Harga TBS di Subulussalam Mulai Naik, Apkasindo: Di Pabrik Capai Rp 1.130 Per Kg

SHARE


SUBULUSSALAM - Harapan para petani kelapa sawit di Kota Subulussalam agar harga tandan buah segar (TBS) membaik nampaknya mulai terwujud meskipun tidak sedrastis pada masa anjlok selama tiga tahun terakhir .
“Sekadar info kepada petani, ada perkembangan harga sawit mulai naik walaupun tidak begitu drastis,” kata Subangun Berutu Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kota Subulussalam versi Munas Jakarta kepada wartawan Selasa (27/8/2019).
Menurut Subangun, berdasarkan pantauan pihaknya di beberapa pabrik sudah mulai ada yang menaikan harga TBS. Namun sejauh ini, baru satu Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) yang menaikan harga hingga Rp 1.130 per kilogram yakni PT Global Sawit Semesta atau GSS. Sementara tiga pabrik lainnya masih berkisar Rp 1.030 dan Rp 1.040.
Ketiganya adalah PT Banhun Sempurna Lestari Rp 1.060 dan PT Budidaya Agrotamas Rp 1.030 serata PT Samudra Sawit Nabati atau SSN Rp 1.040 perkilo gram.
Dikatakan, kenaikan ini sesungguhnya belum berarti dibanding kebutuhan dan harapan petani. Apalagi saat turun harga bukan per Rp 20-100 tapi secara drastis.
Lagi pula, dari tiga PMKS yang beroperasi di Kota Subulussalam baru BSL yang diperoleh informasi kenaikan sementara dua lainnya belum ada.
Subangun menyatakan harga TBS di Subulussalam masih jauh dari ketentuan Permentan RI yang seharusnya bisa mematok hingga Rp 1.300 per kg.
Meski terjadi kenaikan para petani mengaku kalau kenaikan tersebut, masih belum menguntungkan mereka. Sebab, dengan harga sedemikian, petani hanya mendapatkan hasil yang tidak setimpal dengan biaya perawatan.
Petani, lanjut Subangun memang mulai bernapas lega dan berharap dengan perlahan harga TBS kelapa sawit tersebut terus meningkat hingga di atas Rp 1.600 per kilogram.
Hal ini karena berdasarkan rumus, harga TBS yang layak dan dianggap berada pada titik aman jika mencapai Rp 1.600 atau lebih per kilogram di level petani atau bahkan lebih.
Karenanya, Subangun meminta pihak pabrik tidak sekadar menurunkan harga sesuka hati tanpa memperhatikan nasib petani di daerah itu.
Sebelumnya, para petani kelapa sawit di Kota Subulussalam mengaku sangat resah akibat anjloknya harga TBS di sana.
Pasalnya, mayoritas masyarakat di kota hasil pemekaran dari Aceh Singkil 7 Januari 2007 itu mengandalkan komoditas kelapa sawit sebagai mata pencaharian mereka.
Karenanya, jika harga TBS tidak stabil laju perekonomian masyarakat yang berada paling selatan Aceh teguncang.
Petani pun meminta agar tim penetapan harga TBS Aceh bekerja serta Pemko Subulussalam turut proaktif manakala terjadi persoalan seperti ini.
Hal ini mengingat tidak maksimalnya kegiatan tim tersebut buktinya pabrik tetap mudah memainkan harga.Kenaikan harga menurut petani terjadi saat menjelang puasa, lebaran dan even-even tertentu.
Kondisi ini diperparah dengan guncangan nilai tukar rupiah dengan dollar yang menyebabkan kenaikan harga barang sementara hasil pertanian dna perkebunan malah anjlok. (*)
SHARE