Begini Kondisi Bayi Gizi Buruk Asal Aceh Timur, Mulanya tak Ada ASI, Lalu Diberi Air Gula

SHARE


IDI - Setelah menjalani perawatan di RSUD dr Zubir Mahmud, Aceh Timur, kondisi kesehatan Sakdiah bayi perempuan yang menderita gizi buruk (4 bulan) mulai membaik.
"Kata dokter spesialis anak Senin besok sudah bisa pulang, karena kondisi anak saya sudah mulai membaik," jelas Erlina (30) ibu Sakdiah didampingi suami Jafaruddin (50) saat ditemui Serambinews.com, di ruang perawatan anak di RSUD Zubir Mahmud, Minggu (30/6/2019) malam.
Erlina mengatakan setelah 10 hari menjalani perawatan keadaan anaknya mulai membaik seperti berat badan bertambah dari sebelumnya 2,4 kilogram kini menjadi 2,8 kg.
Namun demikian, amatan Serambi wajah bayi tampak berisi, sedangkan daging pada lengan dan kaki tampak menyusut, sehingga tampak tulang dibalut kulit.
Selain itu, Sakdiah juga tampak kesulitan bernapas dikarenakan batuk yang dialaminya, sehingga kondisi sangat menyedihkan.
Sebelumnya, anak keempat dari pasangan Jafaruddin dan Erlina ini, dirujuk dari Puskesmas Rantau Seulamat, ke RSUD dr Zubir Mahmud, Rabu 29 Juni 2019 lalu.
Mereka tercatat sebagai warga Dusun Batang Nibong, Gampong Rantau Panjang, Kecamatan Rantau Seulamat, Aceh Timur.
Selain karena saran dokter, faktor lain yang membuat Erlina dan anaknya ingin segera pulang ke rumah, karena keterbatasan biaya pendampingan selama perawatan.
Selama ini, katanya, biaya pendampingan selama anaknya dirawat dibantu oleh Dinkes Aceh Timur, dan sejumlah pihak dermawan lainnya.
Erlina mengaku mereka adalah keluarga kurang mampu. Suaminya sehari-hari bekerja sebagai nelayan.
Meski hidup sebagai keluarga kurang mampu, jelas Erlina, namun pihaknya tidak pernah mendapat program bantuan apapun dari pemerintah, seperti program keluarga harapan (PKH), atau program subsidi lainnya.
Diberi air gula
Erlina bercerita tentang awal mula gizi buruk yang diderita anaknya Sakdiah.
Saat lahir, jelas Erlina, anaknya lahir normal dengan berat 4 kg. Tapi si bayi tidak dapat diberikan ASI oleh ibunya.
Selain itu, karena keterbatasan ekonomi orang tua dengan terpaksa sang ibu memberikan Sakdiah air gula setelah usia 2 bulan.
"Seminggu setelah saya berikan air gula, kondisi Sakdiah mulai sakit-sakitan. Saya terpaksa berikan air gula, karena bayi tidak konsumsi ASI, sementara untuk beli susu kami tidak mampu,' ujar Sakdiah pilu.
Sejak mulai sakit-sakitan, sejak itu pula, badan Sakdiah terus menyusut.
Kemudian informasi Sakdiah mengalami gizi buruk diketahui oleh petugas medis, kemudian petugas medis, dan camat turun menjenguk, dan langsung merujuk Sakdiah ke RSUD dr Zubir Mahmud untuk mendapatkan perawatan intensif.
Seorang perawat bayi tersebut di rumah sakit setempat yang dikonfirmasi Serambinews.com mengatakan, si bayi kekurangan nutrisi sehingga berat badannya terus menyusut.
Selain itu, bayi belum dapat mengkonsumsi makanan pendamping karena masih usia 4 bulan
Namun demikian, sejak perawatan di rumah sakit bayi terus diberikan perawatan intensif, dan diberikan asupan gizi maksimal seperti susu dan asupan lainnya, sehingga keadaannya mulai membaik.
Erlina orang tua Sakdiah berharap anak tercintanya itu dapat hidup normal seperti anak sehat pada umumnya.
Selain itu, karena keterbatasan ekonomi, Erlina juga berharap uluran tangan pihak dermawan untuk membantu kebutuhan biaya kebutuhan dan perawatan anak-anaknya.(*)
SHARE