Temukan, Obati dan Cegah Penularan Tuberkulosis

SHARE
Oleh Said Alfin Khalilullah
PADA 1882 terjadi wabah penyakit yang menyebar di wilayah Amerika dan Eropa. Penyakit ini menyerang sistem pernafasan manusia dan banyak menyebabkan kematian. Kemudian, seorang ilmuwan yang bernama Robert Koch menemukaN penyebab dari penyakit ini adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis (M.Tb), lalu ia menamainya dengan Tuberkulosis (Tb). Sejak saat itu, setiap 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis sedunia sebagai wujud perlawanan terhadap penyebaran penyakit Tb.
Meskipun perjuangan melawan penyakit Tb sudah cukup lama dilakukan, namun sampai kini Tb masih menjadi momok penyakit infeksi yang paling mengkhawatirkan. Ini terlihat dari pernyataan Badan Kesehatan Dunia yang menyebutkan bahwa sepertiga populasi dunia telah terinfeksi Tb dengan infeksi baru terjadi satu kasus per satu detik. Indonesia diperkirakan menjadi penyumbang Tb kelima terbesar di dunia, sebuah prestasi yang sangat mengkhawatirkan. Sementara itu khusus wilayah Aceh, jumlah pasien Tb sebanyak 96,22 per 100 ribu jumlah penduduk (Dinas Kesehatan Aceh, 2011).
Akibat terus bermunculannya kasus baru Tb, dunia melakukan beberapa aksi nyata yang berkesinambungan, yaitu “Tb sebagai emergensi kesehatan global” pada 1993. Selanjutnya pada 2006 kemitraan Stop Tb mengembangkan gerakan “Rencana Global Stop Tuberkulosis” yang ditujukan untuk menyelamatkan 14 juta orang pada 2015 dari ancaman Tb. Setelah dilakukan evaluasi ternyata upaya tersebut belum bisa tercapai akibat munculnya tantangan baru yaitu meningkatnya kasus HIV dengan Tb dan Tb yang telah resisten (kebal) dengan obat atau dikenal dengan multi-drug resistant Tuberculosis (MDR-Tb).
WHO atau Badan Kesehatan Dunia melalui kongres tahunan pada Mei 2014 yang dilaksanakan di Jenewa kembali mendeklarasikan perjuangan Tb dengan “Global strategy and targets for tuberculosis prevention, care and control after 2015”. Strategi ini bertujuan untuk mengakhiri epidemic (penyebaran) TB global, dengan target mengurangi kematian Tb sebesar 95% dan memotong kasus baru sebesar 90% antara tahun 2015-2035, dan memastikan bahwa tidak ada keluarga yang dibebani dengan biaya akibat Tb.
Tak bisa dihindari
Penulis, sebagai seorang dokter yang sebelumnya pernah mengabdi di satu Puskesmas wilayah Aceh sering menjumpai kasus-kasus Tb. Para pasien Tb kebanyakan hidup dengan motivasi rendah. Saat penulis menilik lebih dalam lagi, ternyata stigma dan diskriminasi yang didapatnya dalam bermasyarakat seperti tak bisa dihindari. Masyarakat masih mempertahankan persepsi lama bahwa Tb adalah penyakit kutukan yang sangat menular.

