Rencana Pembangunan PLTA di Subulussalam Ditolak Karena Dinilai Ganggu Ekosistem Leuser

SHARE


SUBULUSSALAM - Penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di aliran Sungai Lae Souraya, Kota Subulussalam oleh konsorsium perusahaan PT Adien-Hyundai, terus bergulir.

Ketua Komppas Amri Purnama mengatakan, rencana itu perlu ditolak karena bendungan raksasa untuk pembangkit listrik ini direncanakan akan dibangun di wilayah hutan lindung dan areal Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

"Kami sepakat untuk menolak rencana ini, karena sebenarnya ini tanggungjawab semua pihak untuk menolaknya," kata Amri, Sabtu (29/6/2019).

Tanggapan serupa juga diucapkan pembina Komppas, Roni Rahendra. Menurutnya, tak ada alasan yang bisa membenarkan rencana pembangunan ini, karena berpotensi mengganggu dan merusak lingkungan hidup.

"Kami berharap pihak KSDAE dan Kementerian Lingkungan Hidup tidak mengubah zonasi untuk memuluskan rencana konyol ini. Tolong kita semua pikirkan masa depan anak cucu kita, dengan listrik yang ada saat ini saja kita sudah bisa hidup layak, tapi dengan alam yang rusak kita semua akan tamat," kata Roni.

Pihaknya, kata Roni, siap menjadi yang di depan untuk menolak bila memang rencana ini nanti direalisasikan.

"Kami tolak keras, kami menilai ini berpotensi merusak ekosistem, jadi apapun alasannya kami tetap akan bilang tidak untuk rencana ini," tegas Roni.

Sebelumnya diberitakan, PT Adein dan PT Hyundai berencana membangun PLTA di wilayah Gampong Pasir Belo, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam.

PT Adein-Hyundai juga telah memaparkan rencana itu dihadapan pemerintah daerah setempat yang berlangsung di Aula LPSE Kota Subulussalam.

Pembangkit itu rencananya akan memiliki kapasitas 125 megawatt (MW) dengan nilai investasi mencapai Rp 6 triliun lebih.
SHARE