Masyarakat Birem Bayeun Aceh Timur Dilatih Membuat Pupuk Cair dari Air Seni Sapi, Ini Caranya

SHARE


LANGSA - Dosen Fakultas Pertanian Universitas Samudra (Unsam) Langsa, Jumat (2/8/2019) mengadakan penyuluhan dan demonstrasi pemanfaatan urin sapi sebagai pupuk cair, bagi masyarakat di Desa Paya Bili, Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur.
Penyuluhan bagi masyarakat tersebut dirangkai dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi para dosen salah satu kampus berstatus negeri di Kota Langsa ini.
Ketua pelaksanaan PKM, Rozalina,S.P,M.Si, didampingi anggota, Muslimah SSi MSi dan Silvia Anzitha SP MAgr mengatakan, kegiatan PKM ini merupakan salah satu kegiatan yang didanai oleh LPPM dan PM Universitas Samudra Langsa.
Melalui seleksi proposal yang lolos dalam Program Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun 2019 sebagai bentuk kegiatan Tri dharma Perguruan Tinggi Universitas Samudra.
Menurut Rozalina, kebutuhan akan pupuk untuk meningkatkan produktivitas dengan harga pupuk yang tinggi saat ini, menjadi salah satu masalah yang dihadapi masyarakat.
Untuk itu, pemanfaatan bahan-bahan yang kurang berguna seperti limbah peternakan dan pertanian menjadi pupuk organik baik padat maupun cair yang mudah dibuat sendiri.
Secara otomatis akan menjadi peluang baru bagi masyarakat. Salah satunya adalah dengan cara memanfaatkan urin sapi yang mampu diolah sedemikian rupa menjadi pupuk cair.
Dikatakannya, tujuan dari program pemanfaatan pupuk cair ini adalah untuk memperbaiki struktur tanah lahan pertanian atau media tanam, serta memiliki kandungan unsur mikro dan makro yang lengkap meskipun sedikit.
Pupuk cair ini ramah lingkungan karena akan menjaga kelestarian lingkungan, murah dan mudah didapat juga dapat di buat sendiri, mampu menyerap dan menampung air lebih lama dibandingkan dengan pupuk kimia.
Selain itu, pupuk cair tersebut juga mampu membantu meningkatkan jumlah mikroorganisme pada media tanam, sehingga dapat menghasilkan unsur hara tanaman.
"Melalui program usulan kegiatan pengabdian ini dan berdasarkan analisis kebutuhan yang telah dilaksanakan, tim PKM mencoba menawarkan solusi terhadap permasalahan itu," sebutnya.
Dosen Fakultas Pertanian ini berharap, melalui kegiatan PKM ini tersedianya pupuk cair bagi petani dan tertanggulanginya masalah kebutuhan pupuk, terciptanya lapangan kerja sebagai penanggulangan masalah pengangguran.
"Dengan kehadiran pupuk cair ini juga untuk menjawab penggunaan organik yang dihasilkan dari urine (air seni) hewan, dan menjadikan model percontohan bagi desa lain," imbuh dosen tersebut. (*)
SHARE