Firasat Ita Arsita sebelum Anaknya Aris Ananda Ditemukan Meninggal Terapung di Waduk Surien

SHARE


BANDA ACEH - Ita Arsita (35) tak menyangka rasa takut berlebihan yang ia rasakan akhir-akhir ini, merupakan firasat terhadap kepergian anaknya, Aris Ananda (16) dengan cara sangat tragis.
Anak sulungnya itu ditemukan meninggal dalam kondisi terapung di waduk irigasi Krueng Neng, Gampong Surien, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Senin (12/8/2019).
Belakangan terungkap, Aris Ananda dianiaya oleh 7 orang sebayanya hingga meninggal di waduk tersebut.
Aris Ananda adalah remaja warga Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.
Sang ibu, Ita Arsita mengungkapkan, tiga hari sebelum mendengar kabar anaknya ditemukan meninggal di waduk, ia sempat dihantui rasa takut yang berlebihan.
Saat itu ia pun tidak tahu mengapa rasa takut berlebihan itu datang, terutama saat ada orang atau teman-teman datang mencari anaknya ke rumah mereka di Dusun Said Usman.
“Mungkin itu sebagai pertanda Allah akan menjemput anak saya selama-lamanya. Tiga hari sebelum anak saya meninggal, saya betul-betul takut yang saya sendiri tidak tahu kenapa saya begitu takut di saat ada orang-orang atau kawannya menanyai dia (Aris) di rumah," kata Ita.
Ia terlihat terus menagis dan menyaka air matanya saat Serambinews.com bertamu ke rumahnya, Rabu (14/8/2019).
Keuchik Gampong Jawa, Mukhlis dan Camat Kutaraja, Ari Januar, berkunjung ke rumah Idris, orang tua Aris Ananda yang meninggal Senin (12/8/2019) siang di waduk Surien, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Belakangan korban diketahui dianiaya yang berujung kematian dan 7 tersangka ditangkap dalam kasus tersebut.
Keuchik Gampong Jawa, Mukhlis dan Camat Kutaraja, Ari Januar, berkunjung ke rumah Idris, orang tua Aris Ananda yang meninggal Senin (12/8/2019) siang di waduk Surien, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Belakangan korban diketahui dianiaya yang berujung kematian dan 7 tersangka ditangkap dalam kasus tersebut. (SERAMBINEWS.COM/MISRAN ASRI)
Didampingi suami, Idris Ali, Ita mengungkapkan sepanjang sepengetahuannya anaknya itu tidak pernah bermasalah dengan orang lain.
Anak pertama dari tiga bersaudara itu tidak pernah tidur di tempat teman-temannya.
Dan paling telat pukul 23.00 WIB sudah berada di rumah.
Kalau pun tidur di luar, kata Ita, paling anaknya itu hanya tidur di balai gampong.
“Makanya waktu Bobby, teman anak saya itu bawa pulang sepeda motor Yamaha Jupiter yang dibawa oleh anak saya pada malam itu sekitar jam 12 malam, perasaan saya jadi nggak enak," kenang Ita.
Menurut Ita, saat itu Bobby mengatakan anaknya sedang pergi bersama teman-temannya untuk berfoto di Ulee Lheue.
"Tapi, perasaan saya tetap nggak enak, karena itu nggak biasa dia lakukan,” kata Ita.
Keesokan harinya, kata Ita, sekitar pukul 10.00 WIB--bertepatan dengan hari penemuan jasad Aris-- Bobby yang sebelumnya datang membawa pulang sepeda motor anaknya itu datang lagi dan menanyakan apa Aris sudah pulang.
“Saya bilang belum pulang dan saya sempat menanyakan sebenarnya dia ke mana, tapi dia langsung pergi tanpa menjawab sepatah kata pun. Lalu, setengah jam kemudian datang dua orang lainnya, juga menanyakan hal yang sama. Lalu saya bilang Aris belum pulang-pulang. Ternyata, di antara dua orang yang tanya itu satu orang adalah tersangka yang ikut menganiaya anak saya hingga meninggal,” sebut Ita.
Sebagai ibu kandung yang telah melahirkan Aris Ananda dan membesarkannya, Ita dan keluarganya sulit menerima kepergian anaknya dengan cara-cara seperti itu.
Mereka berharap ketujuh tersangka itu dapat dihukum seberat-beratnya.
“Nyawa harus dibayar nyawa, kami minta hukuman yang berat kepada semua tersangka yang membunuh anak saya,” pungkas Ita yang terus menyeka air matanya.
Kehadiran wartawan ke rumah orang tua Aris Ananda, di Gampong Jawa ikut ditemani Keuchik Gampong Jawa, Mukhlis dan Camat Kutaraja, Ari Januar.
SHARE