Bendung Karet Segera Ditambal

SHARE


BANDA ACEH - Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Provinsi Aceh akan segera menambal bendung karet yang ada di Sungai Krueng Aceh, kawasan Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Bendung karet itu mengalami kebocoran sejak tahun 2018 akibat ditabrak kayu saat musim banjir.
Bocornya bendung karet tersebut sudah beberapa kali dikeluhkan Pemerintah Kota Banda Aceh, karena kondisi itu berdampak pada menurunnya jumlah air baku PDAM Tirta Daroyuntuk disalurkan ke bak penampungan perusahaan air bersih tersebut.
“Untuk jangka pendek, kami segera memperbaiki bendung karet yang sudah bocor itu agar bisa berfungsi kembali untuk menampung air baku bagi PDAM Aceh Besar dan Banda Aceh,” kata Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera I Provinsi Aceh, Jaya Sukarno, kepada Serambi, di ruang kerjanya, Senin (1/7).
Didampingi empat stafnya, Jaya Sukarno mengatakan bendung karet Lambaro itu dibangun pada tahun 2002 lalu dan sudah beberapa kali bocor. Pada tahun 2009 sayap kiri dan kanan bendung itu sudah pernah diperbaiki. Pada 2014 dan 2015 kembali rusak dan sudah diperbaiki.
“Pada awal tahun 2018, bendung karet itu bocor lagi dan kemudian ditambal. Delapan bulan berjalan, kembali bocor oleh sebab yang sama, yaitu ditabrak kayu besar pada saat musim hujan,” Jelasnya.
Jaya Sukarno mengatakan, sambil menunggu pengganti yang baru, bendung karet itu harus ditambal segera. Karena untuk membangun bendung yang baru butuh waktu lebih dua tahun. “Kita merancang pembangunan yang lain untuk menggantikan bendung karet yang sudah berkali-kali bocor. Usulan pembangunannya baru akan diajukan pada tahun 2020 mendatang,” ujarnya.
Menurut Jaya, ada beberapa program yang telah dibuat untuk pemenuhan air baku PDAM Aceh Besar dan Banda Aceh. Untuk jangka pendek ini, katanya, adalah menambal bendung karet yang bocor. Sedang untuk jangka menengah adalah program pengambilan sumber air baku dari sungai yang ada di Kawasan Leupung dan membangun WTP di bukit Gleu Jeudah, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. “Penyalurannya nanti dilakukan secara grativasi. Diperkirakan kapasitas air yang bisa disalurkan sebanyak 400 liter/jam. Program ini sudah disetujui Menteri PUPR dan mulai dibangun tahun 2020 dan 2021,” jalas Jaya Sukarno.
Sementara Kasatker Bendungan Karet Lambaro, Yanti menjelaskan, untuk memperbaiki bendung karet itu dibutuhkan dana sekitar Rp 50 juta-Rp 100 juta. Tapi yang sulit dalam melaksanakan perbaikan bendung karet adalah mencari orang yang bisa menambalnya. Karena di Aceh belum ada orang yang ahli. “Kalau bukan yang berpengalaman, sangat sulit untuk ditambal,” tandasnya.
Harus Serius Ditangani
Wakil Ketua I DPRA, Sulaiman Abda meminta pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera I Aceh serius menangani kebocoran bendung karet yang berdampak pada menurunnya jumlah air baku bagi PDAM Tirta Daroy dan Tirta Monthala.

Laporan Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman dan Direktur PDAM Teuku Novizal Aiyub soal menyusutnya jumlah air baku, kata Sulaiman Abda, ikut mengganggu distribusi air bersih ke rumah-rumah pelanggan.
“Persoalan ini harus ditangani serius dan berkelanjutan. Pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera I Aceh bersama Dinas Pengairan Aceh, harus berkoordinasi untuk mencari solusi terbaik dari masalah ini, termasuk Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, selaku Kepala Pemerintahan di Aceh,” ujar Sulaiman Abda.
Hal senada juga diungkapkan Kadis Pengairan Aceh, Mawardi. Dia juga berharap bendung karet yang bocor bisa segera ditambal agar distribusi air bersih ke pelanggan berjalan lancar. “Penambalan bendung karet yang bocor tidak butuh waktu lama. Kami dari Dinas Pengairan Aceh akan mendukung upaya penambalan oleh pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera I Aceh,” tutupnya.
SHARE