Jenazah Bayi Dibawa Pulang dengan Sepmor, RS Graha Bunda Kembalikan Tagihan

SHARE


IDI - Jenazah bayi yang meninggal di RS Graha Bunda, idi dibawa pulang dengan sepeda motor (sepmor) dari Idi Rayeuk, ke kampungnya di  Gampong Mata Ie, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur dan tiba sekitar pukul 16.00 WIB pada Minggu (25/8). RS Graha Bunda telah mengembalikan tagihan biaya pengobatan bayi yang baru lahir dan meninggal dunia saat dalam perawatan.
Bayi pertama pasangan Said Ismail (28), dan Nia Rahmi (24) ini meninggal dunia di RS Graha Bunda pada Minggu (25/8) pukul 10.00 WIB, setelah dirujuk dari Puskesmas Ranto Peureulak, Sabtu (24/8) siang ke RS Graha Bunda, Idi. Sang ayah harus membawa jenazah bayinya dengan sepeda motor melintasi jalan nasional dari Idi ke Ranto Peureulak dengan jarak sekitar 30 km lebih.
Jalan dari lintas nasional ke pedalaman Ranto Peureulak dalam kondisi rusak berat, terutama ke Gampong Mata Ie masih berbatu, peninggalan eks PT Asamera.  Pakcik sang bayi, Said Abdurrahman, yang dikonfirmasi Serambi, kemarin mengatakan sudah menerima biaya pengobatan almarhum keponakannya dari RS Graha Bunda.
“Uang yang dikembalikan rumah sakit Rp 2 juta dari kami serahkan Rp 1.912.000,” jelas Said Abdurrahman. Dia menyebutkan, uang dikembalikan pihak rumah sakit setelah dirinya membuat surat keterangan kartu BPJS sementara untuk si bayi dari BPJS setempat pada Rabu (28/8).
Ayah sang bayi, Said Ismail, mengaku kecewa dengan pelayanan RS Graha Bunda,, karena proses pemulangan jenazah sempat tertunda akibat belum bayar tagihan pengobatan. “Meski sudah dipulangkan uangnya, kami tetap tidak puas, tetapi kami bukan ingin menyudutkan rumah sakit, namun berharap kejadian pilu yang menimpa saya ini tidak lagi terjadi kepada keluarga miskin lain,” ujar Said Ismail.
“Sangat menyedihkan, saya harus bawa pulang jenazah anak saya menggunakan sepeda motor yang dipangku oleh neneknya,” katanya. Dia menduga jjika dibawa pulang dengan mobil ambulans, sudah tentu dikenakan biaya lagi, padahal untuk biaya pengobatan saja tidak ada uang untuk dibayar.
Dia berharap pelayanan rumah sakit lebih baik, dan meringankan masyarakat miskin, seperti dirinya. Said Ismail mengatakan, bayi pertamanya itu dinyatakan dokter meninggal dunia pada Minggu (25/8) pagi pukul 10.00 WIB.  Bayi lahir di salah satu klinik Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur pada Sabtu (24/8) pagi pukul 10.00 WIB.
Tapi setelah melahirkan kondisi bayi kurang sehat dan kritis, lalu dirujuk ke rumah sakit Graha Bunda, dan langsung ditangani hingga rawat inap Sabtu (24/8) malam itu sampai Minggu (25/8) pagi dinyatakan meninggal dunia. Dia mengungkapkan petugas medis menagih biaya pengobatan bayi karena tidak ada kartu BPJS, sedangkan hari Minggu,itu kantor BPJS tutup.
 “Petugas medis minta bayar biaya pengobatan. Saat saya tanya berapa? Petugas medis katakan belum dihitung, lalu saya menelepon orang tua di kampong dan meminjam emasnya untuk dijual untuk bayar biaya pengobatan. Setelah terkumpul Rp 1 juta diantarkan oleh abangnya Said Abdurrahman ke rumah sakit, ujarnya.
Disebutkan, saat abangnya tiba di rumah sakit, petugas medis mengatakan biaya pengobatan Rp 2,3 juta, lalu minta kurang dan disepakati Rp 1,9 juta. Ditambahkan, pihaknya minta bantu agar bayi dapat dibawa pulang dan sisa tagihan menyusul, tetapi petugas medis tetap tidak mengizinkan dan setelah terjadi adu argument baru diizinkan jenazah bayi dibawa pulang.
Jenazah bayinya, dikebumikan pada Minggu sore itu juga.  Disebutkan, setelah sisa uang pengobatan terkumpul Rp 900 ribu lagi barulah uang tersebut dibayarkan kepada pihak rumah sakit pada Rabu (28/8). Terkait, jenazah bayinya dibawa pulang, menggunakan sepmor memang berdasarkan permintaanya sendiri.
“Bayi dibawa pulang menggunakan sepeda motor, tidak ada ditawarkan bawa dengan ambulans oleh pihak RS. Ini yang sangat menyakitkan,” ujar Said Abdurrahman.
Afrizal, Humas RS Graha Bunda mengatakan pihaknya sudah menawarkan kepada pihak keluarga pasien agar jenazah bayi dibawa menggunaka mobil ambulans. “Kami sempat tanya, apakah bayi dibawa pulang dengan menyewa ambulan, menggunakan mobil pribadi atau dengan sarana lain. Tapi ayah bayi minta jenazah bayinya dibawa pulang sendiri,” jelas Afrizal.
Terkait biaya tagihan, Afrizal, juga memberikan klarifikasi. “Tidak ada tagihan Rp 2,3 juta, tapi, Rp 1,9 juta,” ujar Afrizal.  “Karena pihak keluarga telah melengkapi persyaratan yang dibutuhkan untuk klaim biaya pengobatan ke BPJS, kami mengembalikan uangnya kepada keluarga pasien yang diserahkan langsung oleh direktur RS Graha Bunda kepada pakcik bayi (Said Abdurrahman) pada Rabu sore,” jelas Afrizal.
SHARE