecil milik Ma Uyung bersedia mengantar.
Perempuan 41 tahun itu bisa kembali ke Desa Kilangan, Singkil, lokasi tambatan perahu yang melayani rute perlayaran melalui jalur sungai Singkil-Kuala Baru.
"Alhamdulillah," gumanya sambil menenteng sandal melompat dari atas perahu menuju daratan.(*)
SHARE