Akibat perlakuan tersebut, mereka para penderita Tb cendrung mengurung diri dan bahkan tidak ingin berobat. Hal ini membuatnya jatuh ke dalam kondisi yang bertambah parah karena progresivitas penyakitnya akibat tidak berobat dengan teratur. Alhasil, Tb yang sebenarnya bisa disembuhkan malah semakin tidak terkontrol. Bagaimana tidak, kasus Tb yang tidak terobati dapat menjadi sumber penularan bagi orang sekitar. Pada akhirnya terjadilah lingkaran setan yang membuat kasus Tb baru terus bermunculan.
Tb adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh berbagai jenis bakteri/kuman micobacteria yang umumnya adalah Micobacteria Tb. Tb biasanya menginfeksi paru-paru, namun dapat juga menginfeksi organ tubuh lainnya seperti otak, tulang, kelenjar, ginjal dan lain-lain. Perlu di ingat bahwa, tidak selalu seseorang yang terpapar dengan bakteri Tb akan menjadi sakit. Status gizi yang rendah, para pasien Diabetes mellitus (DM) dan HIV/AIDS akan meningkatkan risiko tertular Tb karena sistem kekebalan tubuh yang rendah.
Sebenarnya untuk mengenali kasus Tb tidak begitu sulit. Beberapa gejala yang ditumbulkan oleh penyakit Tb paru yaitu: (1) batuk selama 2 minggu atau lebih yang biasanya disertai dengan dahak dan atau darah; (2) penurunan nafsu makan yang diikuti dengan menurunnya berat badan secara drastis; (3) demam tanpa sebab yang jelas lebih dari 1 bulan, dan; (4) keringat pada malam hari tanpa aktivitas.
Perlu diingat bahwa tidak selalu kondisi di atas merupakan pasien Tb atau tidak selalu keluhan tersebut di atas dialami oleh pasien Tb. Penulis sangat menyarankan jika anda menemukan seseorang baik itu keluarga, kerabat, rekan kerja dll yang memiliki gejala tersebut, segera sarankan orang tersebut ke Puskesmas atau Rumah Sakit untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut. Pemerintah melalui Puskesmas sudah sangat mempermudah para pasien Tb, dimana cukup di Puskesmas, pemeriksaan, penegakan diagnosis Tb dan pengobatan dapat dilakukan secara optimal.
Tb adalah kasus yang Insya Allah dapat sembuh jika pasien tersebut berobat secara baik dan benar. Bukti yang menyatakan bahwa Tb dapat disembuhkan tercermin dari data yang penulis temukan yaitu khusus untuk wilayah Aceh, dari 3.602 pasien Tb paru yang diobati, 89,2% dinyatakan sembuh.
Memang dibutuhkan keuletan dan motivasi yang besar untuk menjalani masa pengobatan. Tidak seperti halnya penyakiti nfeksi bakteri lainnya yang bisa diatasi dalam waktu singkat. Bakteri M.Tb sifatnya sangat kuat, sehingga dibutuhkan waktu selama 6 bulan untuk membasmi bakteri tersebut.
Jika seseorang pasien Tb sudah merasa “membaik” setelah sekitar 1 sampai 2 minggu pengobatan, pastikan bahwa pasien tersebut tetap meneruskan pengobatannya karena bakteri M.Tb masih terdapat di tubuh pasien. Justru sebaliknya, minum obat tidak teratur atau putus obat sebelum tuntas akan membuat bateri M.Tb resisten terhadap pengobatan. Hal ini dapat menimbulkan komplikasi dan membahayakan jiwa. Selain itu, pasien Tb tersebut juga berpotensi menularkan penyakitnya kepada orang orang yang sering berinteraksi dengannya seperti; orang yang tinggal serumah, kerabat dekat dll.
Terus digalakkan
Strategi melawan Tb pun terus digalakkan. Keseriusan dalam melawan Tb langsung dikoordinasi oleh pemerintah melalui Kementerian Kesehatan. Tidak main-main pemerintah mencanangkan program pengendalian Tb melalui aksi-aksi skrining (deteksi dini), edukasi dan bahkan pengobatan Tb telah dijamin oleh pemerintah secara gratis. Namun tak bisa dipungkiri, upaya ini masih harus terus dievaluasi agar dapat mengatasi permasalahan sampai ke akarnya. Masih banyak kasus Tb yang belum terdeteksi dan terjangkau oleh tenaga kesehatan. Data dari Riskesdas 2013 menyebutkan hanya 44% pasien Tb yang berobat.

Ternyata pengobatan gratis saja tidak cukup. Pengobatan Tb yang lama membuat pasien menjadi jenuh sehingga putus obat. Selain factor itu, terdapat juga permasalahan lainnya yaitu beban ekonomi yang harus ditanggungnya untuk berbobat, seperti akses transportasi ke fasilitas kesehatan yang harus ditanggungnya, belum lagi biaya makan dan lain-lain jika pasien harus di rawat inap.
Melalui tulisan ini, penulis mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersama kita terjun langsung memutuskan mata rantai penyebaran kasus Tb melalui: (1) Stop stigma dan diskriminasi terhadap pasien Tb. Penulis berkeyakinan, upaya dukungan emosional ke pasien Tb agar terus berobat sampai tuntas membuat mereka semangat berjuang untuk sembuh. Ini secara langsung mengurangi risiko penularan kepada orang lain;
(2) Ikut peduli dalam melaporkan kasus Tb di lingkungan sekitar kepada petugas kesehatan, dan; (3) Lakukan upaya pengendalian Tb dengan berbagi informasi mengenai Tb melalui media sosial yang sedang berkembang pesat saat ini. Jika hal tersebut terwujud, Insya Allah kasus Tb khusunya di Aceh akan dapat diberantas. Saat tidak ada lagi yang menyandang Tb di lingkungan kita, maka kita juga akan terhidar dari risiko penularan Tb. Bukankah ini sama-sama menguntungkan? Nah!
* dr. Said Alfin Khalilullah, Dokter pada Instalasi Gawat Darurat RS Ibu & Anak Pemerintah Aceh. Email: saidalfink@gmail.com
SHARE