Forum ini Kecam Pelaksanaan Liga Sepakbola U-17 Putri Tingkat Provinsi Aceh

SHARE


LHOKSEUMAWE - Forum Komunikasi Ormas dan Organisasi Kepemudaan (OKP) Pengawal Syariat Islam Kota Lhokseumawe mengecam pelaksanaan Liga Sepakbola Berjenjang Piala Menpora U-17 Putri Tingkat Provinsi Aceh. Menurut mereka, kegiatan itu bertentangan dengan Syraiat Islam dan keariafan lokal.

Kecaman itu disampaikan lewat aksi yang digelar di depan Masjid Islamic Center Lhokseumawe, Kamis (04/7/2019).

Seperti diketahui, empat klub sepakbola putri sudah ambil bagian dalam Liga Sepakbola Berjenjang Piala Menpora U-17 Putri Tingkat Provinsi Aceh. Sekolah Sepakbola (SSB) Seulanga Timur, Kota Langsa tampil menjadi juara I dalam turnamen yang berlangsung di Stadion PT Perta Arun Gas Kota Lhokseumawe, 29-30 Juni 2019.

Koordinator aksi Tgk Sulaiman Lhokweng mengatakan, penetapan tim Provinsi Aceh yang akan tampil di tingkat nasional pada September 2019, akan dilaksanakan pada 14 Juli 2019 di Stadion PT Perta Arun Gas Lhokseumawe.

“Mengingat UUD Nomor 4 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan UU Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Pemerintahan Aceh,s erta Qanun Nomor  9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat Istiadat dan Kearifan Lokal Masyarakat Aceh, kami menolak putri-putri Aceh dieksploitasi di bidang olahraga,” katanya.

Menurut dia, hal itu bertentangan dengan harkat, martabat dan marwah perempuan Aceh.

"Kami menuntut kepada pemerintah, khususnya kepada panitia kegiatan tersebut, untuk membatalkan segala bentuk yang tidak sesuai dengan Syariat Islam dan kearifan lokal masyarat Aceh," tegasnya.

Pihaknya juga menuntut Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia (BLiSPI) agar membatalkan penerimaan dan seleksi tim sepakbola U-17 Putri Aceh ke tingkat nasional.

Selian itu, dalam aksi tersebut juga menuntut pihak stadion PT Perta Arun Gas minta maaf karena telah menyediakan tempat dan izin.

"Mereka harus meminta maaf secara umum kepada seluruh umat Islam khususnya Aceh, karena telah melukai perasaan dan kearifan lokal masyarakat Aceh, dengan mengeksploitasi perempuan Aceh di bidang olahraga sepakbola," katanya.
SHARE