Konsonan Indonesia ‘Rasa’ Arab

SHARE


Oleh : Herman RN
Sering kita membaca tulisan Ramadan dan Ramadhan di media massa. Masing- masing mengaku sudah benar dengan tulisan yang mereka buat. Media seolah memiliki kewenangan sendiri menentukan kata baku menurut versi mereka. Pembakuan yang sudah ditetapkan dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) terkesan dikesampingkan.
Lantas, kata yang mana yang mesti diikuti oleh masyarakat, versi media massa atau versi EB Media memang punya selingkung sendiri dalam mengembangkan dan mempertahankan gaya bahasa mereka. Gaya selingkung tersebut tentu saja berbeda antara media yang satu dengan media yang lain. Namun, perlu diingat bahwa gaya selingkung mestinya tidak menafikan ejaan baku tata bahasa Indonesia.
Dalam EBI, sudah ditetapkan bahwa tidak ada konsonan rangkap [dh] sehingga Ramadan mesti ditulis tanpa [dh]. Demikian pula kata wuduk, bukan wudhuk. Hal yang sama berlaku pada zuhur, ustaz atau ustazah, dan azan. Tidak benar ditulis dhuhur, ustadz atau ustadzah, adzan. Anehnya, ada media yang menulis zuhur tetapi masih memakai ustadz. Tentu saja ini gaya selingkung yang kelimpung. Tidak konsisten!
Kata lain yang acap kita temui adalah penulisan insha Allah dan insya Allah atau insyaallah. Adanya spasi atau tidak spasi mungkin dapatdikategorikan sebagai gaya selingkung. Dalam  KBBI sebelumnya, kata tersebut ditulis menggunakan spasi. KBBI terbaru membuat perubahan dengan tanpa spasi insyaallah. Hal yang menarik dikaji bukan pada spasinya, melainkan penggunaan konsonan [sh] dan [sy].
Apalagi, perkara ini sempat viral di media sosialtatkala gambar Zakir Naik, seorang dai ternama asal India, beredar dengan testimoni bahwa tulisan in shaa Allah (menggunakan sh) lebih tepat daripada tulisan insya Allah (memakai sy). Sempat pula tersebar di media sosial semacam testimoni dari penceramah Malaysia yang mendukung pernyataan Zakir Naik. Di Indonesia, ada yang pro dengan [sh], ada pula yang bersikeras harus menggunakan [sy]. Untuk kasus ini, harus dilihat siapa Zakir Naik dan ia sedang berbicara dalam bahasa apa.
Zakir Naik adalah seorang penceramah yang sering berceramah menggunaan bahasa Inggris. Ketika menyatakan in shaa Allah, Zakir Naik sedang berbahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris, sulit ditemukan konsonan rangkap [sy], tetapi sangat banyak konsonan rangkap [sh]. Beberapa kata yang menggunakan konsonan [sh] antara lain shoot (tembak), sheet (lembar), shall (akan), should (harus), share (bagikan). Artinya, nyaris tidakditemukan konsonan rangkap [sy] dalam kosa kata bahasa Inggris. Mencermati hal itu, wajar Zakir Naik mengatakan tulisan in shaa Allah lebih tepat daripada insya Allah.
Demikian pula orang Malaysia, senantiasa menganggap penggunaan [sh] yang benar karena negara itu memang bekas jajahan Inggris. Sebaliknya, dalam bahasa Indonesia banyak ditemui konsonan rangkap
sy tinimbang sh. Bahkan, boleh dikatakan tidak ada pembakuan konsonan [sh] dalam EBI. Pemakaian konsonan rangkap [sh] dalam bahasa Indonesia biasanya digunakan untuk menandai bunyi sad (*shad) dari bahasa Arab. Adapun konsonan[sy] digunakan untuk menandai bunyi syin.
Dalam tata tulis bahasa Indonesia, bunyi sad ditulis tanpa [h]. Jika dalam bahasa Arab ditulis menggunakan huruf syin, sudah pasti aksara Indonesiamenggunakan konsonan rangkap [sy], bukan [sh]. Pembakuan Tulisan Dalam tata bahasa Indonesia, pembakuan ejaan hanya dilakukan untuk bahasa tulis, tidak  untuk bahasa lisan. Bunyi sad ditulis tanpa [h] tetapi boleh diucapkan mengikuti bunyi *shad bahasa Arab. Artinya, kata salat ditulis tanpa [h] tetapi boleh dilafalkan dengan merapatkan tepi lidah dengan kedua pipi sehingga bunyi [s] terdengar agak tebal.
Berbeda dengan tata bahasa Malaysia, mereka memaksakan pembakukan bahasa lisan seiring dengan bahasa tulis sehingga kata kastam dibaca seperti tertulis dan ditulis seperti dibaca. Sama halnya ketika ada orang yang mengucapkan Allah dengan bunyi Alloh. Ketika menuliskan kata tersebut, tetap harus menggunakan vokal [a], bukan [o] sehingga menjadi Allah, bukan Alloh.
Hal ini karena dalam bahasa Arab tidak ada bunyi [o]. Keberadaan baris dalam bahasa Arab hanya membentuk bunyi [a, i, u] yang manakala berbaris tanwin dilafalkan menjadi [an, in, un]. Munculnya bunyi [o] karena lidah sebagian orang Indonesia tidak bisa mengucapkan huruf tebal dalam ejaan Arab.
Oleh karenanya, pembakukan ejaan tidak bisa dipaksakan pada bahasa lisan, tetapi tetap harus mematuhi bahasa tulis. Dalam konsep unsur serapan, konsistensi sangat diperlukan. Artinya, jika memang tidak ada konsonan rangkap [sh] dalam bahasa Indonesia, jangan dipaksakan menjadi ada. Demikian halnya untuk konsonan [dh], jika memang tidak ada mengapa harus diciptakan menjadi ada?
SHARE