Intruksi Camat Blang Mangat untuk Mukim dan Keuchik, ‘Surat Nyan Neupeujak Buet Tiep Uroe Jumat’

SHARE


LHOKSEUMAWE – Jajaran pemerintahan di Kota Lhokseumawe, sejak Jumat (30/8/2019) hari ini, mulai memberlakukan aturan wajib berbicara dalam bahasa Aceh di kantor dan di lingkungan sekolah.
Sesuai Surat Edaran Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, aturan ini berlaku setiap hari Jumat.
Bukan hanya berbicara, bahasa Aceh juga wajib digunakan dalam surat menyurat yang bersifat internal.
Camat Blang Mangat, Ridha Fahmi, adalah salah satu jajaran Pemko Lhokseumawe yang langsung menerapkan aturan itu dalam sepucuk surat yang dikeluarkan pada Jumat, 30 Agustus 2019.
“Surat berbahasa Aceh ini merupakan surat perdana yang kami keluarkan," kata Ridha Fahmi ketika dikonfirmasi Serambinews.com.
Surat tersebut ditujukan kepada para imum mukim dan keuchik.
Isi suratnya terkait untuk meminta masyarakat di Blang Mangat mendukung edaran wali kota terkait penggunaan Bahasa Aceh tersebut.
Berikut isi lengkap surat Camat Blang Mangat, Ridha Fahmi S.STP, MSP.
Lumboi: 050/1177/2019
Sifeut: Peunteng
Lampiran: 1 (saboh) eks
Perihal: Surat Edaran Wali Kota Lhokseumawe

Peunteut, 30 Agustus 2019
Kepada Yth,
1.     Para Mukim
2.     Para Keusyik
Dalam wilayah kecamatan Blang Mangat,
masing-masing
di Tempat

Assalamualaikum Wa Rahmatullahi Wabarakatuh.
1. Tapeujak buet lagee asoe Surat Edaran Wali Kota Lhokseumawe lumboi 050/339/2019, tanggal 22 Agustus 2019 Tentang Penggunaan Bahasa Aceh di Lingkungan Pemerintah Kota Lhokseumawe.
2. Nakeuh yang peureulee kamoe peu trang nibak ureung droe neuh, lagee asoe Surat Edaran Wali Kota Lhokseumawe. Neu tulong peugah cit bak mandum warga dalam Kecamatan Blang Mangat, bahwa surat nyan neupeujak buet tiep uroe Jumat dan tamulai phon nibak uroe Jumat tanggal 30 Agustus 2019.
3. Ohnoe keuh dilee, teurimong geunaseh.

Camat Blang Mangat
Kota Lhokseumawe

Ridha Fahmi, S.STP, MSP
Pembina NIP. 19810808 200012 1 001
Tamu Disarankan Bawa Penerjemah
Sebelumnya, Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya meneken Surat Edaran yang mewajibkan komunikasi dalam bahasa Aceh di lingkungan kantor dan sekolah, khusus pada hari Jumat.
Suaidi Yahya mengatakan, surat edaran tersebut akan diedarkan ke seluruh SKPD di Lhokseumawe dan sekolah-sekolah.
Jadi setelah surat tersebut diedarkan, maka setiap hari Jumat, saat pegawai beraktivitas di kantor dan pelajar dan guru beraktivitas di sekolahnya, wajib berbahasa Aceh.
"Namun untuk tahap awal ini baru bentuk sosialisasi, belum ada sanksi untuk yang melanggar. Tapi tidak tertutup kemungkinan ke depan akan dibuat sebuah peraturan khusus terkait hal ini," katanya kepada wartawan, Minggu (25/8/2019).
Surat edaran ini akan diberlakukan di Lhokseumawe dalam upaya melestarikan bahasa daerah.
"Bahasa ibu (bahasa daerah) wajib dijaga dan dilestarikan," katanya.
Saat ditanya bagaimana bila ada tamu dari luar daerah datang ke Lhokseunawe pada hari Jumat, menurut Suaidi, hal ini masih bisa disesuaikan saja.
"Bila perlu, tamu tersebut membawa translater yang pandai bahasa Aceh," pungkas Suaidi Yahya.
Pelestarian Nilai Budaya
Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, menjelaskan, aturan penggunaan bahasa Aceh pada setiap hari Jumat, dilakukan atas dasar beberapa pertimbangan.
Di antaranya dalam rangka menguatkan dan melestarikan nilai-nilai budaya Aceh, khususnya dalam penggunaan bahasa Aceh yang semakin hari semakin berkurang, akibat pengaruh arus globalisasi serta pesatnya perkembangan kemajuan teknologi.
Hal ini berdampak pada menurunnya nilai-nilai luhur dalam kehidupan sosial budaya Aceh yang merupakan jati diri masyarakat Kota Lhokseumawe khususnya, dan Aceh pada umumnya.
Lalu, pengunaan bahasa Aceh adalah sebagai wujud penghargaan dan pelestarian budaya Aceh yang santun, ramah, bersahabat, dan bermartabat dalam bermasyarakat, yang berfungsi sebagai pilar pertahanan dari pengaruh negatif budaya luar.
Terakhir, bahasa Aceh adalah sebagai alat pemersatu masyarakat Aceh pada umumnya dan masyarakat Kota Lhoksuemawe khususnya.
Serta sebagai media komunikasi untuk membentuk karakter masyarakat di Kota Lhokseumawe dalam pergaulan global.
Surat Edaran Wali Kota Lhokseumawe nomor 050/33, sudah disebarkan kepada seluruh jajaran di Kota Lhokseumawe hingga sampai ke lembaga pendidikan dan para keuchik.
Hal itu guna membiasakan dan membudayakan penggunaan bahasa Aceh yang merupakan unsur utama kebudayaan daerah.
Menggunakan bahasa Aceh dengan lisan dan tulisan terhadap surat menyurat yang sifatnya internal diterapkan pada setiap Hari Jumat.
Lalu, menggunakan bahasa Aceh pada kegiatan belajar mengajar pendidikan bahasa, sastra, dan budaya  Aceh bagi peserta didik d isetiap jenjang dan satuan pendidikan formal dan pendidikan non formal, sesuai dengan kurikulum muatan lokal.
Serta terakhir, bagi aparatur pemerintah daerah, pimpinan dan anggota DPRK, para keuchik, imum mukim serta perangkat desa, pendidik dan peserta didik yang selain bahasa ibunya Bahasa Aceh, maka diharapkan agar dapat menyesuaikan.(*)
SHARE