Algojo Kewalahan Cambuk Terpidana Zina di Pidie, Masing-masing 100 Kali, Ganti Rotan Enam Kali

SHARE


SIGLI - Proses cambuk terhadap terpidana zina yang dilakukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Pidie di halaman Masjid Raudhaturrahman, Kecamatan Padang Tiji, Selasa (20/8/2019) sekitar pukul 14.20 WIB.
Kedua terpidana zina itu, yakni Z (48) mantan keuchik di salah satu gampong di Kecamatan Mutiara Timur, dan yang wanita H (37) warga salah satu gampong di kecamatan yang sama.
Keduanya masing-masing disebat 100 kali.
Pantauan Serambinews.com, Selasa (20/8/2019), proses cambuk tersebut dikawal polisi dan Sapol PP dan WH Pidie.
Ratusan masyarakat dari jarak 50 meter menyaksikan proses cambuk tersebut.
Terpidana H yang berkulit putih dan hidung mancung itu lebih dahulu dinaikkan di atas panggung.
Cambuk harus dihentikan tiga kali karena wanita tersebut tidak mampu menahan sebatan rotan algojo.
Bahkan, H merintih kesakitan dengan melafadkan kalimat tauhid yang berulang kali dari mulutnya.
Petugas kesehatan kerap menanyakan kondisi wanita tinggi besar tersebut.
H juga sempat diturunkan dari mimbar karena harus diperiksa dokter.
Meski proses cambuk sempat dihentikan, namun cambuk 100 kali berhasil dijalani H.
Sementara Z mampu manahan 100 kali sebatan rotan yang dihayunkan ke tubuhnya.
Lelaki bertubuh tegap dan brewok tersebut membuat algojo kewalahan melayangkan sebat.
Bahkan, algojo harus menggantikan rotan enam kali, akibat rotan pecah saat dicambuk 100 kali secara terus menerus.
JPU menggantikan rotan yang lain yang telah disiapkan.
Proses cambuk tersebut berjalan sukses.
Terpidana zina langsung diperiksa kesehatan setelah menjalani proses sebat tersebut.
Untuk diketahui Z dan H ditangkap warga saat berduaan di rumah perempuan itu di gampong di Kecamatan Mutiara Timur.
Z bertamu ke rumah H saat suami H mencari rezeki ke Malaysia.
JPU Kejari Pidie, T Tarmizi, didamping penyidik Satpol PP dan WH Pidie, Tgk Razali SPdI, kepada Serambinews.com, Selasa (20/8/2019) mengatakan, terpidana Z dan H masing masing dicambuk 100 kali.
Hal itu sesuai dengan pasal 37 ayat (1) Qanun Nomor 6 Tahun 2014 tentang hukum jinayat yang dilanggar keduanya.
"Sesuai dengan putusan Majelis Hakim Mahkamah Syariah Sigli, kedua terpidana masing-masing divonis 100 kali cambuk," kata Tarmizi.
Dikatakan, dalam proses eksekusi terhadap terpidana Z membuat algojo tampak kewalahan menyelesaikan tugasnya di atas panggung.
Beberapa kali algojo dan terpidana harus digeser ke tengah, agar tidak tergelincir dari panggung saat rotan dilayangkan ke punggung terpidana.
" Enam kali proses eksekusi dihentikan terhadap Z, akibat rotan pecah. Ini diluar dugaan kami," jelasnya. (*)
SHARE