Politik Raket Bak Pisang

SHARE


Oleh: Halim El Bambi*)
SESAK dada ini, mengalir air mata ini manakala melihat uang sebanyak 1,6 Triliun dikembalikan lagi ke Jakarta.
Sementara itu warga pedalaman harus berjibaku menantang maut saat menyeberang sungai untuk mengantarkan anaknya ke sekolah.
Jembatan tak terbangun,  mereka pun harus menantang maut demi sekolah.
Lalu masih ada puluhan ribu kaum dhuafa masih merintih dalam kepapaan di rumahnya yang mengenaskan.
Mereka menunggu dengan penuh linangan air mata akan uang-uang itu sekiranya mampu mengubah impian mereka memiliki gubuk yang layak.
Sebagai bagian dari sebuah partai lokal di Aceh, saya pada 2017 lalu kerap diminta turun langusng ke kampung-kampung oleh Irwandi Yusuf dan Ibu Darwati A. Gani melihat langsung dan mendata kondisi rakyat Aceh masih banyak bergelimang kemiskinan.
Rumah-rumah gubuk masih berserakan di Aceh.
Sebagian sudah kita bangun dari sumbangan pribadi suami istri penyayang anak yatim ini.
Dengan uang yang pas-pasan, kita membangun rumah dhuafa dengan anggaran di luar akal: Rp 25 juta per rumah.
Alhamdulillah amanah itu mampu kita emban.
Rumah-rumah type sederhana (2 kamar) menjadi kenyataan.
Bandingkan dengan anggaran pemerintah yang memplot 1 rumah mencapai Rp 80 juta, bagi saya uang sebanyak ini bisa saya pecah menjadi 2 rumah layak huni.
Namun, paska musibah yang mendera Irwandi Yusuf, aksi sosial membangun rumah dhuafa pun langsung terhenti.
Semuanya macet.
Saya pun kehilangan pekerjaan di beberapa tempat, akibat efek pemimpin yang sudah berganti.
Mereka mendepak saya meski saya sendiri awalnya bekerja untuk no 6 juga.
Kondisi saya pun terpuruk.
Banyak masyarakat bertanya mengapa tidak lagi melanjutkan pembangunan rumah dhuafa.
Setelah saya jelaskan sikon Aceh terkini, mereka hanya pasrah sambil mengurut dada.
Saya pribadi pun menahan beban moral karena masih banyak cita-cita yang terhenti dan semua itu menjadi mimpi.
Seandainya pemerintah memamfaatkan uang sebanyak triliunan itu dengan membangun kerjasama swakelola dengan timses-timses Irwandi - Nova, mungkin program mulia pembangunan rumah dhuafa versi swadaya bisa dilanjutkan lagi dan uang itu tak semudahnya dikembalikan ke Jakarta.
Rumah-rumah dhuafa pun terbangun.
Saya agak miris melihat rumah-rumah dhuafa yang dibangun pemerintah kualitasnya jauh dari angka anggaran yang besar.
Gradenya Rp 70-80 juta, tapi rumah yang terbangun cukup kecil dan rasanya jauh dari harapan bila dibandingkan rumah yang saya bangun dengan cara swadaya dengan anggaran minimal Rp 25 juta dan maksimal Rp 40 juta, tapi hasilnya kokoh meski dengan batako isi semen.
Tapi mau bilang apa, pemerintah lebih membangun kerja sama dengan mem-PL-kan pembangunan rumah miskin ke perusahaan yang mereka kenal.
Sementara itu, relawan/timses Irwandi - Nova hanya bisa melongo dan meratapi nasib menjadi pengangguran abadi.
Mereka pun kini --termasuk saya--bekerja serabutan demi bertahan dari kejamnya politik raket bak pisang.
SHARE