Istri Pedagang Es Campur dan Selingkuhannya Nyatakan Sikap atas Vonis PN Lhoksukon

SHARE


LHOKSUKON – Batas waktu pikir-pikir bagi dua terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Aceh Utara dalam kasus pembunuhan pedagang es campur, Jajazuli Bin Ismail (34) asal Desa Ujong Kulam Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara berakhir pada Rabu (14/8/2019) sore.
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon, Aceh Utara memutuskan perkara tersebut dalam sidang pamungkas kasus tersebut di PN setempat pada 7 Agustus 2019.
Jamaliah istri korban divonis 20 tahun penjara.
Sedangkan selingkuhannya, Musliadi alias Adi (26) warga Desa Matang Manyam Kecamatan Baktiya Aceh Utara divonis dengan penjara seumur hidup.
Sesuai ketentuan Kitab Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), kedua terdakwa dan JPU memiliki waktu tujuh hari untuk menyatakan sikap; menerima putusan tersebut atau banding, sejak putusan itu dibacakan.
Keduanya sudah menjalani penahanan sekitar enam bulan setelah ditangkap polisi.
Jamaliah mulai ditangkap di Peunayong Banda Aceh pada Selasa (22/1/2019) sekira pukul 22.00 WIB.
Sedangkan Adi ditangkap, di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan Sumatera Utara, pada Selasa (22/1/2019) sekira pukul 14.00 WIB.
“Adi melalui saudaranya sudah menyampaikan kepada saya untuk menerima putusan hakim penjara seumur hidup,” ujar pengacara Musliadi bernama Taufik M Noer SH kepada Serambinews.com.
Pihak keluarga pada Lebaran Idul Adha berkunjung ke Cabang Rutan Lhoksukon, Aceh Utara untuk menjenguknya.
Hal serupa juga disampaikan Jamaliah alias Novi. Ia juga menyampaikan menerima vonis 20 tahun penjara.
“Kalau Jamaliah menyampaikan setelah proses sidang. Namun, saat itu kondisinya sedang menangis setelah mendengar putusan. Ia juga menyampaikan tidak akan mengajukan banding,” ujar Taufik.
Sementara itu Humas PN Lhoksukon Bob Rusman SH kepada Serambinews.com menyebutkan kedua terdakwa sampai berakhir masa pikir-pikir belum menyatakap sikap, artinya mereka menerima putusan tersebut.
Sedangkan JPU sudah menyatakan banding atas putusan tersebut ke panitera muda (panmud) pidana.
“Karena jaksa menyatakan banding, jadi putusan tersebut belum berkekuatan hukum tetap atau inkracht. Untuk proses selanjutnya kita akan mengajukan pertanyataan banding tersebut ke Pengadilan Tinggi bersama memori banding jika ada,” pungkas Bob Rusman.
Diberitakan sebelumnya, Jazuli ditemukan oleh istrinya tewas bersimbah darah dengan luka gorok di bagian leher, Sabtu (15/9/2018) sekira pukul 02.30 WIB, di tempat tidur dalam kamarnya.
Sebelum kejadian itu, Jamaliah mengaku tertidur dalam kamar lain saat menidurkan anaknya. Belakangan terungkap pelaku pembunuhan itu dilakukan Musliadi alias Adi (26) warga Kecamatan Baktiya Aceh Utara dan Jamaliah. (*)
SHARE