Setelah 15 Tahun Telantar, Sawah Cetak Baru di Bandardua, Pijay Siap Berfungsi Jadi Lahan Produktif

SHARE

Meureudu - Sekitar 20 hektare lahan sawah milik 35 petani di Gampong Gahru Kecamatan Bandardua, Pidie Jaya yang baru saja usai dicetak akhir tahun 2018 lalu, kini mulai difungsikan.

Untuk pertama kalinya, yang diusahakan pada lahan tersebut adalah komoditi padi.

Kadis Pertanian dan Pangan (Kadistanpang) Pijay, drh Muzakkir Muhammad didampingi Kasi Lahan dan Irigasi, Teuku Ismail serta Kasi Usaha Tani dan Mekanisasi, Syarif, Senin (28/1/2019) mengamati kondisi tanaman padi yang baru saja selesai ditanami.

Lahan tersebut, kata Muzakkir, sebelumnya atau sudah lebih 15 tahun ditelantarkan masyarakat sehingga ditumbuhi semak belukar.

Penyebab utama karena ketiadaan sumber air untuk mengairi lahan.

Menyusul turunnya Tim Pansus DPRK Pijay bersama Kadistan dan Kadis PU pertengahan tahun 2016 lalu ke wilayah tersebut, lalu warga melaporkan persoalan sawah yang sudah sekian lama ditelantarkan.

Bak gayung bersambut, kala itu Tim Pansus pun langsung meresponsnya.

Beberapa waktu kemudian, lanjut Kadistanpang, ia bersama Kadis PU menyepakati untuk kembali memanfaatkan lahan tersebut.

Kesimpulannya, Dinas Pertanian harus mengupayakan sawah yang sudah “menghutan” itu dibenahi kembali (dicetak).

Sementara Dinas PU mengupayakan sarana pendukung terutama menyangkut dengan air.

Penanganan kedua persoalan dimaksud dilakukan tahun anggaran 2018 lalu.

Pekerjaan cetak sawah baru, lanjut Kadistanpang menelan dana Rp 3,5 juta per hektare atau Rp 70 juta untuk luas 20 hektare.

Sementara bendungan irigasi, kata Kadis PU Pijay, Bahrum Bakti ST menjawab Serambinews.com menghabiskan anggaran Rp 4,2 miliar.

Kini lahan seluas 20 hektare selesai dijadikan sawah baru dan sebuah bendungan irigasi dilengkapi dengan jaringan atau saluran juga hadir di sana.

Khaidir dan Tgk Ridwan, dua dari sekian petani mengaku lega dengan rampungnya cetak sawah baru yang sudah hampir 18 tahun ditelantarkan.

Pun begitu, keduanya juga menghendaki agar lahan sekitarnya yang tersisa kurang lebih lima hektare lain juga dicetak.

Apalagi, dari segi air lebih dari mencukupi. “Kami berharap pemerintah mencetak lagi lahan yang tersisas sekitar lima hektare,” pinta Khaidir yang juga kini diangkat jadi kejruen blang setempat.

Pada hari tersebut, dengan menyembelih beberapa ekor kambing, petani setempat juga melaksanakan kenduri top blang (selesai tanam).

Kegiatan seperti itu, memang sudah menjadi kebiasaan atau tradisi bagi petani. Tak hanya di Gahru, tapi juga petani lainnya di sejumlah kecamatan di sana.
SHARE