Ayah dan Ibunya Meninggal, Alsadri Berhenti Sekolah Demi Membantu Dua Adiknya

SHARE


SIMEULUE - TIGA bersaudara asal Desa Bunon, Kecamatan Teupah Barat, Kabupaten Simeulue, yang saat ini berstatus yatim piatu menjalani kehidupan dengan apa adanya.
Sejak ditinggal ke dua orang tua mereka untuk selama-lamanya sekitar hampir tujuh tahun lalu, mereka kini diasuh dan tinggal bersama paman mereka.
Ketiga yatim piatu itu yakni Alsadri (19) Fira (10) dan Asifita (13).
Anak-anak yang beranjak dewasa dan remaja itu, tentu akan menjalani hari-hari mereka yang berbeda dengan keluarga lainnya yang masih memiliki kedua orang tua.
Saat ini, Alsadri sudah berhenti sekolah dan memilih untuk membantu dua adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan SMP.
"Pertama ibu meninggal, setelah itu ayah sudah hampir tujuh tahun. Sekarang kerja tidak tentu, kalau cuaca bagus ke laut cari gurita," kata Alsadri saat dijumpai wartawan, Kamis (15/8/2019), bersama tim bedah rumah yang mengumpulkan donasi dari puluhan donatur melalui group WhatsApp "Kabar Simeulue".
Alsadri memilih berhenti sekolah, semata-mata membantu ke dua adiknya yang masih kecil-kecil dan juga meringankan beban keluarga pamannya.
Kenyataan itu harus ia lalui walaupun berbeda dengan anak-anak seusianya.
"Ke sekolah dikasih jajan 2.000 sama abang kalau ada uang. Ada juga gak ada uang jajan kalau ke sekolah," imbuh Asifita yang turut diiyakan si bungsu, Fira.
Anak yatim piatu asal Desa Bunon tersebut, mendapat perhatian dari pihak desa setempat, dengan mulai dibangunnya sebuah rumah layak huni untuk mereka.
Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Kechik Desa Bunon, Alinur, kepada wartawan.
Namun karena keterbatasan dana, rumah yang dibangun dengan swadaya atau gotong royong masyarakat setempat, rumah untuk anak yatim piatu itu belum rampung.
"Mulai dibangun tahun ini, dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat desa. Belum selesai karena dana tidak cukup lagi," katanya.
Oleh sebab itu, tim bedah rumah dari group WhatsApp "Kabar Simeulue" bergerak bersama untuk menggalang donasi dari para donatur di Simeulue untuk melanjutkan dan menuntaskan pembangunan rumah layak huni bagi anak yatim piatu tersebut.
"Alhamdulillah, memasuki hari ke empat donasi yang terkumpul dari puluhan donatur sudah lebih Rp 30 juta," ujar Surianto, selaku salah satu koordinator penggalangan dana.
Dana yang terkumpul itu, lanjutnya, seluruhnya diperuntukan untuk melanjutkan pembangunan rumah termasuk memberikan beasiswa selama 12 bulan untuk dua orang yang masih sekolah.
"Tadi kita sudah ke lokasi menghitung semua kebutuhan material bangunan.
Nanti dana yang tersisa kita berikan biaya hidup selama 12 bulan sebanyak Rp 1 juta per bulan.
Kita sangat berterimakasih kepada puluhan donatur yang sudah berbagi rezeki dalam program ini," imbuh Surianto.
Menangis Saat Disambangi Forkopimda
Pada bagian lain, ketiga anak yatim piatu terlihat sangat terharu hingga meneteskan air mata ketika rombongan dari Forkopimda Simeulue menyambangi mereka.
Dalam rombongan Forkopimda terdiri dari Bupati Simeulue Erli Hasim, Dandim 0115/Simeulue, Kapolres Simeulue dan dari Lanal Simeulue.
Kedatangan rombongan Forkopimda yang tidak terjadwal itu, yakni sepulang dari Kecamatan Simeulue Cut.
Selama beberapa menit singgah dan bertemu langsung dengan tiga anak yatim piatu tersebut, Bupati Simeulue berpesan agar selalu sabar dan selalu mendoakan kedua orang tuanya.
Sebelum beranjak pamit, rombongan Forkopimda menitip amplop berisi uang untuk meringankan beban mereka.
Selain itu, Bupati Simeulue Erli Hasyim, juga memberikan tali asuh selama 12 bulan sebesar Rp 500 ribu.
Lebih lanjut, Bupati Simeulue, mengapresiasi langkah tim bedah rumah dari group WhatsApp "Kabar Simeulue" yang telah membantu melanjutkan pembangunan rumah bagi mereka yang sangat membutuhkan.
Program pun diminta bupati agar berlanjut, karena masih banyak warga yang membutuhkan.(*)
SHARE