Cegah Radikalisme, Kemenag Aceh Bina Aktor Kerukunan Umat Beragama

SHARE


BANDA ACEH - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh melalui Sub Bagian Hukum dan Kerukunan Umat Beragama terus berikhtiar merawat kerukunan umat beragama dan mencegah radikalisme di Aceh.
Salah satu caranya dengan melakukan pembinaan deradikalisasi dan cegah radikalisasi bagi aktor pemelihara kerukunan umat beragama.
Pernyataan itu disampaikan Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Drs HM Daud Pakeh saat membuka acara pembinaan tersebut di Grand Permata Hati, Banda Aceh, Rabu (14/8/2019).
Kegiatan itu diikuti Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Aceh dan kabupaten/kota se-Aceh, tokoh pemuka agama, dan sejumlah ASN pegiat kerukunan umat beragama.
“Menjaga kebersamaan dan merawat kerukunan adalah tanggung jawab bersama, tidak boleh membiarkan pihak-pihak tertentu yang mencoba mengusik kerukunan di Aceh,  seperti masuknya paham radikal yang dapat memecahbelah sesama,” katanya.
Menurut Pakeh, kerukunan umat beragama, baik internal maupun antar umat beragama selama ini sudah sangat baik.
“Dari dulu Aceh terkenal dengan toleransi, mari kita rawat ini, juga sama sama mencegah radikalisme di Aceh," ajak Kakanwil Kemenag Aceh ini.
Lebih lanjut ia menjelaskan radikalisme merupakan suatu faham yang menginginkan perubahan secara drastis hingga titik paling akar.
Tapi dalam upayanya radikalisme tersebut melibatkan cara hingga yang paling ekstrim atau kekerasan baik secara simbolik ataupun kekerasan fisik.
Dalam tinjauan sosiologis, gejala radikalisme dapat dilihat dalam bentuk respon terhadap kondisi sosial politik maupun ekonomi yang sedang berlangsung  berbentuk penolakan dan perlawanan.
"Ketika gejala ini muncul, maka kita harus menyadarinya agar dapat diantisipasi dan tidak menjadi potensi radikalisasi yang lebih ekstrem,” terangnya.
Menurutnya, hal lain yang perlu diwaspadai adalah menguatnya sendi-sendi keyakinan tentang kebenaran yang diyakini oleh orang-orang radikal bahwa mereka lebih unggul dari yang lain.
Pakeh juga menyebutkan beberapa faktor munculnya radikalisme, seperti intoleran pada golongan yang berbeda pemahaman dengan golongan mereka,  cenderung fanatik, eksklusif, tidak segan berbuat anarkis, dan berpotensi menjadi teroris. 
Karena itu, Pakeh mengajak kepada seluruh pengurus FKUB, pegiat kerukunan umat dan para ASN dan seluruh masyarakat untuk bisa melaksanakan program siap siaga nasional menangkal radikalisme dengan upaya pemberdayaan masyarakat, peningkatan kemampuan aparatur, perlindungan dan peningkatan sarana prasarana, pengembangan kajian terorisme, dan pemetaan wilayah rawan faham radikalisme dan terorisme.
"Semua agama punya landasan untuk umatnya memelihara kedamaian dan kerukunan, tidak ada landasan apapun yang membolehkan kekerasan kepada sesama manusia. Deradikalisasi berpotensi konflik, adalah tugas kita bersama," pungkas Daud Pakeh.
Hadir pada kesempatan tersebut, Ketua FKUB Aceh,  Nasir Zalba, Kasubbag Hukum dan KUB Kanwil Kemenag Aceh, Rakhmad Mulyana dan sejumlah tamu undangan lainnya. (*)
SHARE